Showing posts with label ceracau. Show all posts
Showing posts with label ceracau. Show all posts

Wednesday, June 04, 2014

Menulis lah dengan Keras Kepala, Mel.

Skripsi saya belum juga selesai karena saya terlalu sibuk. Sibuk mencari-cari waktu terbaik untuk mengerjakannya, sibuk menunggu, sibuk mengerjakan hal-hal penting lain, sibuk mencari-cari alasan.

Selalu ada jendela kata-kata yang menunggu diam di ujung taskbar. File microsoft word milik saya, terbuka, tapi tidak pernah saya sentuh-sentuh juga. Sementara tangan saya terus sibuk mengetuk pintu situs-situs streaming. Membuka kshowonline atau malah menggerayangi timeline.

Padahal yang harusnya saya lakukan ialah terus menulis. Menatapi lembar halaman itu sampai buta, sampai kata-kata yang saya cari ketemu. Menulis dengan kepala batu.

Friday, May 30, 2014

Mono

Dulu mesti saya nggak pernah kepikiran apa rasanya canggung di hadapan layar putih ini. Bingung mau melakukan apa setiap habis menekan titik. Lalu menemukan hening yang lama, cuma suara kipas angin di sisi saya yang menggelegar dan gempar. Beberapa waktu lalu saya sempat paham, tentang gejala malas menulis di blog ini, gejala sungkan bercerita panjang lebar pada layar. Seperti dulu.

Penginnya saya menulis sesuatu apa gitu yang bermakna buat orang-orang yang baca. Bukan cuma indah tapi nggak ada isinya. Mungkin kayak si nadhira, yang tiap tulisannya bikin saya kangen sama Tuhan. Atau nulis catatan perjalanan, yang menginspirasi orang untuk banyak-banyak menjelajah bumi Tuhan. Mungkin yang lainnya...

Tapi sekarang-sekarang ini saya jadi sadar, bahwa setidaknya saya tetap harus menulis untuk diri saya. Agar tidak lupa.

Sunday, April 13, 2014

Antara Saya, Skripsi, PMW, Au Pair dan rencana-rencana masa depan

Hello! 

Saya udah lama banget nggak buka dashboard. Jangankan buka dashboard nengok blog aja baru sekarang sejak sebulan lalu. Postingan terakhir saya tentang skripsi, hehe.. jadi, saya ngilang karena skripsi?

Mmm, bukan karena itu juga sih. Saya punya 5 draft tidak selsesai yang saya buat bulan Maret lalu dan sejak itu saya nggak pernah-pernah lagi buka dashboard ini. Saya memang lagi proses bikin skripsi, tapi disamping itu saya punya segudang waktu yang semisal mau saya pakai buat ngeblog sebenernya bisa-bisa aja. Saya juga udah nggak terlalu intens lagi ngurusin grup tari semenjak pengunduran diri saya dari keberangkatan Langit Eropa bulan Juni nanti. Terus waktu saya hilang kemana?

Jadi, semenjak antusiasme, energi dan gelora extend stay di eropa bersama Tika pasca festival untuk ngunjungin papa-mama di West-Flanderen, main ke Jerman dan reuni sama Simmy di Praha lenyap akibat keputusan Abe yang hanya memilih saya untuk keberangkatan Eropa tahun ini dan menanggalkan Tika. Saya pun akhirnya mengajukan pengunduran diri dengan alasan tak sanggup sendiri bagai judul lagu. Tapi karena permintaan Abe dan petuah-petuah Hanif akhirnya saya bertahan juga 1-2 bulanan, ngebantu sebisa-bisa saya but well, I just walked out in the end.

Saya cuma takut stress aja kalau terus-terusan nelen gemes di kepanitiaan Eropa kali ini. Kesabaran saya nggak cukup banyak untuk bertahan sendirian di sana sampai akhir. Maka begitu lah, saya keluar lalu menyibukkan diri untuk hal yang lain.

Saya ngerjain skripsi sih, tapi skripsi terlalu memabukkan untuk dikerjakan 7 kali 24 jam jadi saya juga sibuk di hal-hal lain, salah satunya ikut PMW dan program Au Pair.

Jadi waktu saya lari kesitu.

Mungkin cuma segelintir anak UGM yang tahu tentang PMW yang mana adalah sebuah program pinjaman dana bagi mahasiswa UGM yang gemar berwirausaha. Beberapa bulan kemarin saya, Tika, Mita dan Hanif memang lagi kepikiran untuk bikin usaha bareng.  Mungkin lebih tepatnya saya dan Hanif diajakpaksa untuk bikin usaha bareng, dengan iman bahwa keberangkatan ke Eropa bulan Mei kemarin telah menjadi pembuktian akan kerjasama tim yang efektif, efisien dan bersinergi.  

Daann, seperti yang tadi sudah saya sebutkan, saya juga ikutan program Au Pair which is semacam program pertukaran budaya di Eropa sambil kerja part-time gitu. Haha iyaa.. akhirnya saya iyain juga ajakan Tika untuk ambil jalan ini sebagai salah satu jalan lain kami untuk kembali ke tanah Eropa. 

Saya dan Tika masih punya janji visit Papa Lieven dan Mama Karin di Belgia, masih punya hutang ke Simmy kalo kami bakal gantian ngunjungin dia di Praha sebagai balasan kunjungannya ke Jogja bersama sang suami tempo hari.

Untuk Au Pair ini akhirnya saya mendaftarkan diri ke aupair-world.net dan Mbak Sari, salah satu sahabat Mbak Titin (hostfamily Afel dan Nirmala waktu festival di Oostrozebeke yang dulunya juga seorang Au Pair). Mbak Sari ini, kemudian meminta profile saya dan Tika untuk dicarikan hostfamily di sekitaran Belgia dan Belanda. 

Dari aupair-world, sebenernya saya udah dapet 2 hostfamily perancis yang sayangnya mempermasalahkan hijab yang saya pakai sedangkan satu lagi tawaran datang dari keluarga manis di Finlandia yang saat ini sedang saya jajaki dengan serius. Ada lagi, beberapa hari lalu, saya dapat email dari Aupair Support Belgium yang mengabarkan tentang keluarga dokter keturunan Irak di  Belgia yang membutuhkan au pair secepatnya.
Tapi saya udah keburu jatuh cinta sama keluarga sederhana dari Finlandia ini 


Hari kamis kemarin saya skype-an lagi sama calon Papagantengasuh saya untuk ngomongin permasalahan pelik yang lagi kami hadapin sekarang. Saya yang tadinya udah mau pasrah aja dan mengikhlaskan keluarga ini milih kandidat lain untuk jadi Au Pair mereka entah kenapa jadi semangat lagi. Saya inget rencana-rencana yang udah saya susun dan ternyata nggak semudah itu untuk ngelepas itu semua.
Ya Allah, Melyn masih pengen lanjut S2 di Finlandia, ngambil master's degree programme in education di Universitas Jyväskylä.  
 
Menampilkan IMG_20140410_212822.jpg
dicandid Tika waktu skypean.
hostdad sm hostmom saya ini juga lulusan universitas yg sama,
sekarang mereka guru di sekolah Finlandia T.T

Karena semua mimpi memang butuh usaha keras untuk dicapai,
kamu jangan pernah putus harapan
Fighting, Mel! 

Tuesday, January 28, 2014

ceracau

Iya saya tahu saya udah lama nggak nulis-nulis di jendela ini. Tiba-tiba udah akhir januari dan deadline novel saya jadi molor lagi. Sebenarnya saya juga enggak lagi sibuk-sibuk amat, tapi entah kenapa rasanya sedang kehilangan minat. Saya tahu di saat seperti ini yang seharusnya saya lakukan hanyalah sesederhana menulis dengan keras kepala. Tapi ya begitu..

Aih, sebenernya saya bukannya mau berkeluh kesah tentang naskah-terabaikan yang tidak selesai tepat sesuai jadwal. Barusan saya cuma abis pulang ngepo twitternya teman abang saya yang sudah saya putuskan untuk tidak lagi menggebetnya itu. Hais, istilahnya bikin ngilu, gebetan. Saya heran, banyak hal yang terjadi pada hari-hari belakangan ini dari cerita epik sesi pemotretan kover novel lini baru bentang sampai fenomena gempa yang lagi ramai tapi yang menggerakkan saya membuka jendela dan menceracau di sini malah lagi-lagi soal itu. Kisah sedih tentang perasaan yang tidak diperjuangkan itu, yang layu karena putus asa itu.

Lalu sekarang saya cuma merasa sedikit kesepian. Biasanya saya langsung streaming Running Man setiap kali merasa sedih dan kesepian, atau nonton apa kek yang bisa bikin saya lupa lalu ketawa-ketawa, tapi sekarang saya lebih memilih menulis di halaman jendela, mungkin setelah ini saya tetap akan streaming Running Man tapi sebelum itu saya ingin dihibur kata-kata terlebih dahulu. Menghadapi kesedihan saya yang mau tidak mau harus saya akui muncul akibat ceracau kebahagiaan dia.

Saya sama sekali tidak menyesali keputusan saya membuka-buka halaman twitter abang-abang itu, karena setidaknya inilah cara yang bisa saya pilih untuk menangani rasa penasaran saya -kalau tidak bisa disebut kangen-. Bahkan meskipun saya tahu ini pengecut. Saya turut senang sekarang dia bahagia, ikut bersyukur atas hal-hal hebat yang direncanakannya. Saya cuma sedikit kesepian.

Lantas apa yang lebih menyedihkan dari seorang pengecut yang kesepian?

Kalau sudah begini paling-paling saya akan menggandeng lengan boneka beruang 1,1 meter  yang ada di kamar, menyandarkan kepala pada daun telinganya yang sebesar telapak tangan.
Berharap rasa kesepian saya lekas redam.

-

Friday, January 10, 2014

tentang kemeja biru besar, Biam dan kacamata lensa kabut


Sebenernya saya juga nggak terlalu yakin mau posting tentang apa. Beberapa hari yang lalu Tika main ke kosan dan seperti biasa obrolan kami luber hingga menyinggung segala bidang. Salah satunya tentang kebetahan saya berada di kamar selama berhari-hari tanpa ke luar rumah, sementara ia mengaku pernah sehari mendekam di kamar dan benar-benar bosan.

Hehe, tetiba saya merasa seperti tokoh utama perempuan di serial Flower Boy Next Door yang takut sama manusia itu. Si Go Dok-mi yang cantik penyendiri yang kebetulan juga sama-sama bekerja sebagai freelance copy editor seperti saya, bedanya pertama, kecantikan saya masih dipertanyakan dan kedua pada dasarnya saya bukan tipe introvert yang sangat senang sendirian.

Bahkan untuk penanda tanganan SPK-BAP (Surat Perintah Kerja & Berita Acara Pemeriksaan) aja saya memilih menyelesaikannya via email dan bukannya nongol di kantor Bentang.

Saya sama sekali bukannya pernah sangat merasa tersakiti oleh tabiat manusia sebagaimana yang dialami Go Dok-mi. Barangkali saya memang cuma jatuh cinta aja sama kamar saya. Saya merasa sangat nyaman di kamar dan menyenangi apa yang saya kerjakan selama berjam-jam itu. Menggandrungi sesi belajar hal-hal yang sebelumnya tidak saya ketahui bersama laptop kesayangan saya: Biam, meski cuma bermodal akses speedy kosan. Saya belajar tentang persenjataan dan teknik perang ya dari kamar ini, melakukan riset tentang Nazi ya juga di kamar ini, demikian juga dengan belajar undang-undang pengangkatan dokter PTT dan berbagai hal berbau kedokteran serta rumah sakit itu.

Tanpa sejengkal pun meninggalkan kamar, saya sudah keluyuran di website biro kepegawaian kemenkes, di tarik sejarah ke asal-mula konflik Aceh-Indonesia, bahkan berkesempatan mengobrak-abrik Secret Annex Anne Frank di situs tiga dimensi rumah persembunyiannya tanpa perlu jauh-jauh terbang ke Belanda sana.

Saya menyukai saat-saat menyadari ilmu saya bertambah dan betapa banyak hal di dunia ini yang tidak saya ketahui.

Dan jauh dari itu semua, saya sebenarnya sungguh-sungguh jatuh cinta pada sesi kerja yang memperbolehkan  saya jumpalitan dengan kemeja biru kebesaran bekas papa yang sangat saya gandrungi. Lalu kacamata lensa kabut yang lebih sering saya sampirkan di kepala dari pada memakainya.

Selamat Hari Jum'at.

Tuesday, December 24, 2013

ceracau selasa pagi

Hal paling menyebalkan untuk menyambut hari ialah menemukan perasaan marah ketika bangun pagi. Saya kesal dan marah. Kesal pada hal-hal yang sebenarnya ingin saya lepaskan dari pikian tapi ia menempel terus layaknya lintah. Marah karena selanjutnya saya tidak berbuat apa-apa. Lebih marah lagi karena tahu bahwa seharusnya saya melakukan sesuatu tapi saya tidak melakukan itu.

Ah, kenapa tim ini tidak efisien sekali. Menyebalkan rasanya menemukan tahu-tahu kita kehabisan waktu sementara kemarin bersantai-santai. Dari kemarin ngapain aja? Saya juga marah karena kemarin-kemarin tidak memfollow up apa-apa. Dari kemarin kemana aja.

Saya juga kesal pada siapa yang maunya buru-buru tapi tidak mau tahu. Kalau ada hambatan mestinya cari gimana bijaksananya. Diajakin ketemu katanya hari minggu hari buat istirahat. Kalo memang mau istirahat ya nggak usah jadi aja berangkatnya. Dikira punya mimpi kayak gini tuh gampang jadi bisa santai-santai. Deuh, berasa pengen njambak-jambakin rambut aja kalo begini mah.

Friday, September 13, 2013

dari sebalik jendela yang tersembunyi,

ini sudah hampir satu minggu sejak aku mengganti alamat blog dari annarumi.blogspot.com menjadi kekantongplastik.blogspot.com dan belum menyebarluaskannya.

entah sampai kapan tapi yang jelas saat ini aku masih betah. masih betah menceracau di hadapan jendela sendirian tanpa takut akan dibaca orang-orang. masih betah memuntahkan segala tetek bengek maha tidak penting dan tidak perlu merasa khawatir notif post baru mengganggu ketentraman dashboard para follower. masih betah merasa sebebas ini. menulis tanpa perlu memperdulikan aturan EYD, tanpa kapital setelah titik, atau tentang paragraf yang hanya ditempati oleh satu kalimat superpanjang yang juga tidak jelas mana frasa dan klausanya. bahkan juga tidak perlu memikirkan sejatinya tulisan ini tentang apa, berguna bagi siapa, dan apa intinya.

terlebih lagi,
yang paling menyenangkan adalah
ketiadaan orangorangselalumautahuurusanoranglain
yang akan mengintip kutip, lantas pura-pura paham.


2.51 a.m

WonderStruck.

Rasa-rasanya aku ingin menyimpannya dalam kotak anti berdebu. Supaya terus bisa diingat lalu perasaan ini akan selalu terasa baru. Tuhan itu aneh. Takdir itu aneh. Kita bisa saja dipertemukan dengan jiwa-jiwa yang bersamanya kita akan selalu merasa lengkap tapi tiba-tiba harus tercerai berai begitu saja. Aku juga baru tahu bahwa ternyata selama ini rasanya kosong. Bahwa selalu ada yang hilang dan diam-diam meninggalkan lubang.

Aneh, bagaimana aku tiba-tiba bisa jadi rindu semuanya. Aneh, karena aku pikir aku sudah lupa rasanya. Saking sudah terlalu lama. Tapi mungkin memang ini yang fenomenal dari apa yang kita sebut reunian. Bahwa betapapun lamanya, betapapun jauhnya, bertemu kembali selalu mampu menghidupkan lagi hal-hal yang kita pikir sudah mati *nyengir*.

Ternyata reuni yg menyenangkan itu begini ya rasanya. Ingin dimasukkan ke kotak anti-karat lalu dipeluk erat-erat. Sebab rasanya selalu hangat :"))

Saturday, September 07, 2013

titik titik titik titik

Belakangan hari ini aku suka nonton filem-filem pendeknya Wongfu productions via youtube. Banyak dari filemnya kocak-kocak, tapi ada juga yang menyentuh dan bikin luluh. Selain itu aku juga beberapa kali nonton video dokumentasi dari CoolYah Entertainment. Intinya keduanya adalah filem pendek buatan kalangan minoritas di suatu tempat, yang satu Chinesse di somewhere in Amerika sedangkan yang lainnya anak muda Indonesia di tanah Eropa. Ngomong-ngomong soal eropa gara-gara itu aku jadi kepikiran exchange untuk sekolah di Eropa, salah satunya mungkin ke Universitiet of Ghent yang waktu di Belgia dulu sempet aku kunjungi. Well, mungkin ini bisa disebut sebagai hasrat yang sudah sangat terlambat mengingat sekarang aku sudah di tahun terakhir perkuliahan. Tapi kupikir, setidak-tidaknya kalau disana, beberapa bulan sekali masih bisa mengunjungi Mama Karin dan Papa Lieven di Oostrozebeke, atau malah bisa-bisa dititipkan ke apartemennya Brecht yang sering ditinggal-tinggal itu. Muakakakkak, itu sih maunyaa.

Ah, aku masih belum bikin tulisan perjalanan tentang festival di Belgia kemarin. Juga ke pulau pari. Bahkan trip sumatera yang sudah 2 tahun lalu. Aku sangat banyak berhutang tulisan karena beberapa bulan terakhir aku mengalami yang namanya Writer's Block dan hell, itu sudah berlarut-larut. Akhirnya setelah pulang dari Manado bulan kemarin, aku mengubah posisi barang-barang di kamar juga mengganti alamat blog. Sedikit udara baru untuk bisa bernafas lagi seperti dulu.

Baiklah, sekarang udah jam setengah satu dan aku harus siap-siap untuk ngetutor Caroline, salah satu anak ACICIS KKN yang harus aku dampingi untuk 7 mingu ke depan. Huahaa, bahkan sekarang menulisi blog sudah lebih terasa menyenangkan. Mungkin kadang-kadang setiap orang cuma perlu melakukan perubahan-perubahan kecil untuk mulai mengerjakan hal-hal dengan perlahan-lahan. 

Saleum :D


Kamu harus berhenti melakukan sesuatu yang tidak pernah kamu selesaikan, Mel.

Saturday, August 31, 2013

pada gerimis.

Ini cuma gerimis. Padahal cuma gerimis. Tapi gerimis tengah malam ini seperti membawa kesedihan saya pelan-pelan luruh ke tanah. Membuat bertumpuk-tumpuk rindu yang saya pendam selama ini rekah. Kepada kamu. Bunyinya rintik-rintik.

...

Friday, July 12, 2013

Pada Akhirnya,

Saya memang cuma butuh sebuah pengait dan segumpal benang berwarna untuk dapat menyisihkan kamu sebentar dari kepala. Crocheting selalu mampu menyita seluruh fokus saya, mengalihkannya dari kamu, selalu begitu.
Karena lama-lama rasanya menyedihkan juga terus menerus seperti ini. Seharusnya saya menyalakan lilin ketimbang mengutuki gelap, tapi pada dasarnya saya sudah terlalu lama berseteru dengan jarak. Jarak yang  bisa-bisanya sebegitu membunuh dengan pedang yang bernamakan rindu. Jarak yang bisa-bisanya membuat orang-orang lumpuh dan sekarat dalam kesepian,
lalu mati diam-diam.

Thursday, April 04, 2013

Abaikan. Ini cuma ceracauan.

Kamu pernah nggak, Bi, ngerasa exhausting padahal enggak abis ngapa-ngapain.

Aku enggak ngerti Bi, sekarang ini rasanya campur-aduk. Ngeliat Halimah yang hari ini kacau. Kamu tau rasanya harus nenangin orang padahal hati kamu sendiri lagi nggak tenang. Belum lagi bingung gimana harus ngejelasin ke Amel dan yang lainnya. Patah hati, Bi. Aku masih aja heran gimana hati bisa patah berkali-kali tapi enggak mati-mati. Mungkin kayak yang mbak Vira bilang, hati itu kuat, jangan pernah diremehin.

Sebenernya waktu di Plaza lantai 2 itu aku udah pengen nangis. Dari awal dateng juga sebenernya aku udah pengen nangis. Tapi kan nggak mungkin. Gimana caranya aku mau nguatin Halimah kalau akunya sendiri malah keliatan lemah. Jadi ya gitu. Aku sendiri tau kalo Amel sebenernya udah nahan-nahan emosinya waktu duduk di kursi biru itu. Dan aku cuma bisa duduk bisu di sebelah dia. Totally, enggak punya kata-kata. Cuma bisa berdoa aja semoga Tuhan ngejagain hati dia biar nggak meledeak kayak Street Perform kemaren.

Entah kenapa untuk bisa bener-bener senyum hari ini berat, Bi. Aku cuma bisa berusaha untuk pura-pura. Cuma, dan itu pun berusaha. Baru tau kebanting itu kayak gini toh rasanya.

Satu-satunya obat yang aku punya cuma rasa percaya, Allah itu nggak mungkin mensia-siakan kita kan, Bi. Jadi itu yang aku tekanin ke Halimah. Aku nggak tega ngeliat dia sebegitu itunya ngerasa bersalah. Ngeliat dia kayak gitu itu nusuk aku seribu kali karena aku ngerasa enggak ngelakuin apa-apa. Ah. Patah hati, Bi. Sayang sama orang itu ternyata bisa aneh kayak gini ya. Bisa lipatan kali lebih seneng saat orang yang disayang seneng, tapi juga bisa lipatan kali kepingin mati liat yang disayang sedih.

Terus juga Amel. Aku tau banget Bi apa yang dia pikirin. Aku tau gusar macam apa yang dia rasain. Tapi kenapa aku nggak punya kata-kata buat nenangin dia? Nggak tau, aku ngerasa lemah aja. Nggak bisa ngelakuin apa-apa. Sampe akhirnya dia enggak sengaja ngebentak aku sebelum pulang, di deket tangga.  Iya, enggak sengaja. Aku tau Amel pasti enggak sengaja. Rasanya mungkin kayak cowok yang tiba-tiba aku cabutin bulu kakinya. Ngagetin, sakit, harusnya sih aku bisa bereaksi sama kayak cowok-cowok itu, bilang aw kenceng terus nempeleng orang iseng yang nyabutin bulu kaki itu. Tapi aku waktu itu cuma mampu bereaksi "mmm, yauda" dan tampangku pasti bego banget karena Ica sampe bengong ngeliatinnya. Waktu aku enggak sengaja bersitatap sama dia.

Jadi ketika akhirnya Halimah balik lagi ke lantai 2 dengan mata basah. Aku tau sms "mba dimana?" yang baru kubalas itu bukan sms baru nyampe kayak yang aku pikir tadinya. Halimah nyariin aku karena dia butuh bahu, sama kayak alasanku mention zahra di twitter sebelum aku balas sms dia. Allah tahu banget Bi gimana tabiatku. Dia tahu gimanapun juga aku nggak bakal bisa nangis kalo bahu itu enggak ada, jadi dia ngirimin Halimah. 

Jadi ternyata sedih itu ngabisin banyak energi, Bi. Nggak heran orang yang kelamaan sedih bisa sampe mati.

Wednesday, April 03, 2013

Buntu




 



 

Kalo lagi kayak gini saya pengen deh lari ke Nglanggeran. Naik ke puncaknya sambil keringatan. Cuma ditemenin tongkat kayu yang nemu dijalan. Selain itu, sendirian. Lalu duduk di batu saat panas terik, biar sampah-sampah di kepala ini menguap dibakar matahari. Begitu juga dengan gusar dan kekhawatiran yang menumpuk di sendi-sendi.

:(

Monday, April 01, 2013

Fingers. Like Yours.

Ini Yeobo

Memeluk Yeobo jelas-jelas lebih menyenangkan daripada memeluk bantal. Rasanya hangat dan kedua tangannya besar untuk bisa membalas pelukan. Tapi Yeobo tidak punya jari-jari, tangannya yang hangat dan besar tidak punya kemampuan mengusir gusar. Doesn't like yours.
Cause the spaces between my fingers are right when yours fit perfectly.
Kemudian rasanya seperti ditarik ke belakang oleh kenangan. Ada aku di situ, meringkuk di dalam kegelapan sehabis pulang dengan sela jemari tangan yang seperti terbakar.
Benar, memang cuma di dalam kenangan, apa-apa yang sudah berakhir itu dapat hidup kekal.

***
Tulisan dua puluh empat desember. Entah kenapa hari ini aku merasa bebas dan berani, jadi hari ini aku membuka draft-draft lama yang tersimpan berbulan-bulan itu lantas mengeposkan beberapa di antaranya. Ada proses yang panjang antara saat kita merasa pecah sampai menjadi baik-baik saja. Saat menulis ini, aku pasti sedang merindu setengah mati. Aku ingat dulu-dulu sering datang ke kamar Zahra untuk memeluk Yeobo erat-erat. Berharap kerinduan memang benar bisa diserap.

Tapi sekarang tinggal tertawa-tawa saja. Teringat  ceracauan dengan layar  yang pernah aku postkan. Cuma soal waktu, apapun itu, cuma soal waktu. :D

Friday, March 29, 2013

ZKCNSUIECFNSLDKSH

Tadinya pengen bahas soal street perform, ritual rutin tiap malem sabtu-malem mingguku selama 4 bulan terakhir ini. Aku baru sadar aja rutinitas street perform dimulai pada malam sebelum ulang tahunku, yang artinya juga satu hari sebelum aku putus.


Lucunya kadang-kadang aku ngerasa in relationship sama street perform. Secara tiap malam minggu, agendaku ya cuma satu itu. Pernah, waktu om pujo lagi di sini, aku nemenin mereka kemana-mana seharian tapi malemnya tetep ngotot nyamperin malioboro buat street perfom. Kan kan kan, kayak anak muda yang bela-belain pengen malem mingguan sama pacar. Istilahnya, apapun yang terjadi, malem mingguku ya pada street perform ini. Dan selama 4 bulan itu pula, setiap ada orang yang ngajak janjian setiap jumat dan sabtu malam, jadwalku udah kekunci mati buat street perform seorang. Eh nggak cuma malem minggu aja ding, di hari-hari suci para muda-mudi macam tahun baru *sejak kapan tahun baru jadi hari suci?* kami juga street perform. Nahkan, udah aja kayak pacaran beneran.

Haha dan ternyata udah lumayan panjang aja curcolan soal street perform. Ini cuma lagi pengen nulis aja kok. Postingan soal street perform benerannya besok lah. Sekarang udah lewat jam satu dan maaghku udah mulai kambuh. Aus, tapi bosen daritadi ngangkatin botol aer satu setengah liter sementara ausnya nggak ilang-ilang. Capek. Pengen tidur. Tapi juga pengen makan banana split yang kayak di tumblr-nya mbak Anyin ini.

Gak cuma aku kan yang kalo maagh-nya lagi kambuh kepinginnya makan es krim vanila stroberi.

Wednesday, March 27, 2013

Dear, Biams.

Aku baru pulang sehabis melakukan perjalanan dengan pikiran terpecah belah. Beberapa bulan ini ritme menulisi kamu mirip jalanan kota Jakarta pada jam pulang kerja. Macet. Tapi hari ini aku kesurupan menulis. Tidak apa, biar saja. Setelah hari-hari yang terbang dengan berbagai hal yang tidak dapat diceritakan dan berhasil aku abaikan. Banyak tulisan yang sudah dengan susah payah aku buat lalu aku hapus begitu saja. Beberapa lagi berhasil aku pertahankan dan diam sebagai draft dalam folder-folder tersembunyi. Jadi aku lebih banyak berlari dan menyibukkan diri, Bi. Kadang-kadang menulis juga di lembar halaman buku, sebab terkadang menulisi kamu membuatku merasa kehilangan aku. Ah, aku cuma butuh lahan yang lebih bebas agar bisa menulis dengan lepas. Atau, Iya, sekarang aku jadi lebih rahasia.

Ada begitu banyak sampah yang harus dibuang, Bi. Padahal tadinya kamu merupakan ruang yang lega untuk melepaskan sampah-sampah. Hanya saja sekarang, kadang-kadang aku merasa menulisi kamu sia-sia. Kamu tau kan bahwa hati merupakan catatan yang sulit dibaca, tapi hati yang aku punya terbentang, sejelas kata-kata yang aku tulis dan kamu rekam. Masalahnya adalah semenjak ada orang itu, Bi. Yang merengek minta izin membaca hati yang aku punya, membaca jendela-jendela kamu. Lalu setelah itu, dia bisa-bisanya bilang bahwa walaupun aku selalu berusaha keliatan baik-baik aja, tapi sebenarnya aku rapuh, Bi, bahkan udah retak.

Dia bisa-bisanya ngomong gitu, Bi. Kamu tahu rasanya bertahun-tahun cuma punya kamu, yang tiap dicurhatin nggak pernah respon lalu tiba-tiba memiliki seseorang yang seperti tahu segalanya tentang diri kita. Yang entah bagaimana caranya bisa langsung paham tanpa aku perlu menggetarkan pita suara. Dia bilang untuk tau aku kenapa-kenapa cuma perlu lihat dari mata, Bi, karena mata itu jendela.
Jadi, aku menitipkan hati retak-retak itu ke dia. Memberikan kata-kata untuk dia baca.

Tapi kamu lihat kan apa yang terjadi selanjutnya Bi. Aku bukannya mau bilang telah menitipkan hati ke orang yang salah, bukan itu intinya. Tapi aku cuma merasa kata-kata yang aku berikan sia-sia. Jadi mulai sekarang aku kapok membiarkan orang lain membaca terlalu banyak tentang hati tambal sulam ini, Bi. Membiarkan orang lain tahu terlalu banyak tentang retak-retak. Bahkan curhat ke kamu pun sekarang rasanya berat.

Jadi untuk sekarang ini aku lebih suka mengoceh sendiri, lalu menulisnya disini.


Monday, March 25, 2013

Aneh.

Mendadak aku jadi kangen Jakarta. Kangen Ibu. Kangen Slipi.
Kangen Mengi. Gila! Mungkin dari seluruh kucing di seisi dunia ini cuma Mengi satu-satunya kucing yang bisa aku kangenin. Dia yang suka ngekorin aku kemana-mana kalo di rumah. Nemenin nyuci piring di dapur belakang rumah. Aku takut kucing tapi aku cuma nggak takut sama Mengi. Soalnya biarpun suka ngekorin, Mengi itu cemen. Selalu kalah berantem sama kucing tetangga, trus juga ada pitak misterius di pahanya. Mungkin juga karena Mengi satu-satunya kucing yang bisa aku percaya, aku tau Mengi ngerti tiap kali aku tatap matanya dan bilang dengan tegas "Meng, gue percaya elo, plis jangan cakar gue". Mengi ngerti.

Aku kangen hangatnya rumah tua dengan pohon belimbing di halaman itu.
Mungkin ini akibat rasa bersalah karena nggak sempet jengukin ibu padahal kemarin udah di Jakarta.
Ibu lagi sakit, tapi kata Zahra nggak mau ke dokter. Aku pengen nemenin Ibu ke dokter.
Waktu akhirnya mama dateng ke Jogja njengukin anak pertamanya, Ibu yang paling seneng lebih dari aku yang dijengukin. Kata Ibu, setelah lebih 3 tahun, akhirnya Melyn ditengokin.
Sekarang Ibu sakit, aku kepingin nengokin. Kepikiran. Semoga aja Ibu nggak ngerasa kesakitan :'( 

Tuesday, March 12, 2013

Hey,

Kamu lagi apa sedang di mana?
Adakah hari ini kepikiran saya?

Saya pikir juga terlalu cepat untuk meresmikan ini dengan 'saya naksir kamu'. Tapi yang jelas saya tahu persis ini apa meskipun masih heran bagaimana bisa. Kangen. Dan rasanya benar-benar buntu, karena meratapi foto-foto kamu tidak benar-benar bisa membantu. Apalagi memutar dialog-dialog kita itu. Yang sebenarnya sedikitpun tidak ada spesial-spesialnya.

Kamu pasti tidak bakal percaya kalau saya bilang kangen dan buntu ini terasa manis dengan ajaib. Saya kangen kamu dan rasanya excited. Menyenangkan. Bisa-bisa saya kecanduan. Aaakkk saya pasti kecanduan kamu yang manis dan menyenangkan. Kamu yang membuat saya merasa aman.
Kemudian sekarang saya harus bagaimana sementara untuk mengetikkan kata 'Hey' dan mengirimkannya ke kamu saja saya tidak bisa. Sementara saya sekarang kecanduan 'DD

Kamu. Hey, Kamu. =D

lagi random, pengen nulis dan ingat kamu

Akhirnya aku pulang. Seharusnya rumah menjadi peraduan nyaman setelah 2 hari malang melintang di kota orang tapi nyatanya tidak. Kembali pulang ternyata membuat aku kepingin melarikan diri lagi. Kemanapun asal bukan di sini. Terlepas dari segala tuntutan dan deadline-deadline, berjarak dari orang-orang yang kukenal, secukupnya saja, hanya untuk tidak terjangkau dari kata-kata berbisa yang mungkin mereka lepaskan tanpa pikiran panjang. Bahwa sesungguhnya ada kata-kata yang potensial membuat hati berdarah-darah. Oh, sudahlah. Paling-paling mereka juga tidak sadar.

Barusan aku membacai lagi post-post terdahulu. Pada rentang waktu 2011 hingga awal-awal 2012 dimana aku masih memiliki banyak waktu memanjakan kaki dengan berjalan-jalan ke sana ke mari. Menjelajah tempat-tempat yang dekat namun asing, membuang-buang senyuman kepada siapapun di sepanjang trotoar. Meluangkan waktu untuk jadi lebih perasa. Merasa kaya.

Lalu kembali ke rumah.
Kali terakhir aku berkeliaran di jalan Malioboro rasanya sudah sangat-sangat lama. Mblusukan di sela gang-gangnya sampai turun senja. Lalu beli eskrim gerobakan untuk dimakan di Taman Pintar. Sudah lama juga rasanya tidak lagi melamun di Lempuyangan. Sungguh terkutuk memang aturan yang membinasakan tiket peron. Yah, mau bagaimana lagi.

Kemudian malam ini ada kamu yang tidak mau hilang dari kepala. Menempel dengan liat seperti lintah.
UA-111698304-1