Showing posts with label muntahan pikiran. Show all posts
Showing posts with label muntahan pikiran. Show all posts

Tuesday, August 28, 2012

All Those Love Letters

Saya membacai lagi postingan-postingan saya dulu bi. Semua catatan-catatan dari kompensasi rindu yang selalu dan memang selalu hanya mampu saya tulisi untuk sekedar berakhir di sini. Lalu saya ingat bahwa saat ini, belakangan-belakangan ini saya juga sering menulisi tentang rasa rindu yang sama. Menulisi mabuknya saya. Iya, perasaan jatuh tapi terbang itu.

Kemarin malam, Ayam memberikan saya sebuah pernyataan yang membuat saya merasa perlu mencari jawaban. Mencari alasan. Sebuah latar belakang.

Bahwa saya belum pernah sesayang ini pada seseorang.

Benar.
Yang dilontarkannya itu pernyataan tapi entah kenapa lidah saya tahu-tahu menyahut benar. Lantas hati saya meminta jawaban. Kenapa?

Malam ini, pada pukul satu di dini hari, jawaban itu ketemu, bi.

Sebab selama ini, kerinduan saya hanya bisa terpendam. Catatan-catatan cinta saya itu cuma sekedar diketik untuk kemudian terlupakan lalu dibaca lagi kapan-kapan, dan itu pun oleh saya. Namanya kompensasi.

Tapi pada dia bi, segalanya tersampaikan.

Dan terbalaskan.
Entah mungkin setara atau juga berat sebelah, tapi setidak-tidaknya terbalas. Tidak ada kan takaran untuk rasa sayang?  Seperti halnya pernyataan hati tidak memilih dalam perahu kertas, hati saya yang jatuh di atas hatinya itu pun bertahan karena terbalas.

Lantas tidak mampu lepas.



Maka, semoga kita bisa saling menjaga, ya.
Sama-sama belajar caranya menjaga.
Tapi kalau pun akhirnya terlepas, semuanya hanya akan kacau sejenak,
then everything gonna be alright :)).
kan?

Sunday, June 17, 2012

-


rumah itu semestinya sanctuary, kenapa malah melukai?

Sunday, May 13, 2012

bekas jejak



Seberapa dalam seseorang bisa meninggalkan bekas ke orang lain?

Saya enggak paham waktu menyaksikan sendiri reaksi seorang tetangga saya ketika tiba-tiba berhubungan kembali dengan salah satu mantannya. Salah satu mantannya yang paling berbekas sampai sekarang itu tiba-tiba mengajak ia ketemuan di saat ia jelas-jelas baru saja jadian dan baru berhasil memulai langkah untuk melupakan. Saya heran. Bagaimana bisa seseorang yang sudah jelas-jelas menyakiti dengan sebegitu brengseknya masih berkemampuan memberi efek sedemikian rupa. Tetangga saya itu histeris. Dengan cara yang membuat saya berpikir betapa ini tragis. Ironis.

Matanya berkaca-kaca, mulutnya tidak bisa berkata-kata. Speechless. Jadi karena waktu itu saya dan dia sedang berada di tempat umum, dia cuma bisa menjerit dengan mulut terkatup.

Tentang pertanyaan saya yang membuka tulisan ini. Tetangga saya itu juga tidak tahu. Cuma 3 bulan dan menurut saya lebih dari separuhnya adalah kesakitan. Sejak awal saya percaya bahwa pacaran itu sebagian besar egoisme, dan mereka menjalani hubungan yang (saya nilai) hampir seluruhnya egoisme. Tidak boleh ini tidak boleh itu, harus begini harus begitu dan kebanyakan semua itu dilakukan atas nama rasa sayang. Sekali lagi saya katakan, saya tidak paham.

Saya bingung pada kata sayang yang diumbar-umbar. Bagaimana cemburu itu sebenarnya bisa menyakiti tapi diatas dasarkan pada rasa sayang. Saya ingat suatu malam seseorang melempar kata-kata jahat kepada saya dibawah pengaruh rasa cemburunya, dan kata teman saya, cemburu itu ada karena sayang. Ini yang saya tidak dapat terima. Kenapa rasa sayang dibawa-bawa?

Yang saya tahu, baik untuk yang menyayangi ataupun yang disayangi rasa sayang tidak seharusnya menyakiti,

sebab rasa sayang yang bikin sakit itu bullshit.

Wednesday, April 25, 2012

menyayangi yang bikin sakit

kamu pernah denger istilah ini bi? menyayangi yang bikin sakit. dulu aku pernah ada di titik itu bi, menyayangi tapi efeknya bikin sakit diri sendiri. kalo kamu mau tau, sini aku jelasin itu jenis menyayangi yang macam apa.

menyayangi yang bikin sakit itu bi, adalah ketika kamu sayang sama orang tapi minta disayang balik. ketika kamu bilang "aku sayang kamu" tapi berharap orang itu bakal balas "iya, aku juga sayang kamu". ketika kamu selalu berusaha ngelakuin yang terbaik buat seseorang dengan alasan kamu sayang dia dan berharap seseorang itu juga bakal ngelakuin hal yang sama.

ketika kamu menyayangi seseorang terlalu banyak,
dan tidak mau melepas.

intinya, menyayangi yang bikin sakit itu sebenernya bukan sayang beneran, bi, tapi cuma ngaku-ngaku doang. tiga contoh pertama itu namanya pamrih, satu sisanya aku sebut egoisme.
kamu tau kenapa aku bisa keliatan tau banyak soal itu, aku belajar dari pengalaman bi. aku memperhatikan. kan udah kubilang aku pernah.
dan kamu tau darimana aku bisa bilang bahwa menyayangi yang bikin sakit itu sebenernya bukan sayang beneran? karena menyayangi seseorang itu seharusnya membahagiakan.

sebab disayangi seseorang juga rasanya membahagiakan.
tadinya aku pikir rasa sayang itu sederhana. tapi ternyata bisa complicated juga. jadi, sini aku jelasin sayang beneran  menurut aku itu yang macam apa.

kayak yang tadi aku bilang, menyayangi itu nggak seharusnya bikin sakit. menyayangi itu harusnya membahagiakan, karena itu jenis perasaan dimana kita selalu pengen membahagiakan seseorang. menyayangi yang sebenarnya itu ialah ketika kita ngelakuin yang terbaik untuk seseorang bukan karena kita percaya orang itu bakal ngelakuin hal yang sama, tapi karena memang itulah hal semampu kita yang bisa kita lakuin untuk bikin orang yang kita sayang bahagia. bukan pamrih, tapi tulus. bukan menahan, tapi kadang-kadang juga berarti melepaskan. bukan egoisme.

menyayangi yang sebenarnya, ya yang secukupnya.
yang tidak membunuh.

karena too much love will kill you.

pikiran yang harus dimuntahkan setelah deep talking larut malam yang melelahkan.
selamat malam. semoga hari esok menyenangkan :)


Wednesday, March 28, 2012

semacam random posting

Saya punya kalimat andalan setiap kali papa memasang muka galak dan siap menyeret saya ke dokter. Ini bukan saja cerita kala kecil karena bahkan ketika saya sudah SMA pun, masih selalu ada adegan peluk dinding karena papa menarik-narik tangan saya untuk ke dokter atau minum obat. Ibu saya bahkan sering berkomentar bahwa saya seperti dikasih racun kalau disuruh minum obat. Tidak saya tangkis karena bagi saya obat itu memang racun. Itulah kenapa saya kerap berpura-pura sehat ketika sakit, manahan-nahan batuk dan berkeras masuk sekolah meski sedang demam. Bisa dibayangkan betapa tersiksanya?

Hari ini tiba-tiba saya menghidupkan kalimat itu lagi. Sama persis, hanya huruf r yang diganti p dan sasaran yang berbeda, kali ini pada Zahra.
enggak kok, ra. udah sembuh.

Saya ingat, beberapa kali sewaktu saya dipaksa guru dan teman-teman sekolah untuk menelpon papa agar menjemput saya karena kondisi badan yang sudah drop dan tidak dapat lagi dipaksa. Saya menangis di mobil dan membuat papa kebingungan. Saya juga tidak tahu kenapa saya menangis waktu itu. Saya cuma menangis ketika ditanya kenapa. Mungkin saya takut dibawa ke dokter, penyamaran "pura-pura sehat" saya sudah terbongkar. Atau mungkin saya juga sudah capek pura-pura.

Ternyata bisa seperti itu ya rasanya tidak berdaya.

Entah kapan kemarin saya dikunci Zahra dan Yusan di dalam kamar. Mereka berdua berkeras menyiram luka tersayat karang di kaki saya dengan revanol. Oke, menyiram mungkin bukan padanan yang tepat. Mereka cuma mau memberi penanganan lebih lanjut karena kaki saya ternyata membengkak akibat luka. Adegan penyekapan itu terjadi hanya karena mereka benar-benar baik dan perhatian sedangkan saya terlalu penakut dan keras kepala. Saya dikunci di kamar Zahra lalu kunci itu dilempar entah kemana.
Dan tiba-tiba saya sudah menangis. Saya merasa sendirian lagi melawan obat-obat itu. Sendirian melawan Yusan dan Zahra, melawan orang-orang yang memaksa saya menerima apa yang tidak saya suka.

Lagi-lagi seperti itu rasanya tidak berdaya.

Tapi kemudian saya dipeluk. Benar, seharusnya saya dipeluk saja karena dipeluk itu juga merupakan obat.
Itu saat saya tahu bahwa saya tidak sendirian dan orang-orang ini bukan orang jahat. Dan yang terjadi berikutnya ialah mereka ribut mencari-cari kunci, pintu dibuka lalu saya cepat-cepat kabur ke kamar sendiri. Mengadu pada Angga sementara Yusan dan Zahra pasti sedang bingung kenapa saya bisa menangis gara-gara revanol. Saya jadi merasa cengeng dan bodoh. Memang bego!

Tapi lalu tiba-tiba Angga datang bawa es krim. Saya pergi ke kamar Zahra dan berbagi es krim itu bertiga, lalu saya bilang saya mau dikasih revanol. Maka begitulah, saya menelungkup di lantai menjilati eskrim sementara Zahra mengobati luka saya dengan revanol.

Sekarang, saya seperti bisa melihat seperti apa saya waktu sakit dulu. Menyedihkan dan sendirian. Saya cuma punya dinding untuk dipeluk ketika akan diseret ke dokter, jadi pembohong dengan membuang obat ke tempat sampah lalu berkata sudah ketika mama bertanya "udah diminum obatnya?", tetap masuk sekolah padahal maunya saya tiduran di kamar dan disuapi bubur ayam.

Suatu kali, kepada Yusan, Zahra pernah bilang bahwa sakit itu nggak enak apalagi sendirian, tapi saya dulu sendirian di dalam sakit.

Lantas inti dari tulisan ini apa?
Saya juga enggak tau tapi tiba-tiba saya ingin berterima kasih pada seseorang yang entah kenapa saya melihatnya seperti dinding: tempat saya bergantung dan berlindung sementara orang-orang berusaha keras menyeret saya ke dokter itu, tempat saya diam-diam mengadu betapa bencinya saya dipaksa pakai obat.
Tetangga yang entah bagaimana bisa datang-datang membawakan es krim sementara orang-orang memaksa mengoles luka saya dengan alkohol dan betadin.

Ah, dan dia juga kebetulan menjadi 21 hari ini. Jadi terima kasih dan selamat ulang tahun, ya Angga. Semoga kamu selalu bahagia.

Selamat bertambah dewasa. :)


Sunday, March 18, 2012

just move


Aku memberitahukan pada dua orang temanku bahwa airmata itu ternyata hangat. Salah satu dari mereka bilang bahwa yang jelas air mata itu asin. Yang satu lagi malah tidak percaya.

Sejujurnya, aku juga baru tahu kalau ternyata airmata hangat. Hari ketika terasa ada yang retak dan yang bisa kulakukan cuma menggeletak. Memutar lagu Better That We Break-Maroon5 keras-keras, lalu lumpuh dengan kepala kosong.




Tapi itu hari yang lalu.
Titik ketika apa yang pernah melintas di pikiranku dulu ditagih. Pada diriku sendiri, aku pernah bilang bahwa aku mungkin akan berhenti ketika waktunya tiba, dan sekarang waktunya. Sejujurnya ini yang paling membuat patah. Aku merencanakan menyukai orang itu paling tidak untuk dua belas bulan kedepan. Hanya suka saja, diam-diam, tersimpan, lalu sudah. Kenyataan bahwa semuanya harus dicut tiba-tiba dan bahkan dengan paksa pula ternyata melumpuhkan, atau ternyata perasaan itu tumbuh  diam-diam melebihi apa yang selama ini kuperkirakan.

Kak Nadia menghiburku, bilang bahwa aku tidak harus berhenti sekarang kalau memang masih ingin melanjutkan. Mungkin menurutnya ini patah hati yang tidak perlu, jenis patah hati yang dapat dengan gampang dikomentar "kamu sendiri yang mau". Tapi bagiku, masih lebih baik memilih patah hati sekarang daripada luka yang muncul nanti-nanti. Retak besar yang sekarang bisa langsung diobati dan kubalut dengan baik, lalu sembuh. Sedangkan tetap melanjutkan dengan situasi yang sekarang, sama saja dengan mengundang retak-retak kecil di kemudian hari yang tidak bisa diprediksi. Dan ketika retak kecil itu hampir sembuh, retak yang lain akan muncul satu-satu.

Tapi ini sama sekali bukan soal menyukai dan minta disuka balik seperti yang Kak Nadia pikirkan. Aku jelas-jelas tahu betapa apa yang kupendam jelas-jelas tidak punya masa depan. Tidak ada arahnya, tidak tau mau dibawa kemana. Aku memutuskan berhenti karena aku harus berhenti.  Karena ada luka masa depan yang harus disingkirkan. Persis konsep memilih yang pernah kami diskusikan pada suatu malam. Bukankah orang-orang memilih apa yang mereka paling tahan? Ada orang-orang yang merasa sakit ketika bertahan, tapi tetap memilih itu karena melepaskan ternyata lebih sakit.
Ada orang-orang yang merasa sakit ketika memilih bercerai, tapi bisa jadi, bersama bagi mereka jauh lebih sakit dan sulit.

Di tempatku tinggal, aku belajar arti kata move on dari seseorang yang menurutku telah mencintai dengan hebat, jelas-jelas tidak punya harapan, berusaha keras untuk lepas, sedikit demi sedikit, tapi tetap tidak bisa melepas sepenuhnya karena memang dia tidak bisa. Dia cuma tidak mampu memilih itu. Untuk kasusku semuanya tinggal dibalik saja. Aku mengakhiri karena memang harus aku yang mengakhiri, karena dia tidak pernah memulai. Dari awal ini adalah apa yang disebut orang-orang sebagai sebelah tangan. Aku tidak memilih bertahan atau melanjutkan karena memang aku tidak mampu memilih itu. Cut! tanpa Ctrl+V! Aku punya diriku sendiri yang harus aku bela, karena kalau bukan aku, memangnya akan siapa?

Kemarin, aku tersadar lagi lewat kata-kata Alifa yang ia lontarkan dengan rasa heran sewaktu aku menceritakan tentang orang itu setelah beberapa hari berada dalam fase plis-nama-itu-jangan-dulu-disebut!
"Kok lo seneng banget, mel? Memangnya lo nggak sedih?"

Aku kembali ingat pada airmataku yang hangat itu.

Aku memercayai bahwa airmata adalah rasa sedih yang meleleh dari hati. Pertanyaan Alifa membuatku berpikir bahwa jangan-jangan kesedihan-kesedihan itu sudah leleh sepenuhnya, meleleh jadi airmata. Hangat mengalir dari mata. Lalu aku move on.


maka sekarang, apa yang aku janjikan dalam kertas dan pena itu bisa nyata, kan?

Tuesday, July 26, 2011

Sebenarnya aku enggak mau nangis bi, aku enggak pernah mau tertangkap menangis oleh laki-laki itu. Tapi kamu tau, laki-laki itu, adalah satu-satunya titik dimana aku bisa menjadi yang paling lemah. Menjadi yang paling gampang mengeluarkan air mata bahkan untuk sebuah alasan yang begitu bukan apa-apa.

Terlebih lagi, aku paling benci pada apa yang seperti biasa dilakukannya ketika dia sudah mengacau seperti ini. Aku paling benci melihat dia pusing dan pontang-panting membersihkan kerusuhan-kerusuhan yang diakibatkan oleh tangannya sendiri. Aku paling benci melihat dia mengupayakan segala usaha yang bagaimana pun juga tidak menunjukkan apa-apa selain fakta bahwa dia menyesal dengan sungguh-sungguh.

Karena itu selalu berhasil membuatku merasa bersalah setelah marah. Setelah berteriak menyalahkannya serupa itu. Seperti tadi itu.

Ini sangat mirip dengan apa yang dilakukan Mr. Bradstone kepada Sally. Meminta maaf yang seperti ini, aku enggak terbiasa bi, ini terlalu manis, terlalu romantis. Telalu luar biasa untuk dapat diterima olehku terlebih dari dia yang kupandang seperti itu.

Tapi barangkali kami memang ditakdirkan untuk menjadi seperti ini. Aku yang begitu gampang dibuatnya menangis serta dia yang paling enggak bisa liat aku nangis. Takdir sama yang mengikat aku yang paling tidak bisa dijanjikan dengan dia yang paling payah dalam menjanjikan.

Seharusnya ini kombinasi tepat jika ingin menghancurkan berbagai hal dengan cepat. Tapi dia memang seperti gabungan racun dengan obat, mematikan, tapi juga memberi kesembuhan.
Jadi aku bisa apa?
Aku yang tidak suka dia sekaligus juga mengidolakannya. Yang sebegitu memujanya karena seumur hidupku memang cuma dia super hero yang kukenal dan benar-benar nyata. Yang bahkan eksistensiku bisa tercipta lewat eksistensinya yang telah lebih dulu ada. Yang ternyata tidak peduli seberapa pun kecewanya, kesalnya, marahnya, bahkan bencinya aku pada apa yang dia lakukan tidak akan pernah bisa membuatku benci dia sebagai personal.

Terlebih-lebih, karena aku entah kenapa belum juga bisa untuk berterima kasih, atau meminta maaf di hadapannya, dengan selayaknya. Bahkan untuk menceritakan aku memuja dia seribu kali lebih dahsyat dari apa yang bisa ia kira.

Jadi,
apa boleh aku meminta maaf dan berterima kasih lewat kamu saja, bi?
Kepada laki-laki yang mengubur ari-ari ku itu. Yang berkewajiban mengumandangkan adzan di gerbang telingaku begitu aku keluar dari gerbang rahim ibuku. Yang dengan mulutnya lah ketika flu aku bisa membuang ingus karena masih terlalu bayi untuk mengerti bagaimana cara paling benar untuk membuang ingus. Yang bahkan mungkin panggilan kepadanya lah morfem pertama yang paling pertama kali aku kuasai; papa.

hari selasa nyaris jam dua
melarikan jari di keyboard kamu, bi
somehow selalu bikin segalanya terlihat lebih jernih
terimakasih ya
jangan lupa sampaikan maaf dan terimakasihku pada laki-laki itu juga

kenapa menangis, mel?

sebagian alasannya barangkali sama seperti mbak aul yang juga menangis di belakangku. kami berdua bahagia melihat dua pasangan yang sudah berpacaran bertahun-tahun itu akhirnya menikah juga.

sebagian karena do'a yang beramai-ramai kami aminkan itu memang berkemampuan menguras air mata.
sebagian (mungkin) karena akhirnya setelah bertahun-tahun di jogja aku menghadiri acara akad nikah juga.
sebagian, (barangkali) karena aku kepingin juga menikah :P

tapi momen favoritku adalah ketika mbak sita meraih tangan kak oka, kemudian menciumnya dalam takzim yg lama.
ketika kulit bertemu kulit dalam halal yang untuk pertama kalinya, yang bahkan dari sananya dapat mengalir barakah dan pahala.

tidakkah yang seperti itu indah?

mengenang waktu dhuha itu bersama mi instan dobel
dua orang kakak angkatan saya menikah 2 hari lalu
membayangkan apa rasanya ya menjadi mereka di semester 7 nanti
kuliah di jurusan yg sama, satu angkatan dan sering satu kelas pula #iri xP

di semarang malam-malam

ada yang aneh waktu akhirnya aku sampai di semarang dini hari tangal 24 itu. semacam perasaan aneh setiap kali terbangun dari tidur dan teringat mimpi yang sudah kita lupa tentang apa.

bisa jadi ini bagian herannya aku menyaksikan angkringan tenar pak gik yg entah dengan alasan apa begitu penuh dengan orang-orang.
atau mungkin perasaan aneh ini salah satu bagian dari sakit yg menusuk-nusuk perutku malam itu, gejala yang timbul akibat terlalu terlambat makan dan kebanyakan makan mi yang mengkomplikasi.

tapi baranghkali ini bentuk lain dari perasaan tidak percaya ketika akhirnya tiba di kota ini juga.
tempat galuh melewati masa kuliahnya, tempat om top membangun surga lewat keluarganya, tempat kak nadia dan keluarganya tinggal, tempat kak adhi dulu pernah cukup lama berdiam, tempat asti menjalani masa smp begitu pindah dari smp yang sama denganku.

jadi,
bisa seperti ini rasanya,
perasaan aneh ketika kita sudah merasa sangat dekat dengan sesuatu tetapi tetap tidak dapat menjangkau itu.

beberapa menit lewat pukul 10
tugas mendata peserta dari acara kepanitian yang lalu belum kusentuh :(

Monday, July 25, 2011

00:53

foto-foto mereka waktu di bunaken itu sudah di upload.

mana aku tau kalau rasanya ternyata sebegini ini waktu menolak rayuan pulang ke makassar waktu itu. waktu mama bilang "nanti dari makassar kita ke bunaken dulu sebelum ke manado." T.T

ternyata keputusanku waktu itu bukannya tidak terlalu bodoh melainkan memang benar-benar bodoh.
manusia cerdas mana yang mau menukar rayuan bersenang-senang menyelami eksotisnya bunaken beserta segala limpahan kemudahan dengan trip sumatera yang belum-belum sudah kelihatan penuh dengan ketidakjelasan serta kesulitan-kesulitan yang menjanjikan?

aku tau tidak seharusnya aku mengutuk-ngutuk sekarang sementara dulu sudah menolak rayuan bunaken itu dengan hebat macam pak lurah yang menolak uang suap. tapi faktanya aku mendownload tiap gambar itu satu per satu dengan rasa iri yang aneh. tidak mau lihat karena tidak ingin merasa iri, tidak mau merasa bodoh sendiri, tidak ingin merasa merana seperti ini tapi faktanya aku masih bertahan. aku tetap mendownloadnya satu per satu untuk kemudian aku upload disini. dan sialnya tetap merasa iri.

lantas kalau sudah begini, apa tidak apa-apa kalau aku menyebut bunaken curang juga?
seperti kebun teh di malino itu.


baiklah, barangkali tidak masalah ini setengah bodoh atau memang benar-benar bodoh.
aku hanya tidak perlu menyesal,
karena aku sudah memutuskan.
(seharusnya)


sudah lewat tengah malam masih di dalam kamar yg berantakan
membayangkan apa rasanya berenang bersama anemon warna warni yang berseliweran T.T

sungai bintang

langit di dua malam terakhir ini selalu penuh bintang. persis macam yang kak fahmi bilang; sungai bintang.

ribuan titik-titik cahaya yang mengapung di semesta.

malam kemarin aku menakjubinya dari balik kaca jendela mobil xenia yang membawaku pulang dari semarang, kali ini dari lapak jemuran sewaktu mencuci pakaian.

langit malam macam begini, pasti benar2 hebat kalau saja bisa dinikmati sambil berbaring. rasa-rasanya aku kepingin memilih satu hari di musim panas dan bermalam di padang rumput luas.

melihat bintang saja, tanpa melakukan apa-apa.

pada juli di 25.
dalam kamar yang berantakan luar biasa

tiket

sekarang aku baru paham kesenangan macam apa yg didapat kak nadia dari mengumpulkan tiket yang banyaknya sudah nyaris 2 album itu. sampai-sampai dia rela membuang 10 ribu hanya untuk tiket pura wisata tanpa masuk ke dalamnya. benar, sampai-sampai punya ide gila naik kereta tanpa tiket dan rela membayar berkali lipat hanya demi memiliki tiket suplisi.

barangkali, kesenangan bagi kak nadia adalah jika bisa memiliki semua tiket yang pernah ada di dunia. tiket kereta, tiket pesawat, tiket bis, tiket musium-musium, bahkan tiket masuk MRT yang bentuknya berupa kartu mirip tiket untuk naik transjogja.

padaku, tiket-tiket memberi kesenangan yang sama dengan cara berbeda.

aku mengumpulkan tiket sesuai urutan kapan aku mendapatkan. dan setiap kali aku melihat tiket-tiket yang terpajang itu, mereka selalu bercerita, membuatku ingat pada banyak peristiwa.

karcis peron masuk stasiun lempuyangan ada di urutan pertama. aku mendapatkan ini ketika pertama kali kesana bersama mba iftin dan bang hilmy. kunjungan pertama yang selanjutnya membuat aku jatuh cinta pada stasiun. yang selanjutnya membuatku keranjingan mendatangi lempuyangan hanya untuk duduk2 di luar sambil mendengarkan bunyi-bunyian khas dari dalam.

dan kesemuanya memang punya cerita. tiket air asia ke kuala lumpur dari yogyakarta yang bersebelahan dengan tiket suplisi kereta ekonomi membuat aku ingat tentang perjalanan aneh itu. aku bisa membaui lagi kegembiraan kami ketika akan ke malaysia dulu dan bagaimana kemudian kami pulang sebagai penumpang progo ilegal selama separuh perjalanan. tertidur-tidur di koridor kereta, di langkahi orang-orang lalu lalang yang menjual segala macam barang.

di halaman sebaliknya ada tiket kereta progo yang asli, yang bukan suplisi. pertama kali aku ke lempuyangan dengan satu tujuan maha mulia dan bukan untuk sekedar duduk2 saja; membeli tiket kereta :D

melihat deretan huruf dan angka pada bagian nomor tempat duduknya bagiku sama seperti melihat aku, kak fahmi, kak adhin, dan tika yang melakukan perjalanan ke jakarta suatu kali. duduk berhadapan-berdampingan sembari bernyanyi-nyanyi, diganggu banci, makan pecel tabur mahkota bunga yang memberikan sensasi rasa luarbiasa. jangan ditanya betapa tidak enaknya xP

dan karcis masuk mangkunegaran waktu di solo itu, bersebelahan dengan tiket masuk musium karaton yang seharga sepuluh ribu. tiket masuk musium paling mahal kalau mau kubilang. tidak sebanding dengan apa yang dijual. tapi yang jelas, setiap kali melihat itu aku jadi ingat dengan mas aji, guide kami. juga jadi ingat pada kami yang duduk-duduk di keraton surakarta waktu itu, pada aku yang membenamkan kaki ke dalam pasir yang terasa sejuk dan nyaman sekali. Berusaha keras membuat piramida, ditontoni asti dan kak nadia.

2 tiket prameks pulang-pergi, tiket masuk vredeburg, musium kereta, taman sari, tiket logawa, bahkan karcis retribusi masuk terminal giwangan yang cuma seharga dua keping receh 100an.

semua tiket itu bercerita, lebih dari gambar-gambar yang ditangkap kamera.

aku menghitung lagi tiket-tiketku dalam album bergambar kupu-kupu bersayap ungu, semua ada dua puluh.

pukul 21:22 satu hari jelang trip sumatera
saatnya menyelesaikan urusan dengan baju-baju rendaman =D

Saturday, June 11, 2011

Disebutnya Ini Melindungi

Saya masih belum mengerti kenapa melindungi bisa menjadi alasan dari tindakan menutup-nutupi. Bagaimana bisa menutup-nutupi kebenaran dapat memiliki tujuan untuk melindungi seseorang? Saya tidak paham. Dan kalau pun ada yang mau melindungi saya dengan cara seperti itu, inginnya saya memilih tidak mau.


Tapi barangkali, sedikitnya memang harus dihargai.



Baiklah, terimakasih ya.. Tapi terus terang saya tetap tidak suka. Saya kan bukan bayi meski kelihatannya serapuh bayi. Lagipula, bayi pun tetap harus mengenal rasanya terjatuh. Harus sesekali berdarah. Toh luka-luka itu nantinya akan dipamerkannya ke orang-orang dengan hebat. Akan kelihatan hebat.


Atau bisa jadi, yang Anda takutkan bukan melihat saya jatuh, bukan takut saya terluka. Saya toh nantinya akan baik-baik saja. Sama seperti bayi-bayi yg kelihatannya rapuh itu. Mereka selalu mampu bertahan kan? Anda cuma tidak punya cukup keberanian menyatakan yg benar.


Iya, kan?

Wednesday, June 08, 2011

menggali draft lama

senang rasanya setiap selesai membereskan kamar. lantai sudah lebih cemerlang, kertas-kertas di meja juga sudah dirapikan, seprai juga sekarang minus kericuhan. kamar yang kata mereka lebih luas dari kamar-kamar lainnya ini akhirnya bisa meraung-raung macam bayi singa. paling tidak, mitos "di-kos-mahendra-bayu-kamar-yg-paling-luas-adalah-kamarku" sekarang tidak seberapa lagi meragukan dibanding hari-hari belakangan.

pagi ini aku terbangun dengan perasaan entah apa yang susah dijelaskan. mimpi tadi malam aneh. obrolan semalaman dalam kotak biru yahoo itu aneh. petualangan dari blog ke blog menjelajah tumblr tadi malam juga sama aneh. aku menemukan gambar-gambar cemerlang yang mampu membuatku tercengang-cengang dalam perasaan terwakilkan, aneh menyadari bahwa segenap hati bisa berkesah semaunya tanpa sepatah pun kata yang biasa. membaca sebuah surat tak tersampaikan gabrielle kepada cameronnya yang ditulis dengan sebegitu putus asa ternyata berkemampuan dalam sekejap mengebaskan hati.

dan perasaan-perasaan yang menjejak-jejak sebelum lelap itu rupa-rupanya terlalu kuat sampai-sampai mengikut juga ke dalam mimpi dan sialnya masih menyisa sampai aku bangun pagi ini. aku tidak senang, sekaligus juga merasa senang. tidak mengizinkan perasaan semacam ini tetap tinggal tetapi di satu sisi ingin dia bertahan. pagi ini aneh. berdiri diantara dua cermin memang semestinya terasa aneh. melihat, dalam hal ini merasakan, dua hal yang saling berlawanan tentu rasanya tidak lucu. it's weird, but exist indeed.

ada hal tentang tadi malam yang sedikit aku sesali. memang cuma sedikit.
kenapa aku harus jadi selepas kontrol itu masih jadi pertanyaan besar yang aku belum paham. tapi bukankah untuk bisa menjadi jujur pada hati kita adalah sesuatu yang mestinya mendatangkan kesyukuran? bukankah di buku the alchemist itu dikatakan bahwa tak banyak orang yang masih bisa mendengarkan apa yang dikatakan hatinya. maka bergembiralah! bersyukurlah siapapun yang masih mampu mendengar hatinya bicara.
tapi hilmy juga pernah bilang, betapa kata hati tidak perlu selamanya dituruti karena ada hal bertolak belakang lain yang membuatnya terpisah setipis jaring laba-laba. hal semacam ini membingungkan. sepertinya aku memang perlu membaca lebih banyak buku sebelum akhirnya terlalu memercayai sesuatu.

yang jelas, satu hal yang tidak lagi ambigu. apa yang aku lakukan saat itu cuma bagian dari usaha tidak melakukan hal kurang menyenangkan yang pernah dia lakukan. atau juga untuk membayar perlakuan-perlakuan tidak terduga yang terlampau manis untuk kubayangkan akan dia lakukan. tidak perlu menyebutkannya satu per satu hanya untuk membuat diriku meleleh lagi tapi yang jelas, aku bertahan karena aku paham rasanya ditinggalkan ketika aku menginginkan dia tetap tinggal. aku cuma ingin menjadi kopi dalam kesadarannya menghadapi malam-malam melelahkan yang mau tak mau mesti dilewati . apa memang terlalu salah untuk memberi contoh bagaimana bersikap semanis cokelat?

fakta bahwa sekarang aku gusar adalah bukti bahwa ini bukan sesuatu yang aku inginkan. barangkali memang tidak seharusnya malam itu aku sekeras kepala itu. bisa jadi, tidak seharusnya malam itu aku kehilangan kendali dan membuat keadaan menjadi semenjengahkan ini.
akustik those dancing days are gone, musikalisasi puisi dari karya william butler yeats yang kudengarkan sekali sebelum berangkat tidur semalam bergema-gema di kepala. Persis seperti bau parfumnya yang lengket di hidungku dan belum mau hilang-hilang juga. dan pagi ini jadi semakin aneh saja.

p.s: lagi2 postingan lama. pada akhirnya punya cukup keberanian mempublishnya. Devil

Saturday, June 04, 2011

RandomVaganza xD

aku baru tau kalau ternyata malam ini malam minggu.

tadi ada seekor kecoa besar masuk ke kamar. selama beberapa menit tadi aku udah coba usir2 pake sapu yg malah bikin dia ngumpet di bawah lemari dan enggak mau keluar lagi. yasudahlah, anggap saja dia itu kiriman Tuhan yg ditugaskan menemani malam mingguku kali ini.

dan sekarang udah nyaris pukul satu dini hari. aku baru selesai shalat isya dan semakin segar-bugar saja. haha..

siang tadi seperti biasanya, ekstra super panas. jadilah terik2 siang tadi aku menggelar semprai di lantai dan yap! tidur siang? bukan! tapi luluran. ahaha..
tapi faktanya aku memang tidur siang. dengan rambut masih digulung handuk dan seprai baru, fresh from lemari, siap diperawani. :P *memperawani seprai baru maksutnyaaa..

hem, mau cerita apa ya? sejujurnya postingan ini cuma posting pemanasan utk memicu mood nulisku yg belakangan ini ancur2an. writing block! kalo kata abang.
baiklah, tadi siang aku dan teman2 rampo abis tampil lagi di acara seminar dan trainning public speaking oleh putra nababan di auditorium fakultas kedokteran.

penampilan yg apa yaa... gimana aku nyebutnya? engga ada tekanan, engga ada nervous, dan krikkrik luar biasa. haha.. tapi ya ituu.. bener2 ngga ada tekanan jadinya aku nyengir aja meski ngga ada sebiji penonton pun yg inisiatif tepok tangan (well, mereka tepok tangan karena diprokatori official kami, bukan dari hati nurani Rolling)
yahaa.. tapi engga apa. yg penting tadi movingnya sukses Big BossHead SpinBig Boss

hem, tentang seminarnya.. tadi sempet ngikutin sedikit waktu bang putra nababan cerita-cerita. dan yah, banyak info baru yg engga kusangka2. pertama, ternyata biarpun pembaca berita bang putra ini humoris juga, trus aku baru tau kalo ternyata waktu masih sekolah dulu dia bandel parah bahkan sampe dilempar ortunya ke amerika, okelah ralat: tepatnya ke desa terpencil di amerika lalu dititipin ke keluarga kristen patuh-taat pula. ambil sekolah jurnalistik disana dan smpet beberapa waktu kerja sampe akhirnya tahun 1994 ya kalo ngga salah, sebelum soeharto jatuh dia mutusin untuk balik ke jakarta dan diterima kerja di koran merdeka.

dan kalo pun mau ngebayangin, putra nababan yang tampil bersih-rapih-jali di depanku sebagai wartawan yg menurut ceritanya pernah dipukuli tentara waktu ngeliput, nungguin mentri sampe tiga hari berturut-turut, dan sebagainya dan sebagainya.. well.. bener2 ngga kebayang.

ah iyaa.. dan kita tadi juga sempet ngegosipin obama. kan dulu bang putra pernah noh berkesempatan wawancara langsung sama presiden-kulit-hitam-pertama-di-amerika-yg-kebetulan-pernah-tinggal-di-indonesia-pula. gimana dia menangani rasa nervesnya mewawancarai orang nomor satu di amerika itu.

kata bang putra, nerves itu sebenernya baik untuk kita. well, ini yg aku simpulin dari penjelasan dan cerita2 panjangnya. pernyataan sama yg aku dapetin dari narasumber trainning public speaking gama cendikia kemarin. nerves itu sebenernya baik untuk kita. nerves memberi kita ruang untuk berpikir tentang antisipasi. kecemasan membuat kita ingat berdoa, membuat kita ingat tujuan, siapa diri kita dan apa yang telah kita usahakan.

aku sering nerves kalau mau tampil nari, kalau mau ujian, kalau mau masuk kelas sementara tugas belum tuntas. darisini aku merasakan kebenarannya.

tadi di putar juga video sekolah2 di australia (adelaide dan hehe.. apa yaa satu lagi confusedblushing) yg seharusnya (dan memang harus) bikin rakyat indonesia tertampar berjuta2 kali. mereka, pelajar2 highschool itu belajar bahasa indonesia sampai alat musik tradisionalnya. dalam hal ini gamelan, yg bikin aku berjuta2 kali bertambah mupeng belajar gamelan. Erw! Unsure

pemutaran video ini ngga ngasih pengaruh apapun buatku selain mengutuk2 kenapa tadi tampilny sebagai pembuka acara yg bikin kami engga dilihat sama bang putra. Heleh!

Emm.. dan apa lagi yah? Tadi juga sempet bahas tentang budaya orang Indaionesia yg rendah tingkat intelektualnya. Dan kenapa akhirnya bang Putra sebagai wartawan akhirnya berpindah ke TV. Bang Putra cerita kalo ini sebenernya soal efektivitas aja, si Abang ini ngeliat kalo TV lbh efektif sebagai media lebih dari media manapun, apalagi koran. Buktinya, oplah surat kabar terbesar di negeri ini aja sebenernya enggak lebih dari setengah juta aja. beda jauh sama oplah koran luar negeri (Jepang) yang kata Bang Putra bisa sampe lebih dari 10 juta eksemplar per hari dan itu terbit 2kali sehari. Bayangin, Indonesia yg penduduknya sekitar 288 juta sama Jepang yang penduduknya cuma 120 juta aja.

Well, aku sih husnuzhnnya orang2 pada baca koran online supaya ngga mubazir kertas. hehe.. tapi yg jelas, acara tadi itu udah bikin aku tertabok2 untuk lebih sering baca koran. internet itu dipake bukan cuma buat blogging or fesbukan. dan yg dibaca pun bukan sekedar bagian entertaintment yg isinya berita2 artis yg sibuk gonta ganti pasangan.
"coba buka kolom opini, atau artikel2 yg lebih dalam. inget permasalahan negeri kita. Kita itu miskin perspektif."
nyaris pukul tiga di kamar wangi apel yg biasa.
nemu cabe nganggur, kepingin bikin indomi telur Hungry

Monday, May 30, 2011

berbagi kebahagiaan

bukan! ini bukannya aku abis dilamar raja minyak pantai selatan atau apa. *haha.. emang ada?

yang jelas malam ini aku lagi bahagia. mataku bengkak, kepalaku sakit, dan masih kepingin nangis tapi kelegaan ini menggetar sampai ke ujung2 pembuluh. sungguh!
rasanya luar biasa lega, seperti tumor yang melengketi kepalaku selama beberapa waktu ini lenyap tiba2.

lubang itu sudah hilang.

yang jelas sekarang, aku bisa menyapa mba cindy tanpa takut2 lagi, kapan pun, setidak penting apapun, dimana pun.

entahlah, masalah komunikasi ini benar2 sebegitu menganggu macam hantu. dibanding semuanya, tidak bisa menyapa adalah yg paling menjadi beban.
aku ingat berbulan-bulan lalu begitu kepulangan dari malaysia. gimana aku senyum2 seharian karena mba cindy menyapaku di tangga gedung A waktu aku mau masuk kuliah.

sebenernya ada sedikit rasa menyesal. kenapa yang kayak begini enggak dari dulu ya? seenggaknya kan kalo gitu, mbak cindy tetap ada di tim ini.

ah, sudahlah.. yang penting sekarang udah nggak ada masalah. enggak ada prasangka.

hallo mbak cindy, sekarang kita baikan ya.. :)
maaf kalau cara yang melyn pakai salah,
aku kangen mbak. *sluuurrrppp (elap ingus lagi) lebih kayak nyeruput eskrim, melyyynn.. xp

p.s: abis ini tulis surat k abang ah..
23.20 jumadi ats-tsaaniyah tanggal 27
kamar 14 mahendra bayu

Saturday, May 28, 2011

*15: kala insomnia

Hari ini aneh kali.

Pagi-pagi aku bangun dalam keadaan demam. Pada akhirnya menyerah dan berusaha menerima bahwa memejamkan mata tidak lantas akan membuatku tertidur sebagaimana mestinya. Waktu itu sudah jam setengah 7 kurang, aku menghabiskan 3 jamku dengan memejam dan membolak-balikkan badan, tapi nyatanya kesadaran itu masih tetap tinggal.

Lalu menghabiskan lima belas menit berikutnya dalam dilema antara masuk kuliah atau membolos saja. Matakuliah penyuntingan teks bisa jadi satu-satunya matakuliah dimana kemalasan samasekali tidak memberikan ruang, tapi demamku pagi itu sedikit-sedikit membuatku sangsi apa mungkin bisa melewati hari itu tanpa akhirnya terjatuh pingsan.

Kemudian yang aku tahu, aku bergerak ke kamar mandi seperti zombi sampai akhirnya tersadar bahwa aku belum sholat subuh pagi ini. Rasanya bodoh sekaligus aneh! Bagaimana bisa aku mendadak amnesia pada ritual yang bahkan dengan ritual bangun tidur sudah menjadi satu paketan.

Pagi itu dingin. Dingin yang lagi-lagi aneh. Bukan dingin yang sejuk atau pun dingin yang membuat malas mandi, tapi dingin yang membuatku merasa semakin sakit. Merasa semakin demam. Begitu pun tetap saja, bolos matakuliah penyuntingan bukan pilihan untuk sesuatu yang ingin kulakukan. Lagipula, aku toh tau bahwa saat itu aku tidak benar-benar sakit. Ada perbedaan yang jelas antara hanya merasa dan benar2 mengalaminya.

Dan akhirnya, aku masuk kelas 1 jam terlambat dari jadwal. 30 menit terlewat dari waktu biasanya kelas dimulai. Kemudian menghabiskan 60 menit dalam kelas itu dengan separuh kesadaran. Kewalahan, tenggelam-terbenam. Lebih sibuk menangani sms-sms yang masuk. Penjelasan2 bu elis tentang distribusi buku dalam dunia penerbitan cuma sepintas-sepintas masuk telinga. Aku duduk di kelas itu belum cukup lama, tapi rasanya sudah kepingin cepat2 pulang ke rumah.

Matakuliah menulis kreatif tadi selesai tidak sampai jam dua. Masuk kelas, isi absen lalu boleh pulang. Di satu sisi rasanya menyebalkan mengingat seperti apa aku tertidur-tidur di bangku cokelat depan mushola menunggu waktu sampai pukul satu. Tapi di satu sisi senang, karena setidaknya tidak perlu menghabiskan waktu satu jam lebih lama sampai akhirnya dibolehkan pulang ke rumah.

Sekarang aku baru pulang dari purnabudaya. Jam setengah 9 tadi anak rapa-i geleng tampil di forum budaya pemuda asean yang ke sembilan. Sampai kamar ini, rasanya semuanya semakin terasa salah. Semakin aneh. Semakin membuat sebal. Webcam yang hilang, cd laptop yg tidak ikut dikirimkan, kamar berantakan, pakaian-pakaian bergelantungan, lapar, serta hal-hal kecil lain yang secara magic berkemampuan ribuan kali lebih mengusik.

Pernah, merasakan tumpukan perasaan yang tidak terdefinisikan? Seperti dihadapkan pada gumpalan benang ruwet dan tidak tahu harus menarik ujung yang mana untuk dapat mengurainya.

melelahkan ya?

ditulis 25 jumadits-tsaani 1432
mahendra bayu pukul 10 menit lewat pukul 2

p.s: setidaknya, hari aneh itu sudah berakhir. dan pagi ini terbangun dengan perasaan lebih baik. selamat datang tanggal 28! ini jadwal kiriman datang. :D

Wednesday, May 25, 2011

menceracau sebelum pergi kuliah

rasanya selalu diliputi oleh perasaan ringan yang menyenangkan setiap kali selesai menuntaskan cucian-cucian dalam rendaman. mengenyahkan tumpukan pakaian kotor yang menggunung di atas jemuran handuk yang menyender pada dinding putih dan terbebas dari perasaan tertekan dari pertanyaan kaos kaki mana yg akan dipakai hari ini? hahah...

aku baru saja menemukan bahwa ternyata obat kemalasan itu hanya sesimple mengabaikan kemalasan itu sendiri. haha.. iya! hal sederhana yang kemarin2 terasa bukan main susahnya.

semalaman tadi waktuku habis untuk gelinding sana sini mengumpulkan tekad mengerjakan tugas morfologi. guling-guling yang kemudian berakhir pada mematikan laptop-lampu dan mengatupkan kedua mataku. berharap bisa terbangun sebelum subuh dan mengerjakan tugas morfologi itu dengan semangat penuh. sayang, alarm yang kupasang ternyata tidak mempan. jadilah semalam itu, aku tidur 8jam macam bayi seperti tiga hari belakangan ini. Doh

dan pagi ini aku berniat lebih giat minum obat anti-malas tadi, yaitu tidak memberi ruang pada rasa malas itu sendiri. ada banyak yang mesti dikerjakan. ada ganjalan yang mesti dituntaskan. ada deadline yang mesti dikejar. ada banyak kompetisi tulisan yang aku kepingin ikutan.

aku cuma perlu memutup pikiranku (dari memikirkan rasa malas) dan bergegas ke arah produktifitas.
ini mudah! bismillah..

ditulis separuhnya dengan laptop yogi di bangcok kemarin sore
dilanjutkan pagi ini sembari mengumpulkan materi untuk deadline-deadline di hari jum'at

Saturday, May 14, 2011

*11: ditempa

malam ini aku kembali banyak mengoceh tentang trip sumatera. target sebelum umurku 20 itu. rancangan-rancangan menyinggahi jakarta, lampung, padang hingga sabang.

di keluargaku selama ini, berlaku satu hukum yang sudah sering terbukti.
apa-apa yang telah dipersiapkan dari jauh hari seringkali malah tidak jadi. rancangan-rancangan yang sejak jauh hari dibicarakan seringnya berujung gagal. kejadian rencana trip ke toraja itu cuma contoh sederhana. selalu begitu, terlalu bersemangat merancang, namun mendadak tidak menarik lagi untuk diwujudkan.

ini yang paling banyak aku takutkan dalam merancang. tepat di detik pertama begitu aku menetapkan rencana perjalanan, menyinggahi jakarta, padang hingga sabang dengan abang dalam sebuah bis-lemari-es destinasi jakarta pada suatu malam. saat itu baru beberapa hari lewat pertengahan januari, dan rencana trip kami di awal juli.

setengah tahun! saat itu aku sadar betul bahwa ada banyak hal yang bisa terjadi dalam waktu setengah tahun. masa enam bulan itu singkat, tapi tidak ada jaminan rencana trip ini akan selamat. peluang sukses dan batal itu sama besar. tidak ada jaminan.

jadi, yang akhirnya kuisikan ke kepalaku saat itu ialah bagaimana mempersiapkan dengan serius segala sesuatunya tanpa terlalu banyak memikirkan hasil akhir. menepis kengerian-kengerian yg ditanamkan dengan tidak sengaja oleh bang hilmy, lebih banyak lagi oleh pikiranku sendiri. tentang bis ekonomi, asap rokok, rambut yang lembab karena tdk bisa keramas, tidur di stasiun, sampai bayangan perjalanan panjang menggendong ransel sebesar galon dan dispenser.

jadilah, sejak saat itu aku belajar tahan.
belajar tahan untuk tidak mengeluh tentang asap rokok. belajar tahan menggendong ransel berat. bahkan juga belajar tahan 4 hari tidak keramas (ini sih karena malas :p).

di pikirku waktu itu, yang penting belajar dulu. mempersiapkan semua yg dirasa perlu. soal batal atau jadi, itu perkara nanti. manusia memang jatahnya merencanakan-mempersiapkan, Allah yang memutuskan. lagipula kata orang2, kemenangan itu menyukai persiapan. Victory loves preparations, kalau macam yg di film the mechanic bilang.

dan belakangan aku sadar, bahwa Tuhan juga mengajariku tahan dalam perjalanan-perjalanan yg sebelumnya mana terbayangkan. perjalanan-perjalanan yg tiba-tiba diadakan (dibuat ada) Tuhan hanya agar aku bisa belajar tahan tentang lebih banyak hal. sekaligus lebih banyak belajar sabar.

di atas kereta progo sepulang dari malaysia ba'da fesco, aku belajar tahan berdiri semalaman dari jatinegara sampai stasiun kebumen. melawan kantuk yang mengetuk-ngetuk, mendahulukan teman2 yg lebih butuh duduk. belajar shalat di atas kereta dengan debu sebagai media bersucinya. baru disitu aku tau betapa sebentar2 meliukkan badan demi memberikan ruang hanya agar pedagang asongan muat untuk lewat di koridor kereta yg penuh sesak benar-benar membutuhkan kesabaran yang banyak.

di atas mad joe, bis maju utama yg kami sewa untuk mengantar kami pulang sampai jogja, aku baru tau betapa ketika bis sedang ngetem itu, udara bisa menjadi begitu panas dan lengketnya. seperti sarden di dalam kaleng. keadaan dimana setiap mulut gatal mengutuk-mengamuk.

dalam perjalanan pulang paling miserable itu pula, aku jadi mengerti betapa tidur di lantai mesjid yang keras ketika di luar sedang hujan deras bisa jadi sebegitu nikmat. perasaan tidak ingin bangun yang sama yang kudapati ketika jatuh tertidur di sebuah mushola dalam gang sempit sekitar stasiun manggarai.

juga pengalaman berinteraksi dengan penduduk hingga dihisapi nyamuk saat terdampar di sebuah desa penuh sawah di subang sana.

bahkan belajar lebih banya lagi tentang watak manusia. yg rakus macam pak agus sampai yg baik macam pakcik supir taksi di malaysia. termasuk juga laki-laki ngapak yang menjahiliku di bis raharja, setidaknya membuatku berpikir lagi bahwa tidak semua orang bisa diajak beramah-tamah.

rasanya benar-benar seperti ditempa.
untuk tahan tidak mengeluh dan tahan tetap berdiri di batas sabar. di batas senang. di batas syukur. di dalam batas untuk tidak mengutuk, untuk tidak mengamuk.

di batas merasa cukup.

kamar 14 mahendra bayu pukul 00:21
saatnya mandi, dan memulai tugas panjang hari ini
selamat pagi ! :D

*10: mengganti

kalau ada satu hal yang aku tidak pernah suka. mengganti adalah salah satu jawabannya. ini kenapa aku lebih menyukai segala sesuatu yg serba satu. sepatu, laptop, hape, dispenser, kamar sampai pacar. hahahaah...

yg jelas mengganti itu selalu menyakitkan, barangkali juga bagi semua orang. pun sama halnya dengan digantikan. aku tau betul betapa rasanya tidak membahagiakan.
sedang memiliki satu segala sesuatu itu menjadikan special. menjadikan sayang.

ada yang keberatan? :)

kamar 14 mahendra bayu pukul 22:20
gerah sekali sehabis latihan tadi,
kepingin mandi.
UA-111698304-1