Showing posts with label books. Show all posts
Showing posts with label books. Show all posts

Sunday, October 28, 2012

antara Senja, Sukab dan Alina

pict from here
Maka, seperti inikah senja yang kau kirim pada Alina, Sukab? Senja jingga pada pantai yang airnya seperti lelehan tembaga. Dengan nyiur, pasir, burung berkepak dan langit yang ungu.
Ataukah ini lebih mirip senja yang engkau potong dari dunia dibalik gorong-gorong? Yang kemudian kau pakai untuk mengganti senja yang hilang dan dengan gempar setengah mati dicari orang-orang?

Kata Alina, dunia ini fana Sukab, sejatinya sama seperti senja. Tak peduli sebagus apapun ia, kepastiannya adalah selesai dan menjadi malam dengan kejam. Tidak peduli sekeemas-emas apapun ia, takdirnya adalah menuju keremangan dan berakhir pada kegelapan. Karena segala sesuatu di dunia ini pasti berakhir, Sukab. Segala sesuatu berubah. Perasaan juga sama.


-semacam kerasukan sepotong senja untuk pacarku
dini hari minggu,  02:41

Sunday, April 15, 2012

i love meeting people

me, either! :D

-life traveler halaman satu lima dua-

Wednesday, February 23, 2011

hai, miiko!



pertama kali aku tahu miiko dari iven. temen sebangkuku waktu SMP sebelum tsunami di aceh dulu. dari awal baca aku udah suka. ceritanya kocak tapi selalu kaya dengan pemaknaan tentang cinta, persahabatan juga nilai-nilai kekeluargaan.

ini bukan bercanda jika kubilang aku sangat mirip dia. miiko, si periang yang tidak tumbuh-tumbuh itu. bahkan pacar pertamaku waktu smp dulu memanggilku miiko. (iya,iyaa.. aku mengaku bahwa dulu aku memang sempat pacaran dengan orang itu big grin.)

yang jelas, miiko satu-satunya bacaan yang bisa membuatku menangis sambil terpingkal-pingkal.
aku paham betul bagaimana rasanya menjadi seorang kakak untuk seorang adik laki-laki yang tidak terpaut jauh yg bahkan tidak sudi menyebutmu kakak karena kau dianggap tidak layak. yah.. disamping alasan selisih bulan yang memang juga tidak seberapa. aku tau rasanya tersisih menjadi anak pertama, bagaimana rasanya harus berebut perhatian orang tua dengan dua adikmu ketika kau bahkan baru sampai di awal belasan.

dulu aku punya tio dan miiko punya mamoru. saat umurku 6 tahun aku punya fitri, dan miiko mendapatkan momo di kelas 5 sd.
singkat kata, kami sama2 punya adik laki-laki dan perempuan yang sebenarnya sangat kami sayangi. hanya saja memang tidak mudah untuk rela berbagi perhatian disaat kau juga menginginkan.

sewaktu packing untuk pulang kemarin, aku menemukan lagi beberapa buku miiko yang kupunya. kemudian merampok dua buku miiko punya azka.
menyenangkan rasanya bisa membaca miiko lagi. bisa terpingkal-pingkal sambil menangis lagi. seperti reuni dengan perasaan-perasaan yang nyaris selalu ada di jaman-jaman dulu itu.
sewaktu aku, tio, dan fitri masih satu rumah. ketika aku dan tio masih sering bertengkar dan membuat para tetangga terganggu kenyamanannya. big hug
saat2 mengurung diri di kamar dan ingin kabur dari rumah karena merasa adik2ku lebih disayang mama papa.

di salah satu cerita, ada testimoni dari pak guru di raport miiko. tentang dia, yang sangat periang dan selalu menghabiskan waktu bersama teman-teman dengan senang.
aku langsung rindu pada rutinitas masa kecil dulu. berburu buah cimplu'an untuk rasa asam yg menyenangkan. bermain sepeda sampai pinggir hutan, berbonceng tiga. mengais buah asam yang jatuh ke tanah di jalan menuju TPA. juga kekeraskepalaan tidak mau menyentuh "buah-makanan-ular" yang dengan riang dimakan teman2. pikirku waktu itu, "buah makanan ular" kok dimakan? haha.. polos bodoh sekaliii.. Rolling

aku jadi ingat testimoni-testimoni di hari terakhir ngaji sebelum roling kelompok tempo hari. rata-rata menyisipkan kata polos (lemot, kalo bahasa tika Unsure), ceria dan apa adanya. ahaa.. aku tidak selalu seperti ini di hadapan teman-temanku yang lain. tapi memang keluarga yang satu inilah tempatku bisa menunjukkan sebebas-bebasnya aku tanpa perlu merasa takut dinilai.

dan memang seperti itulah miiko. polos, ceria dan apa adanya. yang manis dan bersemangat. yang suka berteman dengan semua orang. yang ceplas-ceplos kalau bicara. yang selalu diejek pendek oleh tappei. yang sering bingung sama perasaannya. yang enggak pernah sadar kalo yoshida suka dia. yang lebih senang mengabaikan hal-hal kecil yg tidak jelas dan memusingkan daripada membuang waktu memikirkan. yang suka makan kue dan es krim. yang lebih pintar baking dibanding cooking.

terkadang aku masih saja heran bagaimana bisa ada dua orang yang punya banyak kesamaan jauh sebelum mereka saling kenal.
tapi satu hal yang tidak bisa dibantah. ada tembok tak teruntuhkan antara aku dan miiko.

bahwa aku bertumbuh dan miiko tidak.
selepas smp aku harus sma, kuliah, kerja bahkan menikah sedangkan miiko bisa saja sd selamanya.
bahwa aku bertemu orang-orang baru, berbeda dengan miiko yang hanya menghabiskan waktu dengan orang yang itu itu. dan sementara miiko tetap beredar diantara sekolah, kolam renang, rumah mari-chan, toko kue enak di seputaran stasiun dan bermain ayunan di taman, aku sudah menapak di banyak tempat dan bukan lagi lapangan luas tempatku bisa bermain hujan dengan bebas. bersusah payah melewati perpisahan2 itu dgn perasaan kebas.
menghabiskan waktu di "pojok melupakan", sebuah lorong buntu dekat kelasku di sma dulu, tempatku biasa memandangi awan ketika rindu dengan teman2 smp sudah tidak lagi tertahankan. mengutuki keadaan dan menjadi seorang introvert yg anti sosial dengan perlahan-lahan. yang untungnya hal ini tidak berlangsung berkepanjangan.

ah, aku rindu merasakan jadi miiko sekarang.

04.21 di kamar 14 mahendra bayu
bersama lapar, dingin dan adzan subuh
semangat hari rabu !

Sunday, January 25, 2009

1 earth 1 heart

Hari ini aku baca buku bagus. Judulnya "catatan harian anak sarajevo".

Buku ini merupakan catatan harian nadja halilbegon0vich. Bener2 buku luarbiasa yang bikin aku merinding sejak baca bagian belakangnya.

Anak2 berjuang mencari kebahagiaan ditengah peperangan. Berusaha mengabaikan takut yang senantiasa menggr0g0ti mereka.

Huft..

Aku jadi ingat, waktu aku masi ngungsi pasca tsunami (yg syukurnya cuma 3hari). Belum pernah aku ngerasa setakut itu.

Aku selalu ingin tidur, karna hanya dalam ketaksadaranlah takut itu tak kurasakan. Ketakutan. Benar2 menyebalkan dan tak nyaman.
Tapi terkadang, menutup mata itupun sulit karena aku selalu merasa ada gempa. Selalu waswas jika malam mulai datang, menanti papa yang tak kunjung pulang.

Yah, aku tau. Ketakutan semacam ini memang tak bisa disamakan. Tapi nyatanya saat itu aku benar2 ketakutan.

Aku ga bisa ngebayangin gimana rasanya berada di daerah perang. Ketika suara ledakan2 b0m terus berdentum disekelilingku. Tak ada listrik, tak ada makanan, tak ada air, tak ada sek0la, tak ada canda, tak ada teman2, tak ada apapun. Bahkan untuk keluar rumah saja tak bisa.
Hanya suara2 dari radiolah yang menandakan bahwa k0ta belum mati.

Ketika ar0ma kematian mengharumi seluruh penjuru k0ta dan harga kebebasan menjadi sangat mahal.

Ketika hak asasi menjadi sesuatu yang tak dikenali dan tiap pasang mata anak2 mengandung sebuah pertanyaan abadi yang sama. Mengapa??

Ketika aku melihat wajahku diwajah semua orang yang kutemui. Pucat. Ketakutan.

Aku sepenuhnya sadar. Bahwa tragedi semacam ini tengah terjadi di palestin sana.
Aku tau, saat ini terdapat bnyak sekali anak2 bermata sedih dan bermuka pucat, ketakutan dan terkepung dalam peperangan. Terjebak dalam b0m2 curah yang menghujani tanah2 pijakan mereka siangmalam.
Dan entah kenapa aku merasa yakin bahwa perang belum berakhir. Aku sudah banyak belajar lewat buku2 sejarah tentang watak para penjajah. Mereka tak kenal kalah. Bagi mereka dipl0masi itu basi dan cuma bikin rugi. Sudah jadi tabiat mereka untuk melanggar janji. Mereka ga akan berhenti hingga mendapatkan apa yang mereka ingini.

Huft.
Aku ga tau apakah mereka merasa senang ketika menembak dan membunuh?
Apakah mereka merasa sedih akan orang2 yang mereka bunuh dan k0ta2 yang mereka hancurkan?
Apakah mereka meneteskan airmata ketika melihat seorang wanita tua berduka atas kematian cucunya?Apakah mereka merasa menyesal atas anak2 bermata sedih yang ketakutan, dan tetes2 darah yang tertumpah?
Hmfh..

Aku hanya berharap, sem0ga saudara2ku yang terdzalimi tidak punya pikiran seperti nadja yang merasa bahwa seisi dunia tidak peduli.
Aku ingin mereka tau bahwa sebenernya aku peduli. Hanya saja aku tak berdaya disini, sesuatu yang sangat kubenci.
Aku ingin mereka tau bahwa akupun risih bisa menjalani hari seperti biasa, dengan ceria dan bahagia sementara aku sangat2 tau bahwa banyak saudaraku disana menjalani hidup yang samasekali berbeda.

Dan pertanyaan abadi itu mendatangiku lagi.

MENGAPA??

Tak bisakah manusia hidup damai dan rukun2 saja. Saling bert0leransi tanpa perlu mempermasalahkan suku, agama, keturunan, ras, warna kulit, warna mata, warna rambut, bentuk wajah, isi kepala.

Sudah saatnya perbedaan menjadi sesuatu yang menyatukan kita. Karena disamping segala macam perbedaan2 itu kita punya 1hal yang sama. Dan ini yang terpenting.

Bahwa kita manusia dan tinggal dibumi yang sama.

1 earth 1 heart
UA-111698304-1