Showing posts with label rumah. Show all posts
Showing posts with label rumah. Show all posts

Friday, February 28, 2014

Suatu Masa di Stasiun Pasar Senen

Saat ini lebaran dan saya sedang terdampar di salah satu peron stasiun pasar senen. Kereta yang membawa saya ke kota ini telah hilang sejak satu jam lalu. Meninggalkan saya duduk di lantai, menyelonjorkan kaki sembari menontoni orang-orang yang baru kembali dari shalat idul fitri. Di sebelah saya sebuah carrier 45 liter berdiri pongah, menemani saya yang sama sekali tidak rindu rumah.

Mungkin saya memang sudah jadi sebegitu durhaka karena satu-satunya perasaan yang tersisa di hati saya adalah gembira. Cenderung excited karena –entah ini bisa disebut- cita-cita melewati lebaran dengan cara tidak biasa yang saya idam-idamkan akhirnya tercapai juga.

Iya, suatu kali saya memang pernah bermimpi untuk melewatkan waktu lebaran di negeri yang jauh. Sendirian. Hanya untuk tahu apakah saat itu saya akan kesepian dan rindu ingin pulang. Apa iya saya akan rindu menyantap lontong medan dan opor ayam bersama-sama keluarga besar di kampung halaman. Merindukan sesi shalat bersama yang juga akan menjadi ajang reuni tak terencana dengan teman-teman semasa kecil. Tapi kenyataannya saya sama sekali tidak rindu rumah. Sama sekali tidak ingin pulang.

Kadang-kadang saya bertanya-tanya juga sudah sejahat apakah rumah kepada saya, sampai-sampai saya lebih memilih luntang-luntung di rumah orang lain pada hari lebaran begini ketimbang pulang dan berkumpul dengan keluarga sendiri. Pada titik saat sebagian besar umat manusia di negeri ini berbondong-bondong pulang ke rumah mereka, ke kampung halaman, ke akar dari mana mereka berasal.  Tapi saya malah lari dari rumah. Setengah mati menghindari rumah. Mengabaikan pilihan pulang yang Papa tawarkan dan malah memilih menghabiskan lebaran di rumah sahabat sekaligus teman satu kos saya di perantauan.

Bahkan kalaupun sahabat saya itu tidak menawarkan tinggal di rumahnya, saya sudah akan menggelandang menjelajahi Bali. Kemana pun asalkan tidak pulang.

Saya tahu bahwa hubungan macam apapun bertahan karena memaafkan. Saya juga enggak paham apa ini berarti saya sebegitu pendendam. Yang saya tahu, seperti halnya semua orang di muka bumi ini, saya cuma ingin pulang ke tempat saya bisa merasa nyaman. Ke tempat saya bisa merasa aman.
Karena bukankah sebenarnya itu lah yang disebut sebagai rumah? Tempat aman dimana kamu bisa merasa nyaman, terlindungi dan tidak takut pada apapun. Tempat dimana kamu tidak akan pernah merasa diadili dan bisa menjadi diri sendiri.

Masalahnya, rumah tempat saya pulang setiap kali lebaran bukanlah tempat yang bisa membuat saya merasa seperti itu. Meskipun saya tahu bahwa sejatinya tidak pernah ada rumah yang sempurna. Kadang-kadang atapnya bocor, pintunya rusak dan nyamuknya banyak. Begitu juga dengan keluarga, tidak ada keluarga yang tanpa cela. Saya tahu, saya paham. Saya cuma butuh waktu.

Bodohnya, justru ketika traveling lah  saya malah menemukan perasaan nyaman yang tidak saya temukan di rumah. Sendirian di tempat terasing mungkin tidak membuat saya merasa benar-benar aman, tapi setidaknya mampu membuat saya merasa tenang menjadi diri sendiri. Membuat saya tidak perlu takut diadili.

Saya ingat masa-masa sekolah dulu, saya sering ingin lari dari rumah. Tetapi nyali saya saat itu masih terlalu kecut. Atau mungkin bisa juga berarti hati saya saat itu masih belum sesempit sekarang. Masih belum sepicik sekarang. Hati saya waktu itu masih bisa dengan mudah memaafkan. Karena memang dengan cara seperti itulah sebuah keluarga dapat bertahan; MEMAAFKAN.

Atau bisa jadi, ini malah apa yang disebut sebagai akumulasi ledakan dari apa yang telah terlalu lama dipendam tetapi tidak hilang. Seperti kata pepatah yang mengatakan bahwa sampah yang disimpan pasti menebarkan bau, begitu juga kebusukan yang dipelihara pasti akan menyebar dan menjangkiti bagian sehat lainnya.

Maka mungkin itu lah yang terjadi pada hati saya.


“Mama malu, kamu nggak tahu apa yang orang-orang bilang tentang kamu,”
“Malu kenapa? Memangnya saya bikin apa?”
“Tapi orang-orang bicara buruk,”
“Terus saya mesti apa. Mama tahu saya nggak salah, ”
“Mama tahu, Mama percaya, tapi orang-orang...”
“Mama seharusnya membela saya kalau memang Mama tahu dan percaya,”
“Kamu nggak salah. Masalahnya adalah apa yang orang-orang pikirkan dan hal-hal buruk yang mereka bicarakan tentang kamu,”
“Terus saya mesti apa? Saya nggak bisa melakukan apapun kalau orang-orang memang mau berpikiran buruk. Saya nggak bisa memaksa orang-orang untuk tidak bicara buruk. Bahkan meskipun orang-orang itu keluarga kita sendiri,”
“........” Mama diam. Mungkinkah kata-kata keluarga kita sendiri yang saya semburkan dari seberang telepon turut memberi efek lesatan pedang seperti yang diberinya pada hati saya. Atau Mama hanya sekedar kehabisan kata-kata.
“Ma, bahkan meskipun darah yang mengaliri tubuh saya masih satu akar dengan mereka, Mama tahu saya tidak punya hak apa pun atas pikiran dan lidah mereka. Tapi saya tahu saya punya hak atas pikiran dan kepercayaan Mama. Dan karena memang saya cuma punya itu,”

Stasiun Pasar Senen mulai sepi perlahan-lahan sementara saya diam-diam menekan dada yang berkarat. Orang-orang berpakaian serba putih yang berjalan ramai dan bergembira di sisi rel kereta tadi telah kembali pulang ke rumahnya. Sementara saya tertinggal di sudut stasiun, masih mengutuki rumah yang mungkin siapa tahu merupakan bentuk lain dari hasrat ingin pulang.

Saya tidak tahu pasti, tapi yang jelas, memangnya saya bisa apa, kalau ternyata rumah lah yang malah terlalu sering memuntahkan komentar-komentar melelehkan kuping. Membuat saya merasa dikhianati oleh kental darah yang mengalir di antara kami. Membuat saya merasa satu-satunya kepercayaan yang saya miliki hilang tertelan oleh desas-desus yang hingar bingar.

Saya cuma tahu saya kepingin lari karena kenyataan saya memiliki keluarga ternyata malah membuat saya menjadi lebih kesepian dibanding sendirian. Jadi saya menolak pulang. Meskipun dengan begitu komentar-komentar akan menjadi semakin bising dan liar. Saya cuma butuh waktu agar hati saya sembuh dahulu karena saya juga tidak ingin terus menerus lari. Karena bagaimana pun juga saya cuma punya satu tempat kembali. 

Maka seorang teman terkasih mungkin akan bosan mengingatkan saya pulang suatu saat nanti. Pesan-pesan singkatnya yang hanya berisi sepatah kata pulang itu mungkin akan berhenti entah karena bosan atau malah kelelahan. Meski tidak pernah saya balas, tapi diam-diam saya selalu punya jawabannya.


Saya pasti pulang kok, tapi nanti.

Saturday, February 01, 2014

Homesick


Saya nggak tahu apa yang membuat saya jadi kangen rumah tiba-tiba.
Jogja beberapa malam ini dingin dengan hawa dingin yang tidak saya suka. Dingin yang saya percaya mampu membuat sakit. Dingin yang membuat saya homesick. 

Aneh rasanya setiap malam pulang sendirian dengan kedinginan akibat menerabas rintik hujan, membuka gembok pintu pagar sendirian, memasukan motor Azka sendirian, mengunci gemboknya lagi juga sendiri. Padahal biasanya saya tidak perlu bergidik ngeri membuka kunci akibat jalan depan kosan yang sudah benar-benar sepi karena selalu ada motor Dara atau Mita yang mengantri di belakang.

Lalu naik ke lantai dua dan menemukan kosan yang semakin sepi. Melewati koridor gelap dengan kamar-kamar yang sebagian besar lampunya padam. Dingin dan kesepian. Apalagi sehabis sesi latihan maupun street performance yang ramai dan gembira, betapa aneh rasanya mengakhiri hari tanpa sapaan selamat malam pada Mita maupun Dara. Begitu saja, kegembiraan yang menyenangkan itu berlalu dan tiba-tiba saya disergap sepi yang mendadak. Ramai yang dihapus gelap, riuh yang ditelan senyap.

Saya jadi paham kenapa Tika kemarin bersikeras untuk segera pindah ke Mahendra Bayu. Setelah kerap mengeluh akibat kosannya saat ini yang seperti mati, yang senantiasa mencekam akibat selalu sepi. Karena memang hakikatnya seperti itu, pada dasarnya setiap orang selalu ingin pulang ke tempat yang bisa dianggapnya rumah, sementara rumah adalah tempat -yang terkadang bisa saja kamu anggap menyebalkan, tapi- kamu tidak akan pernah merasa sendirian.

Lantas diam-diam saya rindu rumah kayu itu. Rindu pada deretan gunung yang memanjang dari timur ke selatan di belakang rumah, pada garis pantai di hadapan beranda yang berkilauan setiap pagi dan dipeluk jingga sore hari. Saya rindu pada riuh ranting pohon mangga yang bergemeletakan menghantam atap rumah akibat ulah angin selatan bulan juli. 

Saya rindu rumah. Tempat yang selalu mampu membuat saya merasa aman, meski kadang-kadang menyebalkan. Yang memang pada kenyataannya tidak pernah bisa sempurna, tapi setidaknya, di rumah selalu ada selimut hangat setiap kali saya pulang kedinginan. Selalu ada orang-orang yang siap mengisi setiap kali hati saya merasa sepi. Saya rindu rumah, rindu pada jiwa-jiwa yang memberi makna pada kata rumah. Pada renyah tawa kami yang pecah di ruang tengah.


 1 Februari 11:57
foto di atas itu senja dari beranda rumah,
taken with camdig without filter.

Thursday, June 13, 2013

Sakit

Mel, nggak semua sakit bisa sembuh oleh waktu.
Yang bisa sembuh oleh waktu itu cuma sakit hati sama sakit jiwa.
-Zahra Aulianissa, 2013-

Jadi akhirnya hari ini saya ke dokter. Setelah 2 hari demam dan bikin Zahra+Alifa kelimpungan. Dan seperti biasa, harus selalu ada adegan nangis-nangis ala telenovela dulu sebelum Alifa akhirnya sukses ngangkut saya ke dokter buat periksa. Haha.. Alifa sampe bener-bener speechless ngeliat saya yang beraksi pura-pura mati dimix nangis-nangis karena nggak mau ke dokter. Saya bukannya takut dokter, saya cuma sebel setengah mati sama yang namanya dokter #harapcatet #penting.

Tapi akhirnya saya ke dokter juga kok. Setelah nggak tega ngeliat tampang putus asa Alifa dan diancem nggak bakal ditemenin lagi sama Zahra. Kejam memang mereka berdua, ngancem orang nggak kira-kira.  Jadi karena saya lebih milih ngalah sama dokter dibanding nggak dianggep temen lagi sama mereka berdua akhirnya saya jalan juga ke kamar mandi dengan mata basah buat sikat gigi dan cuci muka. Nggak pake mandi, yang penting cakep dan wangi.

Lalu begitulah.. setelah periksa si mas dokter cuma bilang saya kena virus. Saya sih nggak peduli apa diagnosanya, orang saya ke dokter cuma buat nyenengin mereka berdua. Selama saya sakit mereka udah baik banget. Seharian saya nyampah di kamar Zahra, tidur-tiduran sambil dipeluk sama Yeobo boneka beruang raksasa yang ada di kamar Zahra. Saya emoh di kamar sendiri karena malem sebelumnya saya udah  semaleman demam dan sendirian di kamar. Sakit aja udah nggak enak, apalagi sendirian kan? Jadi yaudah, saya jadi gelandangan di kamar Zahra aja, tidur seharian sambil selimutan sambil dikompres demam sama Alifa. Sambil juga tidur di kaki Yeobo.


 
 Dear Zahra, Alifa dan Yeobo. Saya nggak tau membalas kalian dengan cara apa.
Tapi saya berhutang banyak.
Rasa terima kasih saya, yang sangat banyak.


03:59
setelah menyerah tidur.
Besok Asti dioperasi, semoga operasinya lancar dan Asti cepat pulih T.T



Saturday, March 30, 2013

Hai, Dear..


Selamat ulang tahun yang ketujuh ya, gendut ganteng.
Akbar Aditya.
Di sini merindukan kamu rasanya hampir gila.
Tunggu kakak cantik ya pulang ke rumah.



miss u. alot. like always.
:""""(









Monday, March 25, 2013

Aneh.

Mendadak aku jadi kangen Jakarta. Kangen Ibu. Kangen Slipi.
Kangen Mengi. Gila! Mungkin dari seluruh kucing di seisi dunia ini cuma Mengi satu-satunya kucing yang bisa aku kangenin. Dia yang suka ngekorin aku kemana-mana kalo di rumah. Nemenin nyuci piring di dapur belakang rumah. Aku takut kucing tapi aku cuma nggak takut sama Mengi. Soalnya biarpun suka ngekorin, Mengi itu cemen. Selalu kalah berantem sama kucing tetangga, trus juga ada pitak misterius di pahanya. Mungkin juga karena Mengi satu-satunya kucing yang bisa aku percaya, aku tau Mengi ngerti tiap kali aku tatap matanya dan bilang dengan tegas "Meng, gue percaya elo, plis jangan cakar gue". Mengi ngerti.

Aku kangen hangatnya rumah tua dengan pohon belimbing di halaman itu.
Mungkin ini akibat rasa bersalah karena nggak sempet jengukin ibu padahal kemarin udah di Jakarta.
Ibu lagi sakit, tapi kata Zahra nggak mau ke dokter. Aku pengen nemenin Ibu ke dokter.
Waktu akhirnya mama dateng ke Jogja njengukin anak pertamanya, Ibu yang paling seneng lebih dari aku yang dijengukin. Kata Ibu, setelah lebih 3 tahun, akhirnya Melyn ditengokin.
Sekarang Ibu sakit, aku kepingin nengokin. Kepikiran. Semoga aja Ibu nggak ngerasa kesakitan :'( 

Trip Cilacap: Mendoan, Hashtag Kode dan Bapak Perahu

Ini merupakan kelanjutan dari apa yang terjadi setelah acara resepsi Bang Hilmy.

Jam menunjukkan hampir pukul 2 siang, kursi-kursi mulai dibereskan. Aku dan Kak Nadia baru saja selesai sholat dan sedang celingukan mencari Kak Adhi di tempat yang sebelum sholat tadi telah kami sepakati untuk bertemu kembali. Tetapi karena tidak juga menemukan sosok Kak Adhi aku mengajak Kak Nadia langsung ke gedung resepsi. Benar saja, Kak Adhi ada di sana, dirubungi para wanita :P
Di antara perempuan-perempuan itu, yang kukenal cuma Mbak Elvira. Entah bulan kapan, aku pernah diajak mereka ikut rekreasi Jogja-Pacitan, tapi karena sok sibuk menjijikan, aku menolak ikutan, dan akhirnya... menyesal *mengheningkan cipta 3 detik*

Entah ada angin apa Kak Adhi menawari kami berdua untuk ikut dalam rombongan mereka. "Nanti kalian turunnya di Purwokerto, Nadia ke Jakarta, Melyn ke Jogja" katanya. Meskipun tadinya berencana pulang dari Cilacap demi mendapatkan tiket Efisiensi Cilacap yang aku belum punya, pada akhirnya aku menurut saja, yang namanya adik kan memang harus nurut kata kakaknya, maka, segera setelah semuanya fiks Aku dan Kak Nadia segera izin ke dalam gedung untuk pamitan pada Bang Hilmy dan yang lain. "Jangan lupa sering main ke Kalibagor biarpun Hilmy udah nggak tinggal di sana lagi," begitu pesan Bapak saat aku dan Kak Nadia pamitan pulang. Aku mengejar-ngejar Neysa minta dipeluk, sudah harus pulang padahal baru bertemu sebentar dan akan bertemu lagi entah kapan. Kangennya aja belum selesai '"((


Neys :')

Begitu sampai di mobil, aku dan Kak Nadia ternganga. Teman-teman Kak Adhi ada banyak ternyata. Tadinya karena takut tidak muat, aku dan Kak Nadia memutuskan untuk tidak jadi ikut rombongan mereka, tapi karena Mbak Vira dan Mbak Anis meyakinkan dengan separuh memaksa bahwa mobilnya muat, akhirnya aku, Kak Nadia dan 3 wanita seksi lainnya menjejalkan diri di bagian tengah mobil yang Mas Eriz kendarai. Lalu berangkatlah kami.

Destinasi pertama begitu mengambil uang adalah stasiun. Rombongan teman Kak Adhi yang bekerja di Jakarta berniat pulang hari itu juga. Sementara Kak Adhi dan yang lainnya di dalam stasiun, memesan tiket. Aku, Mbak Anis, Mbak Vira dan Mbak Uut foto-foto di luar dengan rusuh. Lengkap dengan properti bunga krisan kuning yang kami ambil diam-diam dari tempat resepsi :P

atas: Mas Gandhi, Mas Eriz, Mbak Yolanda, Kak Adhi
bawah: Mbak Anis, Mbak Vira, aku, Mbak Uut Seksih

Begitu selesai memesan tiket dan makan, ternyata ada agenda main-main di pantai. Entah siapa yang menginisiasi tapi dugaanku pasti Bang Martha. Melihat antusiasmenya yang rela jalan kaki pulang lalu tiba-tiba sudah berganti kostum pantai. Hiyya! :DD


Sepanjang perjalanan rusuh dan seru, Bang Martha mengajak kami ke pantai Teluk Penyu. Diantara kami bersebelas, yang asli berasal dari cilacap cuma Bang Martha dan Mas Gandhi, sedangkan Mbak Anis dan Mbak Uut berasal dari Pekalongan. Maka yang terjadi di dalam mobil adalah perang antar ras karena kedua kubu saling membanggakan daerah asal. Bahkan Mas Eriz dan Kak Andan yang asalnya Bumi Ayu pun juga sesekali terikut masuk dalam perseteruan :P Aku mendengarkan mereka tanpa berkomentar apa-apa, sedikit bingung sebenarnya mereka memperdebatkan apa, yang aku tangkap adalah, ini konflik kesukuan. Jadi melipir saja, haha..

Di ujung horizon tampak sebuah pulau: Nusakambangan. :D
Teringat rancangan-rancangan trip akhir tahun lalu, aku, Kak Nadia, Bang Hilmy dan Kak Adhi pernah punya wacana berkunjung ke pulau ini, tapi sayangnya ndak jadi.


di perahu
Nusa Kambangan merupakan salah satu taman nasional yang ada di Indonesia. Pulau ini terkenal sebagai tempat terletaknya beberapa Lembaga Permasyarakatan (LP) berkeamanan tinggi di Indonesia. Tadinya, pulau ini memilliki 9 buah LP yang dipakai untuk menampung para narapidana maupun tahanan politik, namun LP yang masih beroperasi hingga saat ini tinggal 4 buah sementara 5 sisanya telah ditutup. Selain sebagai tempat tinggal narapidana, pegawai LP dan keluarganya, pulau ini juga merupakan habitat bagi pohon-pohon langka. Salah satunya adalah pohon kayu plahlar yang hanya dapat ditemukan di pulau Nusa Kambangan. Sayangnya, pohon kayu jenis ini sudah banyak dicuri sehingga jenis tanaman yang banyak tersisa tinggal jenis perdu, nipah dan belukar. Konon, pulau ini juga tercatat sebagai habitat terakhir dari bunga the true wijayakusuma, itu loh bunga yang dalam cerita wayang bisa nyembuhin orang yg sudah meninggal. Maka dari sinilah nama Nusa Kambangan berasal yang berarti Pulau Bunga.

aku, Mbak Anis, Mbak Uut, Mbak Vira, Mbak Yolanda, Mas Eriz, Kak Andan, Kak Nadia
Adek yang satu ini doyan banget di poto.
Karena dia tidak mau minggir saat kami mau poto bersama
(yang ada malah Bang Martha yg dilemparinya dengan botol air mineral kosong) akhirnya kami ajak dia ikut foto bersama saja :)
Waktu aku tanya namanya siapa dia menyahut tidak jelas.
Dengung yang sampai ke telingaku namanya Asyin, tp kata Mbak Uut namanya Ajeng.
Entah siapa yang paling ngawur.



Sebenarnya, ada beberapa objek yang dapat didatangi di pulau ini, diantaranya adalah sebuah gua yang berada di areal hutan bakau, lalu ada juga sebuah prasasti peninggalan zaman VOC. Sementara itu, di ujung timur, di atas bukit karang, berdiri mercu suar Cimiring dan benteng kecil peninggalan Portugis.

 

Sayangnya, karena waktu yang terbatas kami belum bisa mendatangi satu per satu objek-objek itu. Persoalan paling krusial lainnya adalah soal sepatu dan baju. Haha.. namanya juga orang kondangan, ya setelannya semua pada rempong, nyaris semua dari kami mendatangi pulau ini dengan bertelanjang kaki. Bodohnya, jalanan di pulau ini ternyata isinya batu kerikil semua, sementara kami belum sesakti limbad maka  akhirnya kami berkeliling pulau dengan perahu, berfoto-foto saja untuk menghabiskan waktu.




Aku bahkan masih ingat rasanya semenyenangkan apa. Cekikikan sampai sakit perut sementara Mas Eriz menyetir mobil. Main ledek sana sini. Sengit-sengitan sama Bang Martha. Ngegombalin bapak perahu. Mbak Uut yang ngekodein abang-abang, juga modus Mendoan :P
Lalu ada aku yang tiba-tiba dijodoh-jodohkan dengan Kak Andan cuma karena menanyakan nama, serta celetukan-celetukan ajaib lain yang selalu mampu memancing tawa.



dan lagu I'm Yours-Jason Mraz+Jar of Heart-Christina Perri yang mengiringi perjalanan kita :'))

Wednesday, October 31, 2012

The Best Place


Maka pada akhirnya kembali ke rumah. The Best Place Ever: Mahendra Bayu. We can eat, we can sleep, cooking or watching movies. Pada bilik kamar tak sampai 3x3 meter dengan kabel kecil biru yang memberikan akses internet 24 jam. Kasur yang bisa diberdirikan sehingga kamu bisa gelindingan di lantai karena kepanasan. Dengan udara yang selalu ramai dengan celotehan. The Best Place Ever.

setelah pulang dari kesana kemari cari tempat internetan berAC  dengan Alifa tapi sialnya malah pada tutup semua
mau mengerjakan tugas tapi hawa kosan bikin malas
jogja akhir akhir ini luar biasa panas :\

Sunday, October 28, 2012

ketika kamu kabur dari rumah lalu menemukan rumah


Saya lagi kangen sama rumah dan menemukan gambar-gambar ini.
Lucu, gimana saat itu saya yang sebenarnya sedang berusaha kabur dari rumah karena menghindari orang-orang di kampung akhirnya dapat merasa homey di rumah yang lain, bahkan bersama orang-orang yang bagi saya asing. Anehnya adalah, saya merasa hangat.


bersama haura
yang pake belt merah di sebelah saya itu mbak beby. saya kangen mbak beby :'")

lebaran 2012 di rumah Zahra
saya bersyukur lebaran waktu itu saya kabur ke tempat yang tepat :')

Thursday, October 25, 2012

then i'm speechless and in love.




superthanks to you :'''')))

setelah ini saya akan sholat dzuhur lalu tidur. punggung saya hangat oleh salon pas. perut saya nyaman dengan aroma vicks yang menenangkan. lalu kamu akan pulang dan demam saya akan begitu saja hilang.

dan rasa terima kasih saya, tidak akan pernah bisa dengan pas kamu terima karena memang tidak ada kata-kata yang mampu menampungnya.

Terima Kasih yang sangat banyak :)

tawar


Maka, inilah terang dan bingar. Riuh dan ramai. Dan semuanya gara-gara Sukab yang bodoh, tolol menyebalkan juga tidak pakai otak.

Aku memutar kursi merah muda yang kududuki, di pandanganku rak rak berputaran, minuman-minuman kemasan, berbungkus-bungkus rokok, orang-orang dengan seragam, orang-orang tanpa seragam, orang-orang berkulit sawo matang hingga cokelat pekat, orang-orang berambut keriting dan yang tidak berambut keriting, yang memakai topi maupun tanpa topi. Lalu lampu-lampu.

Berganti-gantian, orang masuk dan keluar. Memilih roti-roti, lantas membeli kopi. Tapi banyak  juga yang dengan cepat langsung mengantri di kasir untuk membayar rokok serta bir. Sementara aku masih saja diam dalam kursi yang berputar: menyeruput kopi yang panasnya mulai pudar. Menghitung kendaraan yang lewat di jalan kaliurang, check in foursquare dengan wifi gratisan, lantas meng- flight mode hape. Menatap kasihan pada lelaki paruh baya yang teler di dekat parkiran motor sambil mengunyah astor. Jari-jariku rasanya beku.

Dinginnya malam ini bikin ngilu, dingin yang sama yang dulu pernah menjadi candu. Ini sudah lewat tengah malam, seharusnya aku melangkahkan kaki untuk pulang. Tapi yang namanya pulang itu kan adalah perjalanan kembali menuju kenyamanan setelah penat yang hingar bingar. Namun  tentang apa yang disebut  orang-orang dengan rumah merupakan sesuatu yang serasanya saat ini aku enggak punya. Jadi aku melangkah saja. Sembari sibuk sendiri dengan kekosongan yang mengisi kepala.

Orang-orang tentu menatap aneh pada anak perempuan yang berjalan kaki sendirian sambil membentur-benturkan permen cupacups mengikuti irama saman. Lampu-lampu berlesatan di jalan kaliurang. Malam yang pekat kadang-kadang memang bisa menakutkan, tapi memangnya apalagi yang layak kutakuti sementara keberadaanku sendiri sudah cukup mampu membuat ngeri. Dikira orang stres masih lumayan, paling sering malah dikira setan sama tukang sate gerobak dorongan. Toh tidak mengapa, karena memang hanya orang-orang tertentu yang tahu betapa semesta bisa jadi sebening ini di dini hari.

Bagaimana dingin yang pilu bisa berefek seperti candu.

Langit di atas kepalaku warnanya merah dan hening ini membuat betah. Menenangkan adalah ketika akhirnya menemukan jeda setelah suara-suara yang terasa sangat ribut di telinga, bahkan bisingnya menembus sampai  kepala. Hingga kemudian, suara paling ribut dan bising yang dapat kutemukan adalah suara kakiku yang bergesekkan dengan sendal setiap kali berjalan, suara alat masak dari gerobak penjual nasi goreng, dan suara terbahak muda-muda yang mungkin sedang mabuk di kegelapan gang.

Nyaris pukul 3
Sebelum bikin mi rebus telur untuk sahur puasa arafah.

Friday, August 31, 2012

Libur

Jadi hari ini rusuh dan seru.
Pagi-pagi aku bangun kesiangan (lagi!) dan langsung mandi. Iya, setelah seharian kemarin yang tanpa mandi sama sekali. Habis mandi melamun lama di dalam kamar, lalu Alifa pun datang. Ngobrol-ngobrol sebentar membahas skripsi. Aaahh aku paling benci bahasan skripsi. Meskipun udah mantap untuk nggak ambil skripsi semester ini, diam-diam aku galau juga di dalam hati. Rasanya masih betah jadi mahasiswa, belum kepingin cepat-cepat lulus kuliah.

Karena sedang malas keluar, Alifa mengusulkan sarapan dengan nasi, telur dan kecap. Ini menu langka yang sederhana. Selain itu, aku juga rindu pada menu telur dadar yummy basah dari fiilem Kungfu-Chef yang aku tiru. Ahak!

Sembari makan kami melakukan aktifitas nonton seperti biasa. Filem 5 Years Engagement, yang main si Emily Blunt dan Jason Segel yang mainin tokoh Marshall di How I Met Your Mother. Disini Emilynya cantik, entah kenapa jadi lebih mempesona dibanding waktu main di Devil Wears Prada, sama juga kayak Jason Segel yang kebetulan kali ini bukan kedapatan peran cacat kayak si Marshall. :P
Minusnya cuma 1, banyak adegan biru yang sebenernya enggak perlu. Ho,

Baru 1 jam nonton, tiba-tiba Onye dateng ngajak bersihin kamar mandi bareng. Setiap kali liburan emang kayak gini, jadwal piket kamar mandi jadi kacau balau. Dan kamar mandi yang udah terlanjur kotor gak karu-karuan, enggak jarang bikin orang yg harusnya piket jadi males-malesan. Yaudah aja, akhirnya meskipun bukan jadwal piketnya aku sama Mita, kami berdua inisiatif bersihin aja. Mau enggak mau, suka enggak suka. Karena memang harus ada yang memulai langkah pertama.

Entah untung entah sial, daerah kos-kosanku mati lampu dari pagi. Jadinya abis kelar bersih-bersih kamar mandi malah bingung mau ngapain lagi. Belakangan, aku sama Mita suka janjian sholat jamaahan, imamnya ganti-gantian, itung-itung latihan. Kalo ada Alifa sama Azka biasanya mereka juga suka diajakin sekalian, cuma mereka suka takut-takut kalo disuruh gantian jadi imam. Padahal kan juga sama-sama belajar, sekalian ngebagusin bacaan.

Hari ini hari kedua terakhir masa KRS-an. Aku belum KRS Online, apalagi manual. Barangkali satu-satunya makhluk yang enggak sibuk KRS-an di Mahendra Bayu ya cuma aku. Selow pisan, kayak nggak ada beban. Well, masalahnya adalah cuma sesederhana aku yang galau mau ambil makul apa, mau KRS manual juga Slip Pembayaran SPP masih di Manado dan baru bisa dikirim tanggal 3. Padahal ya, ini tu udah tanggal 30 dan KRS-an terakhir tinggal besok tanggal 31. Terus, Mel, gimana? Ya enggak gimana-gimana dibawa selo aja kayak enggak bakal ada apa-apa. Biar enggak kayak orang susah. Untuk melenyapkan kegalauan sebenernya cuma perlu banyak-banyak diskusi, sayangnya satu-satunya orang yang dapat menerimaku welcome cuma Dewi. Yaudahlah, sementara Dewi belom bisa dihubungi, sok iye dikit kan ndakpapa. Wkwkw..

Lalu lalu, apalagi ya?
Siang separuh sore tadi aku menemani Onye belanja. Ditengah suntuk dan rasa ngantuk akibat mati lampu seharian ini, ajakan Onye tentu saja merupakan bingar ditengah padang sunyi. Aku sih window shopping aja, pengen sih beli baju baru, tapi lebih kepingin beli buku. Setegah mati kepingin nambah buku-buku buat koleksi.. #kodenih#kodebanget!
wkwkwk..

Ah, dan hari iniii, setelah bertahun-tahun menjadi wacanaaa, akhirnya mahendra bayu poto studio jugaaa.. #kamsepay.
Seneng :). Walaupun sempet huru-hara prahara pada awalnya. But, thanks to Citra yang baruu aja kemarin diwisuda. Jadi ceritanya karena besok sore Citra udah harus pindah ke malang buat lanjut S1, agenda foto studio ini jadi pada diutamakan sama anak-anak Mahendra Bayu. Dan ya, lagi-lagi seorang Nurjannah Melynda dituntut situasi untuk menjadi EO dalam agenda ini, gak peduli meskipun dirinya sudah jelas-jelas menyatakan diri kapok jadi seksi sibuk dari berbagai acara lala lala di kosannya (baca: trip telusur pantai wonosari, nonton the raid, dan poto studio). Rusuh! karena studio poto yang siang tadi sudah dibooking oleh saudari Nurjannah Melynda bersama saudari Mita mendadak penuh. Akhirnya setelah aksi marah-marah, enggak terima, dan telepon sini sana, acara foto studio berhasil gagal dibatalkan. =P

Kemudian, hari yang panjang ini ditutup dengan sesi sms-ria dengan mama. Masalah klasik, lagi-lagi omongan orang. Untungnya anaknya ini sudah bebal, lantas mengatasinya dengan senyuman.

Sudah lewat tengah malam. Selamat beristirahat dengan tenang :)

Kamu layak beristirahat dengan tenang, Mel.
Sayangkamuh *cipoks =*

45 menit lewat pukul 1
Jangan kesal, Melyn Sayang.
Jangan dendam.
Jangan marah, karena rumah memang nggak ada yang sempurna..
Yg namanya anak itu, kepada orangtua memang jatahnya mengalah,
Minta maaf kan enggak ada salahnya.
*cipoks  (lagih) =**

Monday, August 27, 2012

Sampai Rumah





Maka, definisi merasa nyaman malam ini adalah dapat kembali menikmati kamar yang tenang setelah 38 hari KKN dan 11 hari pengembaraan. Iya, setelah hanya sempat menyinggahinya beberapa jam untuk kemudian meninggalkannya dalam keadaan super berantakan. Lalu pulang-pulang aku menemukan kerusuhan ini. Menanganinya butuh ketenangan hati. Maka malam kemarin aku memutuskan mengangkut kasur pindah ke kamar Azka: tidur berempat dengan Alifa serta adiknya, Maya.

Keputusan salah! Karena kemudian yang 
aku, Azka dan Alifa lakukan malah mengobrol seru tentang cerita KKN yang seperti tidak ada habis-habisnya. Iya, bahkan hingga pukul 3.

Tapi sekarang kamar sudah tidak lagi rusuh berantakan. Zahra dan Mita juga siang tadi sudah kembali datang. Sementara rumahku adalah mereka, maka sekarang aku sudah pulang.

Selamat sampai di rumah Melynda :))

setelah ngerumpi seru di kamar Alifa
23:05

Sunday, July 03, 2011

pilihan

saya sedang berpikir apa jadinya jika saya memilih pulang?
barangkali sejak beberapa hari lalu, saya sudah asik menjelajah makassar. menikmati detik-detik matahari tenggelam di loteng rumah yang selalu memberikan view sunset spektakulernya yg biasa. merengek minta diajak ke tempat makan pemancingan seperti yang mereka pamerkan di poto. bermain seharian di trans studio yg letaknya di belakang rumah itu, untuk kali terakhir.

dan mungkin saya tidak akan punya potongan rambut baru seperti sekarang. tidak akan punya buku spiral baru dari kertas bekas dengan cover warna merah dan hijau. tidak menemukan spot menyenangkan di sebelah pintu bersandar lemari yang dulu pernah jamuran. tidak akan pernah tahu bahwa memberdirikan kasur untuk melakukan hal-hal menyenangkan dapat membuat kamar lebih lapang. juga tidak akan seharian menonton drama asia dengan penampilan rambut yang diikat seperti ninja.

saya tidak sedang menyesal, hanya memikirkan kemungkinan-kemungkinan dari pilihan yang sudah saya relakan.

peluang itu sudah membuat saya merasa silau dan memutuskan pilihan.
baiklah,

28 hari sebelum ramadhan
tanggal 2 sya'ban
3 juli 2011, dua menit lewat pukul 11
hari ini, keluarga saya pindah ke manado
ceracauan setelah melihat status facebook mama
semoga ini tidak terlalu bodoh untuk melepaskan bunaken demi trip sumatera =)

Tuesday, June 14, 2011

gambar



entah ini rindu atau mungkin cemburu
aku cuma tau SEHARUSNYA aku juga ada disitu

ah, bagaimana jarak bisa menjadi sebegini keterlaluan?

aku kangen rumah, kangen mereka x'(


hari selasa di kamar yg biasa
jarak, kamu tau aku marah sama kamu! not talking

Sunday, April 03, 2011

*03: my number one man

dia memang bukan laki-laki yang akan membangunkanku sampai kali ketigapuluh untuk sholat subuh macam ayah tika. bukan pula seseorang yang akan sholat dan mengaji di kamarku seperti papi kak ela ketika ia kangen anak perempuannya.
bukan jenis ayah yang akan selalu bertanya "kamu kurang apa?" tapi jelas adalah yang selalu mencukupkan jika kukatakan "papaaa, melyn kurang itu, karena ini, ini dan ini". lelaki yang pernah mengeluarkan nyaris satu juta rupiah dalam semalam di hari terakhir liburanku hanya untuk membayar segela repetan tentang chinese food pinggir jalan, burjo dan angkringan. Juga demi mengurai rasa iri atas ketiadaanku dalam cerita abadi keluarga ketika adik-adikku membangkrutkannya lewat rumah makan padang mahal di suatu malam. satu-satunya orang yang paling bisa kuandalkan di seluruh jagad semesta alam.

laki-laki yang tak peduli seberapapun lelahnya ia sepulang kerja, selalu mengajakku keluar untuk sekedar beli martabak terang bulan atau bahkan hanya berkendara tanpa tujuan.

aku ingat suatu malam ketika pesawat yang akan membawaku ke jogja batal terbang. saat itu, akhirnya papa memutuskan untuk me-refund penuh tiketku. membuatku harus melupakan keinginan untuk bisa ikut merasa terlantar dengan para penumpang lainnya.

dan pada akhirnya kami memang pulang ke rumah. berkendara dari bandara sampai jantung kota. hanya kami berdua, benar2 cuma berdua, tanpa aditya yang biasanya ada. berhenti di rumah makan padang dan mendapati dompet papa ditipu habis2an. 72ribu untuk satu orang sekali makan. benar2 sinting, kan?

dan yang selanjutnya kudengar ialah suaraku sendiri. mendongenginya tentang seperti apa kehidupan di jogja. tentang kuliah, tentang kosan yang sudah kemalingan dua kali, tentang jamur2 di lemari, tentang kakak angkatan yg ngajak tinggal satu kontrakan, tentang apa-apa saja yang biasa kumakan. aku enggak pernah tau apa papa bisa menangkap semua ceritaku. aku juga nggak peduli apa kata2 itu cuma masuk kuping kanan dan kemudian keluar lewat kuping kiri, atau malah masuk kuping kiri dan kemudian mental lagi. tapi satu hal yang pasti, di malam terakhir itu, aku merasa semua alasan kenapa aku ngotot pengen pulang padahal jogja lagi hiruk-pikuknya berhasil kulunaskan.

memang tidak banyak yang tau bahwa diam-diam aku mensyukuri malam itu. momen ketika aku, pada akhirnya bisa melunaskan rindu.

dia.. memang bukan laki-laki yang akan dengan sabar membangunkanku sampai kali ketigapuluh untuk sholat subuh. bukan pula yang ketika sedang kangen, akan sholat dan mengaji di kamarku. tapi yang aku tahu, sekujur kepalanya memutih untuk menyayangiku.

u just the guy that no matter how many more guys i go through
i'll always have a thing for u.

pada gerimis yg lebih besar di kamar 14
mahendra bayu pukul 17:51
tulisan ini, terinspirasi postingan mas nuran disini.

Saturday, February 05, 2011

aku suka sekali

Suasana gerimis di pagi hari.
Sejuknya,
aromanya,
butirannya yg menempel di kaca,
Suaranya yg menimpa atap seng rumah tetangga.

Tanah becek mengotori celana,
Pengendara motor memakai jas hujan dgn terpaksa,
Anak kecil yg tak bisa pergi sekolah
Sebagian org mngutukinya

Tapi aku mencintainya
Hanya karena ia setia menemaniku mendiami rumah ini sepanjang pagi yg lengang
Menunggu orang2 pulang

10.14 waktu makassar
Duduk bersandar di lantai atas dekat tangga
Beralas selimut motif lumba2

*)repost tulisan kemarin. hari ini hujan lagi.

hari libur

Berada di rumah pada hari libur hampir selalu jadi hari yang tidak menenangkan sama sekali.
Entah kenapa papaku itu selalu saja punya sesuatu untuk di kerjakan di setiap hari libur kerja. Sewaktu liburan panjang semester yang lalu, papa sukses membocorkan selang pemanas air di kamar mandi utama saat membongkar salah satu temboknya dengan tujuan entah apa yang menyebabkan pemanas air otomatis di kamar mandi tersebut tidak dapat dipakai selama beberapa bulan. Maka jadilah, selama hari libur hari libur selanjutnya papa habiskan untuk membereskan kekacauan yg yah.. (mau bagaimana lagi?) terjadi karena ulah papa sendiri.

Hari libur pertama aku di rumah, papa membongkar sebuah kalkulator yg beliau temukan di dalam laci hanya dalam beberapa menit dan kemudian menghabiskan sepanjang sore untuk merakitnya lagi yg kemudian menjadikan informasi yg diberikan kalkulator tersebut mjd tdk valid.
Yah, kami sekeluarga rata-rata sudah paham bahwa barangkali mengacaukan sesuatu kemudian membereskannya kembali sudah menjadi semacam stress healing bagi papa setelah lima hari menghadapi sumpeknya pekerjaan. Sebuah kegiatan yang untukku memiliki efek sama dengan jalan2, menggambar, mengacaukan dapur ataupun tidur.

Sewaktu dinas di aceh dulu, ketika kami di fasilitasi rumah yg cukup besar dengan banyak kamar. Papa bahkan punya sebuah ruang khusus untuk menyimpan segala perkakas serta balok-balok kayu yg entah papa dapat darimana. Dan jadilah, karena situasi konflik yg tidak memungkinkan kami untuk menghabiskan hari minggu dgn menelusur jauh smpai ke pelosok desa, papa lebih sering menghabiskan waktu di dalam ruangan yg kami sebut gudang itu dan berhasil menciptakan 1 set kursi yng meskipun lebih mirip kursi pantai, tapi kami jadikan kursi untuk meja makan (bisa juga dipakai untuk tiduran karena posisi sandaran yg dapat disesuaikan batting eyelashes)

Selanjutnya, ketika aceh sudah mulai aman dan balok-balok kayu itu sudah bertransformasi menjadi bentuk2 yg berbeda kami memutuskan untuk memindahkan perkakas papa ke kamar yg lebih kecil agar kamar bekas gudang yg faktanya merupakan kamar paling luas di rumah bisa menjadi kamarku dan fitri. Dan selama beberapa waktu, hari libur menjadi hari yg damai dimana kami menghabiskannya dengan berjalan2 dan bermain di pantai.

Ketika kami pindah ke banjarmasin. Rumah dinas yg kami tempati tidak terlalu luas yg bahkan rasanya begitu ngepas untuk ditinggali 6 orang. Dan dikarenakan banjarmasin merupakan kota yg minim tempat wisata dimana mall yg hanya satu biji itu yg mnjadi hiburan biasa dicari bagi masyarakatnya dan karena keluargaku bukanlah keluarga yg sangat hobi berjalan2 di mall selain untuk belanja bulanan ataupun belanja hari raya, jadilah hari libur menjadi hari yg cukup memenderitakan dimana suara mesin2 perkakas papa berdengungan dgn nyaring di seantero rumah.
Itulah kenapa kami paling suka menyambut ajakan papa berkendara sampai ke banjarbaru, martapura, pelaihari bahkan pernah sampai ke batas provinsi dgn tanpa tendensi.

Untunglah di makassar ini ada banyak tempat wisata tempat wisata yang tidak habis2 untuk di kunjungi. Dari yg tidak sampai 2 jam perjalanan macam bantimurung, yg 6 jam lebih macam bira smpai yg memakan waktu hampir seharian perjalanan. Maka jadilah, hari libur menjadi hari yang menyenangkan dimana kami sekeluarga mengemas beberapa barang (termasuk makanan) dan pergi piknik ke suatu tempat. Tapi ada juga hari libur seperti minggu lalu ketika papa memutuskan untuk main badminton bersama teman-temannya sampai siang, lalu kemudian membongkar sebuah barang yg sedang sial baru sorenya memenuhi rengekan aditya berkeliling kota, melewati losari dan tanjung bunga dan menikmati pantainya dari jalan raya.

Dan di hari libur imlek kemarin, kami tidak kemana-mana. Ternyata papa memutuskan untuk membongkar kursi mobil bagian depan dan belum dipasang kembali hingga sekarang. Mobil yang malang.
Rencananya, hari sabtu dan minggu ini kami mau ke toraja atas ajakan papa. Toraja. Aku melihatnya sebagai kota yg jauh yg kaya akan ritual-ritual. Yang katanya upacara kematian jauh lebih megah dibanding kawinan. Tempat kerbau2 merah muda berbercak hitam diperlakukan macam raja, yang pamongnya saja diupah sampai 600ribu per bulannya.

Bermacam jajanan sudah dibeli untuk teman perjalanan yg panjang, dari permen smpai kacang, biskuit juga beberapa roti-rotian. Bahkan aku dan mama sudah bersemangat mau bikin brownis segala juga mempersiapkan untuk makan beratnya karena menurut kabar yg beredar di toraja agak susah menemukan tempat makan yg terjamin kehalal-annya. Kami akan berangkat hari sabtu pukul lima pagi.

Tapi ternyata, dua hari sebelum hari H, kami menyadari fakta bahwa hari sabtu adalah hari dimana seluruh pelajar di wilayah indonesia harus masuk sekolah. Begitu juga dengan fitri dan tio. Dan karena sangat tidak mungkin menyuruh mereka izin dengan alasan piknik terlebih karena fitri ada ujian hari sabtu itu, maka diputuskanlah piknik ke toraja TIDAK JADI! Huaa...huaa.. *nangis darah.
Alasannya, ini piknik keluarga jadi percuma saja jika jadi pergi tapi tidak ikut semua. Yah alasan yang dapat diterima.

Hahaa.. Kalau dipikir2 bodoh juga.
Terlalu bersemangat terkadang membuat lupa pada hal-hal sederhana.

Monday, January 31, 2011

tentang saman, ratoh duk atau apapun namanya

aku baru aja baca postingan terbaru dian. dia salah satu anggota dalam tim tari aceh imaba sekaligus salah satu staff di medinfo juga. termasuk yg paling semangat latihan kukira.

sewaktu aku mengemis izin dari temen2 penari lain untuk nggak ikut tampil di tanggal 6 nanti yang berarti aku bisa tetep di rumah sampe lewat tanggal 31 sementara enggak dgn temen yg lainnya, aku tau dian yg paling kecewa. lewat diamnya, lewat gelengan kepalanya, lewat matanya. aku ini koordinator bagian bendahara tapi gimana bisa aku lepas tangan begitu aja. mengundurkan diri dengan tiba2.
sedikit banyak aku bisa baca apa yg ada dikepalanya. sedikit banyak aku punya gambaran seperti apa aku di matanya waktu itu. sama kayak gimana aku dulu di mata mbak cindy sewaktu menolak tampil di UIN tempo hari demi rihlah sm temen2ku yg lain lagi.
melyn yg ga punya komitmen, yg ga bisa berkorban, serta sejuta yang yang lainnya.

aku nggak akan bilang penilaian itu salah. aku sadar itu wajar. toh aku juga tau, semuanya juga pengen pulang. semuanya juga kangen rumah. enggak cuma aku aja. tapi gimana caranya kita bisa profesional, itu yg mesti dipikirkan. dan saat itu aku cuma pengen egois. sama kayak aku yg sekarang. egois gak ketulungan.

dan pada akhirnya, satu2nya hal yang aku bisa lakuin sekarang cuma minta maaf. yg bahkan udah aku lakuin berhari2 yang lalu dgn sangat di depan dian.
juga yg penuh di dadaku sekarang cuma rasa bersalah. sementara aku bisa enak2an di rumah sampe lama, tapi dian dan mungkin juga temen2 lainnya udah harus di jogja, berdiam di kosan mereka yg masih sepi. mengorbankan diri untuk latihan demi tanggal 6 nanti.

maaf sad benar2 maaf sad

ps: yah, dan aku masih juga seperti dulu. ngotot di awal, tapi selalu merasa bersalah setelah mendapatkan apa yg aku inginkan. teringat dulu perdebatan2ku dengan papa.
ya ampun melyyynnn.. apa gunanya mendapatkan semua kalau kemudian kau cuma akan merasa bersalah?
yah, ini pertanyaan lama. jawabannya sudah ada, hanya tidak mudah untuk selalu mengingatnya.

menuju tengah malam
beberapa puluh meter diatas tanah.

hujan seharian

Hari ini makassar hujan seharian.
Hujan angin kencang tadi siang, dengan petir yang bersahut-sahutan.

Aku teringat satu hari sebelum aku berangkat kesini. Saat itu juga hujan, tak henti2 mengguyur jogja sejak pagi, angin kencang menerbangkan apa yang ada di jemuran, bahkan juga boneka berat dame yang dijemur pada tembok dekat beranda.

Aku yang saat itu terjebak di kosan. Seharian. Tak bisa kemana-mana. Cuma online saja.
Kesepian, kedinginan, dan lapar.

Cuma suara angin yg menampari sunyi. Kos-kos an sepi. Terasa kosong macam tak berpenghuni. Sebagian besar sudah pulang ke kampung halaman, sebagian kecil menetap di kamar, mungkin tidur siang, dan beberapa sisanya berkeliaran.

Sampai akhirnya rasa lapar menjadi semakin liar dan tidak tertahan.
kuputuskan untuk menyusuri lorong gelap di depan kamar azka. Menuju rak tempat makanan bersama. Maghrib hampir tiba. Sebungkus macaroni instan la fonte itu akhirnya kuambil juga.
Kembali ke kamar, kemudian merendamnya dengan air panas dari dispenser yg kuletak di dekat jendela. Menelannya separuh mentah.

Tapi sekarang aku di rumah. Tidak merasa sepi sama sekali. tidak merasa sepi lagi. Hanya sekedar mengutuki fitri yg ngotot menghidupkan AC pada cuaca sedingin ini.
Sangat-sangat bersyukur atas bedcover-putih-tebal yang saat ini menyelimutiku, bahkan untuk kasur yang terseprai rapi -yang bahkan tidak kupunyai di jogja sebab dua sepraiku kotor semua dan dua sisanya hilang entah kemana-
untuk televisi yg menyusutkan masa, juga untuk makanan yang cukup serta air putih yang tidak lagi sebagai pengganjal perut.

Dan terlebih lagi aku bersyukur untuk mereka yang memenuhkan rumah. Untuk aditya yg bisa kudengar tawanya maupun kupecahkan tangisnya.
hari ini memang hujan seharian,
Tapi aku bersyukur sekarang aku di rumah. Dan masih di rumah.
Home sweet home.

pada terakhir januari
Taman dahlia pukul 21:32
Menyaksikan air hujan yang abadi di jendela
Goresan di jari sudah tak nyeri lagi

Saturday, January 29, 2011

i'm home, finally...

Masih butuh waktu untuk mencerna ini semua. Aku disini, di bagian atas tempat tidur tingkat dengan pilar2nya yang berwarna cokelat tua, mengetik, diam, tenang, menghadap dinding berwarna krem keemasan. Menoleh ke kanan, mendapati jam dinding, malam mulai menua. menoleh ke kiri menemukan AC yg jaraknya hanya beberapa jengkal dari ujung kepala.

Sekarang aku di kamar. Di kamarku yang nyaman.

rasanya tidak terkata sewaktu tau seluruh keluarga, dalam formasi utuh ramai2 ikut menjemputku. Aditya bahkan sudah tertidur di pangkuan mama sewaktu aku memasuki mitsubishi kuda keluarga kami yg tidak terganti. Benar2 mirip aku jaman dulu. Begitu jam 9 berdentang, ngantuk pun segera datang. Tidak bisa ditawar2. persis kakaknya.

Sepanjang perjalanan waktu itu rasanya aneh sekali. Baru beberapa hari lalu aku merasa begitu rindu pada orang-orang ini. Merindu dgn kerinduan yg tak tertahan. Yang bahkan membuatku menangis nyaris setiap malam. Mengutuki jarak yang jauh memisahkan kami. Tapi sekarang?
Aku baru saja menahan iri melihat tio yg telah diizinkan papa mengemudikan mitsubishi kuda kami. Ah, aku ingin bisa nyetir mobil juga.
Well, sekarang dia jadi supir keluarga. Yah, aku paham, begitulah anak lelaki tertua seharusnya.

Dan papa disebelahnya. Semakin tua, semakin lelah, tapi semakin berwibawa juga. Semakin arif tampaknya. Yah, semoga..

Di mobil waktu itu ramai celotehan kami. tentu saja selain suaraku sendiri menceritakan kehebohan adegan 'dewi motik dan tatty elmir keluar studio' sewaktu taping kick andy tempo hari.
Dari mulai harga durian yg mulai musim sekarang, pisang dirumah yang telah berhari2 di peram tapi tak matang2 hingga cerita bangkrutnya papa beberapa hari lalu di rumah makan padang.
Tapi yg pasti aditya mendominasi topiknya. Tentang dia yang telah bisa mengetik password di laptop papa. Yang katanya sekarang lebih pintar main laptop dibanding mama. Tentang ocehan-ocehannya kala memainkan game yang susah. Tentang suatu malam ketika semua orang mulai beranjak tidur tapi dia malah menyeret selimut ke ruang tv dan menonton tv sendiri dengan berani, kemudian malam itu papa pergi ke ruang tamu dan mematikan aliran listrik, lalu dia pun menjerit.
Tentang dia, yang merindukanku. Tentang dia yang mirip aku.

Dan kericuhan di mitsubishi kuda ini selalu berdampak aneh terhadapku. Di satu sisi rasanya ikut senang juga, mendengar segala keseruan hang out mereka. tapi sedetik kemudian berkaca-kaca begitu mengalihkan muka.

Yah, tidak perlu usaha keras untuk bisa mengidentifikasi sebabnya. Aku hanya iri saja. Benar2 berharap, andai saja disana ada aku juga!

Dan semuanya tidak berhenti sampai disitu. Aku masih harus terkaget-kaget ketika menemukan inova hitam cemerlang terparkir di tempat biasa si mitsubish damai diparkirkan.
Dan ternyata itu mobil baru papa. Fresh from oven, haha.. Terkadang kupikir keluarga ini keterlaluan juga. Beli mobil baru macam tak ada intronya. Ngobrol2 dulu kek, minta pertimbangan atau paling nggak ada announcement nya lah.

Liburan kemarin aku sudah cukup terkejut dengan sepeda gunung polygon heist 4.0 yg tiba-tiba tergeletak di ruang tamu. Dan kali ini ada lebih banyak yang berubah. Banyak yang bertambah. Selain fakta bahwa aditya semakin tinggi dan fitri mendadak jago menyusun seluruh warna rubiks dalam hitungan kurang dari 30 detik atau bahkan sekedar keberadaan lampu malam baru di kamarku. Segala hal itu mengejutkan. Membuatku mau tak mau merasa tertinggal.

Tapi yang jelas. Satu hal yang masih tetap bertahan. Yang kuharap akan terus bertahan. Ritual hampir setiap malam yang kami lakukan beberapa jam setelah makan malam, segera setelah papa mandi bebersih diri sepulang dari tempat kerjanya. Lalu kami berkeliling kota, sambil menidurkan aditya.

Tidak apa meski yang kami naiki bukan lagi mobil kuda, aku bersyukur benar mendapati tradisi ini tetap tidak berubah.

Ah, aku pasti akan kangen pada wangi sabun mandi yang nyaris tiap malam aku baui.
UA-111698304-1