Showing posts with label 4sibs. Show all posts
Showing posts with label 4sibs. Show all posts

Thursday, March 14, 2013

HAPPY WEDDING, BANG HIIILLLL


Jadi jadi jadi, kemarin tanggal 10 maret itu Bang Hilmy menikah juga, akhirnyaaa :D. Proses pencarian jodoh bertahun-tahunnya usai sudah :P.

Agak lucu kalau menelusuri kisah pencarian jodoh Bang Hilmy ini. Sudah sejak lama ingin menikah muda, mencari pasangan rusuknya kemana-mana, siapa sangka orang yang ia cari-cari itu sebenarnya sudah dikenal sejak lama. Hikmah postitifnya mungkin ialah, jodoh baru akan datang ketika kita siap. Maka, mempersiapkan, bukan hanya ingin. Tiga tahun lalu, Bang Hil mungkin belum siap, walau sudah ingin :D



Maka, selamat menikah, Abang. Selamat berbahagia dengan Kak Rini.
Febrian dan Febrianti, sana buat satu Febri lagi #ups #dijitak.


Sepakat kan, kalau gambar ini ada yang kurang.
Kak Adhi manaaa gandengannyaa?? *teriak kenceng*

Monday, December 19, 2011

4 siblings #2 (potongan pertama)

Aku menghitung deretan anak tangga yang menurun curam ini satu-satu. Sudah sampai di hitungan seratus tiga puluh, sudah hampir menyentuh dasar. Kak adhi masih di puncak, menatap ragu-ragu pada anak tangga - anak tangga curam sejauh 64 meter dan berkedalaman 40 meter di hadapannya dengan muka pucat. Siluet Kak Adhi nampak jelas, menghalangi terang matahari tepat di depan liang pintu masuk lobang Jepang. Aku sudah di dasar.

“Kak Adhi, enggak masuk?!” seruku padanya, sangat jauh dari intonasi bertanya.

Dahi Kak Adhi mengerucut, ekspresinya campur aduk. “Kita enggak usah jadi masuk aja yuk.”

“Kasih 1 alasan, Mas,” kata Kak Nadia yang mendadak berhenti di tengah-tengah.

“Perasaanku nggak enak, Nad” jawab Kak Adhi singkat. Klasik seperti biasa, irit kata.

Kontan, aku, Bang Hil dan Kak Nadia mengernyit heran. Apa gerangan?

“Maksud aku alasan yang logis, mas”.

“Iya, ada apa to dhi?” Bang Hilmy kembaran Kak Adhi, kali ini mengambil giliran.

“Kan udah kubilang, Hil. Perasaanku nggak enak.”

Sekarang hening, udara di dasar sini dingin.

“Yaudah, kita ndak usah jadi masuk aja,” putus Bang Hilmy tiba-tiba setelah hening yang lama. Aku dan Kak Nadia sontak tidak terima.

“Tapi kita kan udah bayar untuk tiket, mas.”

“Ya ndak papa, kita kan memang kolektor tiket. Anggap aja udah untung nambah 1 tiket di buku album.”

“Tapi aku udah nyampe bawah, Bang” bantahku kemudian. Mencoba peruntungan.

“Justru itu, mumpung masih di bawah dan belum masuk terlalu jauh, mending kita balik sekarang aja yuk” sahut Kak Adhi, melawan bantahanku yang sebenarnya tertuju ke Bang Hilmy.

Aku terdiam. Memutar akal mencari alasan apa lagi yang bisa kupakai. Dua kakakku ini memang kembar yang 180 derajat berbeda sifat tapi kalau soal merayu adik-adik perempuannya, mereka tahu betul harus bahu membahu seperti apa.

“Satu alasan deh, mas,” Kak Nadia mencari celah “tapi yang logis ya.”

Bang Hilmy berdehem, seolah-olah mau mengatakan sesuatu yang benar-benar serius. “Jadi begini ya adik-adikku...”

“yang cantik-cantik, Bang. Hehe..” sambarku sambil cengengesan. Berusaha mendinginkan keadaan.

“Iya, adik-adikku yang cantik-cantik. Jadi begini, seperti yang sudah kita sama-sama tahu, perjalanan telah membuktikan bahwasanya firasat kakak-kakak kalian ini memang seringkali benar. Contoh terdekat sewaktu kita di solo kemarin. Kalian dengar sendiri kan, aku melarang kalian keluar malam itu. Tapi faktanya? Soal dampaknya juga kalian sendiri sudah tahu seperti apa. Aku rasa ini alasan yang logis untuk kita naik lagi ke atas sekarang juga. Ingat, kita ke Sumbar ini bukan ingin cari masalah,” Bang Hilmy menjelaskan dengan nada final. Titik. Seperti menutup celah bagi kami untuk membantah, tapi aku yang sudah memetakan kaki di dasar lobang betul-betul tahu betapa itu merupakan langkah yang salah. Fatal minah!

“Oh jadi maksud Mas Hilmy, kejadian di solo kemarin, aku yang sengaja cari-cari masalah?”

“Bukan gitu, Nad. Tapi..”

“Terserah ya, tapi kalo memang bener firasat Mas Adhi kali ini ndak enak, berarti memang ada yang ndak beres di sini, dan bagiku, itu justru alasan kenapa aku tetep harus masuk.” Kak Nadia berkata sambil membalik badan, menyusulku yang sudah di dasar.

Sebenarnya aku tidak suka menyaksikan kakak-kakakku bertengkar. Tapi ini Bang Hilmy dan Kak Nadia, 20 tahun hidup dengan mereka, aku sudah paham bahwa bertengkar bagi mereka nyaris seintens bernafas. Mau bagaimana lagi? Tipe keras kepala macam Kak Nadia dipertemukan dengan Bang Hilmy yang agak suka mengatur, hasilnya apalagi kalau bukan adu mulut. Tapi seperti antasida yang dapat menetralkan asam, untungnya kami berempat punya Kak Adhi yang selalu mengademkan.

“Yowis, Hil. Menurutku memang nggak logis juga kalau kita sampai enggak masuk cuma karena firasat yang enggak enak aja sementara kita udah jauh-jauh sampai sini. Lagipula, waktu rembuk kemarin-kemarin kita juga udah sepakat dari awal untuk masuk.”

Aku melihat siluet Bang Hilmy dan Kak Adhi yang bergerak menuruni tangga. Dengan latar belakang cahaya, mereka berdialog tanpa suara. Kata Kak adhi, “Nyenggol nyawa sih kamu, Hil” jawab bang Hilmy, “Memang nasip!”. Aku membalik badan sambil mengikik, mengalihkan kepala menatap lorong di depanku sambil mengira-ngira perlu waktu seberapa lama menelusuri lorong bawah tanah sepanjang 1,47 kilometer ini. Udara terasa dingin.

***

Aku meraba dinding-dinding dingin yang sudah di semen kasar sembari mendengarkan cerita Kak Nadia tentang sejarah Lobang Jepang. Di antara kami berempat, memang Kak Nadia yang paling suka sejarah, Bang Hilmy aja kalah. Spesifikasi Kak Nadia lebih pada bangunan-bangunan tua, sementara Bang Hilmy, mungkin pada tokoh pergerakan dan peristiwa sejarah. Itu lah kenapa dalam setiap perjalanan kami, kunjungan ke museum selalu masuk ittinerary. Ini nilai plus bagiku dan Kak Adhi, dengan begitu kami tidak perlu terlalu sering menyewa guide hanya untuk menceritakan tentang sejarah tempat tertentu.

“Kamu tau ndak, mel, dulunya lobang Jepang ini cuma selebar 20 sentimeter. Seenggaknya itu yang kelihatan pada gambar-gambar di buku-buku sejarah. Beda banget kan sama diameter lobang jepang sekarang yang lebarnya hampir sekitar 4 meter. Itu memang sengaja disesuaikan sama postur tubuh tentara Jepang yang ramping-ramping.”

“Wah, berarti dulu kamu ndak bisa masuk sini, Mel.” Tiba-tiba suara Bang Hilmy menyambar dari belakang, menjeda penjelasan Kak Nadia dengan sempurna. Aku tahu betul, pasti kata ramping itu pemicunya. Kak Nadia dan Kak Adhi di belakangku tertawa. Bang Hilmy memang tahu betul cara mencairkan suasana, dan lagi-lagi kali ini aku yang dijadikannya objek penderita.

“Eh, tapi kalau 20 sentimeter, kita berempat juga nggak bisa masuk, Hil. Iya kan, Nad?” suara Kak Adhi tertangkap telingaku yang berjalan paling depan. Betul kan apa yang kubilang, Kak Adhi memang antasida.

“Celah ini buat apa Kak?” tanyaku heran sambil menunjuk salah satu celah di dinding.

“Itu echo, mel.”

“Oh, ini echo? Tak kira tadi cuma ornamen buat variasi aja, biar enggak terlalu polos,” Kak Adhi menyahut, suaranya kedengaran takjub. Aku membalik badan dengan dahi berkerut, “celah ini namanya Eko? Lucu ya, kayak nama orang Jawa, padahal di Sumatera.”

Tawa Kak Nadia, Bang Hilmy dan Kak Adhi pecah serentak. “Echo itu peredam suara, adikkuuu.... bukan nama," jelas Kak Adhi dengan gemas. "Kalau eko yang kamu sebut itu sih, tetangga kita yang tentara waktu di Aceh dulu. Coba deh lihat, celah itu ada setiap satu meternya, untuk meredam suara.”

“Iya, Mel. Echo itu peredam suara, bukannya nama. Tapi memang iya sih, para pekerja untuk pembuatan bunker ini dulunya memang sengaja dikirim dari luar Sumatera, salah satunya Jawa.”

“Supaya kalau ada Romusha yang berhasil melarikan diri, dia ndak bisa membocorkan rahasia keberadaan bunker ke penduduk setempat karena kesulitan berkomunikasi, kan Nad? Jadi Mel, kalau kamu mau ngasih nama celah itu Eko juga ndak papa. Siapa tahu orang yang buat celah itu dulu orang jawa dan namanya Eko,” sambar Bang Hilmy sambil mesem-mesem cengengesan.

“Iya, Mas. Tumben, Mas Hil pinter. Bunker ini kan dulu dibuat dari tahun 1942 sampai 1945 sebagai pusat segala kegiatan pertahanan selama perang Dunia ke II dan perang Asia Timur Raya. Jadi, lorong-lorong ini dulunya merupakan ruangan-ruangan yang dipakai untuk berbagai macam keperluan, misalnya untuk makan, untuk tidur, untuk rapat, untuk tempat simpan amunisi, tempat penyiksaan, tempat pengintaian, tempat penyergapan, dapur, penjara, juga bilik serdadu militer tentara Jepang. Dan celah-celah di setiap satu meter ini gunanya untuk meredam suara romusha atau tahanan yang disiksa supaya ndak menganggu pekerjaan Romusha lain maupun para tentara Jepang yang ada di sini. Ndak heran, tahun 1946 waktu Lobang Jepang ini akhirnya ditemukan oleh warga sekitar, ada banyak tulang belulang manusia yang berserakan di sepanjang lorong. Serem ya?” Kak Nadia semangat sekali bercerita tentang Lobang Jepang kepada Kak Adhi dan Bang Hilmy yang juga begitu seru mendengarkan sampai-sampai tidak ada yang sadar pada aku yang tertinggal di belakang.

Aku masih di tempatku berdiri tadi, meraba celah kecil yang kata Bang Hilmy boleh-boleh saja kunamai Eko, setengah membayangkan jari-jariku dapat menangkap jerit-jerit penyiksaan yang harus diserap Eko berulang-ulang agar dapat teredam. Lalu bertahun kemudian, ketika bunker ini akhirnya ditemukan, ada tulang belulang Eko di atas tanah yang kupijak, berserak di bawah celah yang ia buat.

to be continued...

Wednesday, November 16, 2011

serial four siblings

sketsa kak Nadia

Sudah dapat dipastikan ini akan jadi bacaan favoritku melebihi komik miiko yang aku gilai itu. Aku baru baca seri pertamanya, dan betul-betul tidak sabar menanti kemunculan seri selanjutnya.

Bagiku, ini semacam kado ulang tahun paling keren sedunia. Aku bahkan sampai nangis beneran waktu baca bagian kak nadia dan bang hilmy diculik. Bukan! Sebenernya bukan karena disekapnya mereka tapi lebih karena mimpi nyaris tidak mungkinku selama ini ternyata bisa terwujud juga *dilempar upil sama Bang Hil ;p
Meskipun cuma fiksi. Tapi sungguh, aku bener-bener merasa jadi bungsu. Iya, bungsu, bener-bener keren kan? punya 2 kakak laki-laki dengan sifat berlawanan dan seorang kakak perempuan yang kerennya ampun-ampunan. Apa lagi?
Ini impianku sejak jaman dahulu kala. Menjadi bungsu.

Tanya kenapa?

Karena bungsu akan selalu paling disayang saudara-saudaranya, bagaimana pun juga. Lagipula, pada buku-buku cerita yang sering kubaca, bungsu selalu saja kebagian peran jadi anak baik. Anak berbakti. Lihat saja cerita Cinderella, cerita 3 anak babi, bahkan pada cerita al bintu wal asad dalam buku telaah teks arab 4.

Jadi, kak Nadia, terima kasih ya. Meskipun kedengaran terlalu keGRan menganggapnya kado ulang tahun, tp biar saja ini kuanggap kado ulang tahun.

Yang paling keren dari apapun!

*peluk kak nadia dan lempar tinggi-tinggi sampai luar angkasa.

p.s: Aku rasa ini sungguh cara paling menyenangkan merayakan ulang tahun, kak. Menyambut penambahan usia tanpa perlu diingatkan tentang bertambah tua. Ini bukan soal keriput atau soal semakin dekat mati, kak. Tapi aku ingin tetap hidup, dan tetap menjadi muda.
a lot of trims sissy :)

masih tanggal 16
10 menit sebelum hari ini berganti
selamat ulang tahun, mel! :)

Tuesday, August 30, 2011

Kak Adhi, Bang Hilmy dan 9 Hari.

Kata orang, salah satu cara terbaik kita bisa mengenal seseorang adalah lewat perjalanan. Teori ini sudah kupercaya lama, dan sekali lagi terbukti kebenaranya.

9 hari aku ber-perjalanan bersama Kak Adhi dan Bang Hilmy. Menyusur Sumatera.

Menyusur Sumatera sebenarnya sudah jadi ambisi-ku sejak awal semester 1. Waktu itu niatnya enggak muluk-muluk, asal sudah bisa pulang kampung naik bis dari Jogja ke Medan saja rasanya sudah hebat. Tetap judulnya menyusur Sumatera meski faktanya cuma lewat.

Ambisi menyusur Sumatera ini tiba2 mulai terasa nyata dalam perjalanan rihlah ilmiah ke Jakarta. Soal itu, udah pernah aku posting membabi-buta disini. Singkatnya, akhirnya tanggal 28 bulan Juli kemarin aku memulai perjalanan ini bersama Kak Adhi dan Bang Hilmy. Dua orang mengaku ganteng yang sudah kuanggap seperti kakak laki-laki ku sendiri.

Aku kenal Bang Hilmy udah lebih dari 3 tahun. Agak susah menjelaskan bagaimana kami bisa kenal dan bisa jadi seakrab sekarang. Ini fakta yang baru aku sadar selama perjalanan, kebingungan setiap kali orang-orang bertanya "darimana kenal?"
Yang jelas Bang Hilmy itu adalah tempat aku sering berbagi hal-hal yang tidak jelas *kemungkinan besar ini karena Bang Hilmy memang orangnya enggak jelas. =p

Sedang Kak Adhi, aku kenal dari Bang Hilmy. Mereka -kurasa- akrab dari SMK. Pertama kenal Kak Adhi, aku langsung simpatik, orangnya baik, maumaunya temani aku balik ke jogja waktu main ke Menganti waktu itu. Dan akhirnya, setelah beberapa kali berkorespondensi *tulisannya kayak gini kan ya?* jadilah kami berangkat menyusur Sumatera bersama-sama.

Sebenarnya ada satu orang lagi yang harusnya ikut trip ini. Tapi karena yang bersangkutan sedang dalam misi mulia yang lainnya ;p ya terpaksa kami menikmati keseruan ini tanpa beliau. *nanti kita bikin trip ber4 ya kak! =9

Selama 9 hari perjalanan, selain cerita tentang Sumatera yang kami saksikan bersama-sama dengan mata dan kepala. Ada banyak hal lain yang aku dapat darisana. Tapi yang paling menyenangkan memang perasaan mempunyai kakak laki-laki yang dapat diandalkan itu. Bahkan dua orang sekaligus. Dengan dua karakter yang berbeda tapi sama baiknya. Yang satu pemalu, yang satu malu-maluin. Tapi kayak yang kubilang tadi, dua-duanya sama baiknya.

Makan bareng, takjub bareng, kecewa bareng, sedih bareng, capek bareng, kesel bareng, seneng bareng. Semua kebarengan itu bikin aku lebih kenal mereka.
Bahwa Kak Adhi yang kelihatannya cuek itu ternyata bisa ngelucu. Yang ternyata makannya sedikit bukan karena malu-malu, tapi emang porsinya segitu. Dan fakta tak terduga bahwa ternyata Bang Hilmy itu kocaknya minta ampun. Yang biarpun sering malu-maluin kayak gitu tapi paling legowo dijadiin sasak buat dipukul-pukul.

Juga ternyata Kak Adhi diam-diam orangnya memang perhatian, ini terbukti selama perjalanan. Bedalah sama Bang Hilmy yang sukanya ngejitakin sama ngupilin. Baiknya sih Bang Hilmy ini mau bantu ngangkut tasku sama dititip nyuciin baju *ahahah.. ini memang baik atau karena mental pembantu? (mumpung belom sungkem lebaran xP)

Terakhir, untuk Kakak sama Abang,
Kak Adhi,
Bang Hilmy,
makasih ya udah menjaga anak perempuan merepotkan ini dengan sangat baik.
makasih udah bersabar waktu moodku berantakan gara-gara datang bulan.
udah jadi tukang angkut carier dan tukang ojek yang benar2 dapat diandalkan.
uda mau jadi teman berebut durian sama tempat nitip cucian.
maaf enggak bisa jadi ikut ke sabang dan bikin kalian jadi pada kangen, kan? kan? kan? ehehe..

Jadi, kapan mau direpotin lagi sama adek yang satu ini? ;p

poto konyol Bang Hilmy-Aku-Kak Adhi di Minangkabau Village
nyolong dari facebook Kak Adhi ini ;p


Sudah jam 3,
bersama bunyi petasan yang bikin pekak telinga.

Tuesday, May 10, 2011

*05: pantaaai banzaiiii.. =D

aku masih terheran-heran bagaimana bisa Tuhan begitu gampangnya mengabulkan doa. dua postingan ke belakang sebelum postingan ini, aku masih ingat betapa inginnya aku main ke pantai. dan kalian tahu? aku baru pulang dari pantai.

rasanya udah bertahun-tahun sejak terakhir kali aku melihat pantai. pantai terakhir itu namanya bira. oke, ralat: pantai bagus terakhir itu namanya bira! iya benar, pantai yg postingan liputannya belum selesai-selesai itu. haha.. tapi nama pantai bagus kali ini lain lagi, namanya menganti, kalo bang hilmy menyebutnya PANTURA, pantai utara australia. kalo kak adhi menyebutnya PANTURA juga, pantai australia utara, tapi aku, menyebutnya pantai float vanilla tongue

seperti soft es krim vanilla depan shopping centre yang meleleh-leleh menumpahi karang


Hari minggu kemarin total senang-senang, menjelajah betul-betul mirip bolang. euforianya masih terasa. histeria ketika akhirnya mendapati horizon antara bumi dan langit itu juga belum kulupa, laut! aku bahkan kepingin nangis saking senangnya. rasanya betul-betul rindu.

ini kali pertama aku ketemu laut bagus di pulau jawa. pantai yang kontennya bukan cuma sekedar pasir, angin dan ombak besar mematikan. di aceh dulu, aku bisa ke pantai kapan pun aku mau. seringnya malah hampir tiap minggu. pelabuhan ulhelhe cuma beberapa kilo jaraknya, ditambah lagi gampang aksesnya. mau ke lhoknga palingan enggak sampai 30 menitan. yang aku tahu, di jogja pun banyak pantai bagus. sundak yang direkomendasi kak adhi faktanya memang sekalipun belum pernah kujelajahi. yang pasti nanti. tapi yang jelas, hari minggu kemarin sampai juga aku ke menganti.

kami bergerak dari rumah kak iftin sekitaran pukul 10an. perjalanan ke menganti memakan waktu sekitar 40 menitan dengan medan tanjakan dan turunan yang curam, mengingatkanku pada jalan menuju nol kilometer di pulau weh yang berpagar jurang dan hutan-hutan, beberapa bagian jalan bolong dan becek akibat hujan besar tadi malam. untungnya, tukang ojek yang aku tumpangi seperti sudah hapal jalanan menganti, aku menyebutnya bang hilmy Rolling

pemandangan langit-laut biru diantara dua bukit menjadi tanda kami hampir sampai. seandainya bisa melonjak-lonjak girang diatas upa yang sedang berjalan, pasti sudah kulakukan. sayangnya tidak bisa, jadinya aku cuma menjerit-jerit senang saja Head Spin. dan di atas sebuah tanjakan tempat kak adhi berhenti demi menunggui kami, ada venue yang betul-betul mantap kali, sayang kami enggak berhenti. perjalanan tetap dilanjutkan sampai akhirnya kami sampai di sebuah tempat dengan plang pelelangan ikan. perahu-perahu biru berjejer-jejer memenuhi pantai di sebelah kanan.

aku membaui amis ikan yang membikin kepingin muntah itu dengan rakus. aroma nya lebih tajam dari bau pelelangan ikan manapun yang pernah aku datangi, rasanya senang sekali. begitu memarkir motor dan singgah sebentar ke toilet dekat parkiran demi memenuhi panggilan alam, kami berjalan menuju mercusuar. matahari siang itu sedang terik-teriknya, kami berjalan kaki melewati jalanan menanjak itu dengan susah payah. di sebelah kanan ada semacam terasering yang sedang ditanami tumbuh-tumbuhan. kata bang hilmy, ini tanaman pace, tapi kata ibu penjaga warung yang kami datangi sebelum pulang, kalau tidak salah dengar itu tanaman nyemplungan, semacam tanaman yang memabukkan, mendengar itu aku langsung melirik kak adhi, kemudian menambahi, "kalau di aceh mungkin semacam ganja." Devil



oiya, kak adhi teman bang hilmy ini adalah orang yang akan meramaikan trip jawa-sumatera kami. dia udah pernah beberapa bulan tinggal di aceh pasca tsunami. railfans dan bismania juga, bisnonekonomimania ding peace sign. haha.. kubayangkan diriku nanti jadi semacam putri salju yang dijagai oleh dua kurcaci raksasa. cihuilah!

begitu sampai mercusuar, kami langsung bikin kaplingan dibawah bayangan tiang yang agak teduhan. pemandangannya mantap jaya, ngobralngobrol kesana kemari dihela angin sepoi-sepoi, efek sycamore tree itu datang lagi, maunya selamanya disini, enggak pulang-pulang lagi. angin kencang, asin pantai, suara ombak yang menyambar-nyambar, kesemuanya menyegarkan dan membuat nyaman. komposisi terbaik untuk tidur siang. konon, dari puncak mercusuar pemandangannya lebih spektakuler, sayang kemarin itu keberanianku melesap lenyap demi melihat anak-anak tangga besi yang mesti kurayapi, teringat film sanctum yang kutonton tempo hari. dan sekarang rasanya menyesal, pokoknya, kalau ada lain waktu aku ke menganti lagi, harus naik ke puncak mercusuar. tidak ada alasan!
di bukit tempat mercusuar itu, juga banyak muda mudi yang bertingkah kayak sepasang kucing keracunan lem kanji. yang kerap kali bikin aku merasa geli sendiri.





ibarat sholat idul fitri, jalan pulang mesti beda sama jalan pergi. turun dari mercusuar kami memilih jalan alternatif merintisi ilalang dan karang. sampai disini, ombak serasa begitu dekatnya menyambar-nyambar, seperti rakus ingin melahap orang. karang-karang yang berderet di pantai warnanya hitam pekat, seperti hajar aswad. di atasnya banyak binatang kecil-kecil menempel di batu, semacam microsiput air asin. ada juga kepiting hitam berukuran sedang sampai kecil-mungil ngegemesin. di tengah jalan dalam rimbunan batu karang, ada spot yang agak rendah dan tergapai ombak, seorang kakek mendatangi kami dan memeberitahu bahwa beberapa hari lalu disitu ada tiga orang yang terseret masuk laut, tepat di titik kak adhi berdiri membelakangi ombak untuk di foto bang hilmy. mendengar itu, aku langsung cepat-cepat bergerak berpindah tempat.

pantai menganti adalah jenis pantai berpasir putih, tapi kalau kubilang, pantai ini berpasir serpihan kulit kerang. ombak yang besar menyeret kulit-kulit kerang yg sudah terhantam karang sampai ke pantai. kata seorang bapak yang ditemui bang hilmy, akan ada pertandingan surfing tanggal 18 nanti.
selama ini, menganti dikenal sebagai pantai yang belum padat oleh wisatawan, bukan seperti pantai karangbolong dan beberapa pantai lain yang berada di garis pantai yg sama dengan letak yang lebih dekat dan jalanan yang tidak terlalu rusak. tapi sekarang ada jalan yang akan dibuat untuk akses ke mercusuar. naga-naganya, setelah jalan itu di aspal, pantai menganti akan lebih ramai.

ngeri membayangkan akan seperti apa pantai menganti nanti, ramai, penuh, suram dan banyak sampah. menurutku, pantai selalu bisa lebih indah tanpa terlalu banyak tangan manusia.


model iklan poccari sweat - model iklan extra joss Idiot




by the way, poto2 keren ini diambil oleh bang hilmy dan kak adhi.
UA-111698304-1