Showing posts with label budaya. Show all posts
Showing posts with label budaya. Show all posts

Tuesday, October 07, 2014

Kolam Kayu & Ulang Tahun Minttu.


Jadi akhirnya saya ngerasain juga berendem di bak kayu besar belakang rumah. Hot pot yang bagi Christoffer Leka dalam Expedition No.3-Cycling Around Iceland merupakan surga dunia. Bagi saya sih enggak sebegitu-begitunya, don't  get me wrong, it's trully so warm and nice, but noted, INSIDE! Faktanya saya tetep aja menggigil hebat begitu keluar bak di tengah suhu enam derajat.

Tapi ya penasaran saya akhirnya terjawab kan, seenggaknya suatu hari nanti saya nggak bakal nyesel untuk kesempatan mengalami yang enggak saya ambil. Waktu Minttu, Aino, Pyry, Lotta dan Wiveka berendem di hotpot siang tadi, sebenernya saya udah mupeng pengen menceburkan diri. So cute aja gitu mereka berlima berendem rame-rame kayak bebek lagi direbus sama nenek gayung :P


Cuma yaa itu bocah-bocah semua, tengah sore terang benderang kalo tau-tau ada bapaknya yang dateng terus nonton kan mau taroh dimana harga diri eke. Jadi akhirnya saya kabur aja ke village centre jalan-jalan daripada makin mupeng. Padahal beberapa minggu yang lalu udah pernah dipaksa-paksa juga sama Heikki untuk ikutan ngehotpot bareng Maria dan cewek-cewek temen kantor mereka (Heikkinya di dalem rumah, nemenin ngobrol guru di sekolah yang nggak ikutan ngehotpot) tapi yang bener aje itu ibu-ibu pada berendem naked di siang bolong, mana saya sanggup menggabungkan diri. Akhirnya saya memilih ngesauna aja sendirian melembabkan kulit di karavan pinggir hutan.

Tapi malem tadi lagi-lagi Heikki nawarin lagi buat nyoba hotpot, mungkin dia mikirin saya yang dari sore kedinginan di kamar membutuhkan kehangatan, haha.. dan akhirnya, walopun sempet ragu dan menolak dan dirayu dan kembali ragu, akhirnya saya yang udah kedinginan banget jadi mikir, mungkin hotpot yang dibangga-banggakan Heikki dan Leka emang beneran bisa memberi kehangatan yang mereka agung-agungkan. I'm so cold and it couldn't possibly get any worse than this, right? So why not?

Maka begitulah, malem-malem saya lari-larian dari kamar mandi dan nyebur ke hotpot. Saya jadi paham apa yang membuat Leka, Heikki dan mungkin most Finns begitu cintanya berendem di hotpot. It makes you forget about the cold. Bedanya sama sauna ialah, sometimes it's too hot untill it's hurts tapi hotpot itu pas. Ah, saya belum pernah bahas yaa soal sauna, nanti deh dikupas tuntas soal sauna. Sekarang saya pengen cerita dulu soal ulang tahun Minttu.

Bersyukurlah saya tinggal sama hostfam yang orang asli Finlandia, jadinya saya punya akses lebih untuk tahu kebiasaan-kebiasaan penduduk lokal di sini. Mungkin nggak banyak yang tau kalo orang Finland merayakan ulang tahun mereka dua kali dalam setahun. Iya, jadi, selain punya ulang tahun di tanggal kelahiran, orang Finlandia juga punya yang namanya Nimipäivää alias hari nama. Nah, seluruh daftar hari nama ini tercantum di kalender Finland yang dikeluarin sama Almanac Office di University of Helsinki sejak tahun 1994. Jadi setiap orang punya hari namanya masing-masing, misalnya hari ini tanggal 6 Oktober adalah hari nama untuk Minttu dan Pinja, 28 februari untuk Onni, 12 november untuk Virpi, macem-macem lengkapnya bisa dilihat di sini.

Jadi yaa.. berhubung Heikki sama Maria hobi banget ngundang orang-orang main ke rumah mereka, jadilah rumah seharian ini rame. Siang-siang jam satuan, rame sama anak-anak kelas 4 sama kelas 5 yg lagi orientasi di hutan sekitaran rumah. Tiap setengah jam pasti ada aja yang singgah, dari minta minum sampe numpang ke WC. Abis itu, temen-temen Minttu main. Ngerjain PR, main, makan, main, ngehotpot, main, makan, main. Bocah-bocah belom pada pulang, dateng deh Minna, Raimo, dan temen-temen Maria yang lain sambil bawain hadiah buat Minttu.

Nggak abis-abis :D

Thursday, June 06, 2013

H-1

Saya gemetaran memikirkan esok. Pakaian-pakaian masih berantakan. Banyak nyamuk terbang-terbang. Apa rasanya besok? Bangun pagi-pagi pukul delapan lalu mbayar tiket bang Oli. Sekalian meng-check-in  masal tiket  rekan-rekan. Saya belum mandi dari pagi dan hari ini di kampus seharian, pantas dikerubungi nyamuk. Ada begitu banyak hal yang belum dipersiapkan. Tadi Neng Ana telpon dan saya bilang saya takut. Memikirkan besok bikin saya takut.

***

Ini repost dari tulisan yang baru saya temukan di tumpukan draft. Saya buat pada malam sebelum berangkat. Menemukan perasaan takut pada hari setelah semuanya fiks tentu saja merupakan hal yang tidak terduga. Setelah apa yang dengan jatuh bangun kami perjuangkan dalam 6 bulan belakangan. Maka, setelah pontang-panting mengumpulkan dua ratus juta lebih dalam 6 hari untuk 22 kursi yang harus kami lunasi, perasaan yang saya temukan adalah takut. Terlalu sibuk mengumpulkan uang membuat kami kekurangan waktu untuk latihan. Apa jadinya kami nanti di sana? Apa benar akan baik-baik saja? Saya takut kami tidak bisa memberikan penampilan terbaik. Takut membawa nama Indonesia. Takut merepresentasikan Indonesia dengan buruk padahal yang saya mau adalah sebaiknya. Takut hilang nyasar akibat tidak tahu jalan di kampung orang. Takut orang Belgia ternyata rasis-rasis dan tidak ramah. Takut dingin juga.

Saya juga gemetaran memikirkan apa rasanya, ketika nanti, pada akhirnya, menuliskan touch down, Belgia.  Potongan kata terakhir untuk melengkapi kata-kata pendahulu. Semacam meletakkan potongan terakhir pada permainan puzzle yang sudah sangat lama dirakit. Membuat lengkap.


Monday, March 18, 2013

Extraordinary


Hari ini manis dan luar biasa :'))

Sewaktu memutuskan pergi ke kampus tengah hari tadi, mana terpikirkan bahwa akhir hari ini akan jadi seperti ini. EXTRAORDINARY!

Cuma kata itu yang terpikirkan di kepala saya selain kata luar biasa. Sekarang silahkan lihat foto di atas dan coba bayangkan bahwa segala sesuatunya dipersiapkan hanya dalam 7 jam! Dari mulai kostum, aksesoris dan tetek bengek lainnya. Begitu halnya juga dengan tarian.

Jadi, rupa-rupanya seleksi untuk festival di Doha itu mensyaratkan satu lagi tarian yang berbeda dari kami. Selain 2 tarian aceh lain yang sudah lolos seleksi. Tentu saja ini tidak main-main. Berkesempatan memperkenalkan Indonesia di kancah internasional, setidaknya inilah yang bisa kami lakukan, salah satunya melalui budaya. Sayangnya karena mungkin terlalu fokus pada Festival Belgia yang lebih dekat jaraknya, festival di Doha yang baru akan diselenggarakan bulan Agustus nanti jadi agak sedikit ter-nomordua-kan.
Tapi bersyukurlah kami punya neng ana yang adalah seorang penggerak luar biasa, juga rekan-rekan lain di dalam tim yang subhanallah kerennya :)  

Maka dimulai lah satu hari tadi dengan semangat menggebu. Neng Ana, Amel dan Halimah pergi ke sana ke mari mencari pinjaman kostum, sementara Dhea, Tika dan Dyas berkali-kali memutar ulang video tarian. Alhamdulillah Allah melancarkan, ada beberapa pihak yang berbaik hati meminjamkan tanpa harus dibayar. "Minta surat peminjaman saja," kata mereka.

Lalu selagi tim penari membuat konsep gerakan dengan memelototi secara radikal sebuah video tari kalimantan sampai kepala keliyengan, rekan yang lain melengkapi aksesoris yang diperlukan. Neng Ana akhirnya berhasil menemukan tongkat-tongkat besi entah bekas apa entah dari mana, hasil dari kerja kerasnya keliling kampus menjamahi tempat-tempat tersembunyi. Kemudian beberapa yang lain membeli kertas warna-warni beserta lem, menyihir tongkat-tongkat besi buluk tadi menjadi extraordinary.



Rusuh di Plaza.
Hari Minggu tadi, plaza lt.2 kami daulat sebagai  sekre dengan seenak jidat.
Ada yang kerja, ada yang makan, bahkan ada juga yang ketiduran saking capeknya.
Wajar, beberapa teman beraktifitas dari jam 6 pagi saat garage sale demi pendanaan festival ke Belgia, padahal malam sebelumnya kami Street Performance sampai malam benar-benar tua.




Tim penari yang lagi ngerapat soal gerakan.
Baru ngerti deh rasanya belajar tarian yang bener-bener baru dengan cuma bermodal video dari youtube dan waktu 6 jam. Tenaga abis, pikiran lelah, perut laper, haus, kadas, kurap, semuanya jadi satu :D *ditampol*
Untungnya semua orang masih pada bisa jaga emosi, meskipun ada aja oknum nggak tau diri yang malah nyoba topi baru macam orang di bawah ini, hehe



Rasanya bahkan masih lengket di kepala. Diantara resah dalam pikiran yang terpecah belah antara belum makan, belum sholat, dan gerakan yang masih acak-acakan. Belum lagi tugas-tugas yang hari Senin harus dikumpulkan. Maka akhirnya kami memutuskan break 2 jam, Mita pergi mengajar privat, Dyas pulang mengerjakan PR, Abe pulang sebentar lalu datang lagi membawa tugas-tugasnya, Tika mandi dan makan, sementara sisanya menetap demi mengerjakan hal lain yang berkaitan dengan Belgia. Lalu juga kepanikan yang menerjang begitu jam mulai menunjukkan pukul 10. Setelah capek seharian, waktu mepet dan daya tangkap yang semakin lama semakin tiarap. Entah darimana energi extra yang membuat kami semakin bernafsu menuntaskan tarian ini secepatnya. Dan kebaikan Tuhan juga seperti tidak ada ujungnya, di saat orang-orang diusir pulang karena menetap di kampus sampai sebegitu malam, bapak security kampus malah membolehkan kami tetap tinggal, walaupun KTM saya ditahan sebagai jaminan :P  Begitu juga izin menggunakan auditorium untuk keperluan rekaman tari. 
Maka inilah dia, orang-orang dengan semangatnya yang maha.
Special Thanks untuk teman-teman lain yang tidak ikut foto bersama.
Special Thanks juga untuk Nandang dan Samantha yang sebenarnya bukan anggota tim tapi rela repot-repot menyingsingkan lengan :')


Ohiya, barusan dapat email konfirmasi halaman yang kemarin kami ajukan di wujudkan.com telah lolos seleksi dan berhasil diluncurkan. Ini linknya, kalau ada waktu luang silahkan kunjungi, kalau ada yang ingin ditanyakan, just feel free to ask me.

Saleum.



Dini hari pukul 3 dan tenaga ini serasa belum ada habis-habis juga.
Yang jelas, apa yang kami lakukan dengan mati-matian seharian tadi membuat saya sadar.
Bahwa ternyata kami mencintai Indonesia sedalam ini.
Kami cuma ingin semakin banyak orang tahu tentang Indonesia,
karena ini ibu pertiwi,
dan ia extraordinary :)

UA-111698304-1