Showing posts with label semacam post it kuning. Show all posts
Showing posts with label semacam post it kuning. Show all posts

Monday, November 17, 2014

I wish for an awesome year!

I used to have a kind of love-hate relationship with 16th November, but this time is different. 16th November this year is soo precious. Too precious as I don't want it to be over.

Pagi-pagi udah dinyanyiin lagu happy birthday di ruang makan sama orang serumah. I know I would be tearing up even since another night. Malam sebelumnya Maria udah ngasih kado jaket bendera Inggris dan Heikki juga ngasih tau kalo hari minggu ini mereka ngundang keluarga Elina dan Teresa ke rumah for.. guess what? celebrating my birthday.

Malam itu saya menangis diam-diam di bawah selimut.


Beberapa tahun terakhir, saya selalu merayakan ulang tahun dengan kesepian dan rindu rumah. Itu kenapa akhirnya saya benci ulang tahun. Tapi pagi-pagi Maria dan Heikki udah sibuk bikin kue dan belanja snack cemilan. Lalu Elina-Tuomo dateng sama dua anaknya, dan Teresa pun dateng sama tiga begajulan cantik Ronja-Ramona-Mandi. Rumah rame dan hati saya hangat. Bahkan kemudian Raimo dateng dan partnernya, Rauni bawa kue yang dia bikin sendiri.

I got a lot of presents.
cokelat Marabou dan pajangan dari Raimo-Rauni
plus bithday-kortti
moomin pillow case dan suklaajoulukalenteri dari Elina
ja kaunis syntymäpäivääkortti
PartyLite Candle yang aromanya supergood awesome dan cokelat Karl Fazer dari Teresa
jaket dan pitkätosu dari Kapaset, the most adorable family in the world.
bahkan penampakan google hari ini bikin hangat hati saya :)

Saya mengawali umur yang baru ini dengan awal yang luar biasa. Semoga 365 hari 5 jam 48 menit dan 45,1814 detik yang ada di depan saya juga akan diisi dengan hal-hal yang membahagiakan dan awesome!

I wanna complete my bucket list and fall in love.

Hyvää Syntymapäivää, Melynda

Tuesday, March 04, 2014

Pada Selasa Sore Yang Mendung

04:23
Kira-kira ini waktu yang tepat untuk duduk meringkuk di ujung kasur sambil bergelung bersama Yeobo. Setelah badan yang lemas sehabis pulang dari kuliah seminar yang saya ambil untuk kali ke-empat. Iya, ini kali keempat. Memang Hebat. Siapa di sepenjuru sastra arab yang mengulang seminar sampai kali keempat?

Kata Bu Zulfa, jurus mengerjakan skripsi itu harus tahu bahannya dulu. Ibarat kamu membuka kulkas lalu menemukan daging atau sayur atau buah disana, lantas memilih pisaunya. Lalu beliau juga bilang bahwa ada mahasiswa-mahasiswa keras kepala yang ngotot memakai satu pisau lantas kerepotan memilah bahan. Saya. 

Padahal katanya, quote pejuang skripsi itu don't get it perfect but get it done

Tapi saya yang tidak ambisius ini entah kenapa menjadi ambisius dalam skripsi. Apapun yang terjadi, saya mau pakai pisau itu.

Titik.

Wednesday, January 29, 2014

The Pianist


Saya baru selesai nonton filmnya Roman Polanski yang satu ini. Film yang tadinya saya kira bergenre horror tentang setan penunggu piano akibat cover filmnya yang lain yang dengan horornya memajang barisan tuts piano bersama tangan panjang menyeramkan melayang-layang. Belakangan, saat saya sedang ramai-ramainya riset tentang Nazi dan WWII, saya baru tahu kalau film ini bercerita tentang yahudi polandia yang berhasil melarikan diri dari ghetto warsawa. Saya udah pernah bilang kan kalau belakangan saya memang sedang keranjingan hal-hal berbau Polandia khususnya Warsawa. Selain The Pianist, saya juga seluncuran mencari download-an filem The Courageous Heart of Irena Sendler yang sumpala susah banget dicarinya, dan beberapa hari lalu saya juga baru selesai nonton The Diary of Anne Frank versi The Whole Story yang diambil dari buku biografinya Anne Frank: The Biography oleh  Melissa Müller. Iya, setelah filem The Book Thief yang juga based on the novel by Markus Zusak yang saya tonton beberapa minggu sebelumnya.

Saya cuma sedang tergila-gila.

Bahkan meskipun saya percaya betapa cerita-cerita holocaust itu sesungguhnya dibesar-besarkan dan jumlah korbannya tidak sebanyak yang diberitakan.

Saya cuma sangat keranjingan pada filem-filem berbau perang dunia kedua itu lantas tersedak sendiri oleh kesadaran betapa ego manusia mampu menciptakan kerusakan yang sedemikian hebatnya. Kemudian menyaksikan luka yang bertebaran seperti debu-debu itu, seluar-biasa apa perjuangan mereka untuk bertahan hidup menjalani masa-masa sulit itu, entah kenapa saya merasa lebih bersyukur pada hidup yang saya jalani sekarang. Betapa pun sulitnya, betapa pun kerasnya.

Bahkan di saat-saat sulit semasa perang itu pun masih ada orang-orang yang rela membantu dengan taruhan keselamatannya sendiri di antara orang-orang yang hatinya menjadi keras akibat peperangan. Menemukan bahwa masih ada cinta kasih di sela-sela dunia yang berlumur benci, saya jadi selalu yakin bahwa bagaimana pun juga hal-hal baik tidak akan pernah terhapus di dunia ini, setidak-tidaknya di hati kita sendiri.


quick posting disela waktu menunggu reda hujan
bersiap untuk datang latihan.

Tuesday, January 07, 2014

Crossing Han River With a Paper Boat


Saya paling suka sama episode Running Man 178 ini. Khususnya waktu Tim Running Man dapet misi menyebrangi sungai Han pakai perahu kertas yang mereka rakit sendiri dan diplester sana sini. Bisa dibilang mungkin ini episode Running Man paling mengharukan. Daebak! Lihat Ji Hyo, Haha dan Suk Jin yang tetep nggak nyerah meski terombang ambing di sungai Han dengan modal perahu kertas dan dayung plastik, meski dipermainkan angin, meski waktu itu lagi musim dingin. Meski rasanya udah nggak bertenaga lagi sampe udah kayak mau mati.

Saya jadi ingat pendakian saya ke gunung Merapi untuk yang pertama kali. Puncak rasanya masih lumayan jauh dan badan saya dikelilingi pasir dan debu-debu. Rasa-rasanya saya udah mau nyerah aja, tapi temen-temen saya udah pada di atas, teriak-teriak nyemangatin saya. Belum pernah seumur hidup saya ngerasa se-sengsara itu. Tapi akhirnya saya tetap merangkak pelan-pelan meski sambil mengutuk-ngutuk, "Demi apa sih saya bersusah-susah dan menderita kayak begini?"
Pertanyaan macam begini juga sering dipertanyakan Lee Kwang Soo di beberapa episode, waktu dia terpaksa gendong orang di bahunya dan beralih fungsi jadi manusia tangga karena tinggi badannya yang diatas rata-rata, waktu dia tower climbing di menara Macau setinggi 1109 kaki, atau waktu misi nyabut bendera di sawah yang berlangsung dengan dia merangkak-rangkak dan terjengkang berlumpur-lumpur akibat pegas yang dipasang di badan.

"Demi apa kamu melakukan sesuatu yang membuat dirimu sebegitu menderita?"

Saya rasa mungkin tim produksi Running Man sengaja bikin episode 178 ini untuk menutup tahun.

Waktu perahu kertas Jae Suk, Gary, Jong Kook dan Kwang Soo karam bahkan ketika mereka belum sampai setengah jalan, lalu setengah mati menahan ngilu di tulang saat terapung-apung di tengah Sungai Han. Apa rasanya?
Hebatnya ketika diberi pilihan mau mengulang lagi dari awal atau langsung pergi ke seberang sungai dengan mobil untuk menyemangati Tim Haha, Jae Suk malah dengan mantab bilang mau mengulang. Padahal dingin di badan mereka belum lagi hilang, padahal celana mereka masih basah memberati badan, padahal perahu kertas mereka sudah hancur separuh, padahal sudah jelas-jelas disebutkan bahwa waktu tersisa tinggal sepuluh menit lagi. Tapi Jae Suk dan teman-temannya tetap memilih mencoba lagi tanpa repot-repot mengganti celana mereka yang kuyup itu. Juga menolak mentah-mentah PD Myuk yang menawari mereka menyerah di tengah jalan.

Saya bilang kan sebelumnya mungkin tim produksi Running Man sengaja bikin episode 178 ini sebagai penutup tahun. Seperti diam-diam ingin membuat kita paham bahwa apapun yang terjadi di tahun kemarin, tidak apa-apa meski kita gagal karena yang terpenting adalah tidak berhenti mencoba dan jangan menyerah.


Bahwa nggak ada yang nggak mungkin dicapai kalau kita memperjuangkannya dengan kerja keras. Bahwa kalau kita selalu percaya dan menolak menyerah, perjuangan tidak akan mungkin mengkhianati kita.

Monday, January 06, 2014

diantara lesir gerimis

Kamu baru sadar betapa waktu sudah berjalan sangat jauh dari yang bisa kamu sadari. Mungkin ini akibat dari gagasan yang kamu imani terlalu dalam bahwa apapun kata dunia, manusia tetap bisa muda selamanya kalau memang ia memilih itu. Padahal sebenarnya enggak.

Karena kamu sebenarnya cuma menolak mengambil tanggung jawab menjadi orang dewasa, kamu terlalu ketakutan menjadi dewasa. 

Padahal waktu tidak akan pernah mau menipu hanya untuk menyenangkan manusia.

Jadi kamu tiba-tiba sadar bahwa waktu sudah berjalan sangat jauh ketika ayah kamu hari ini menginjak usia 50, ketika salah satu teman dekatmu dulu tau-tau memposting foto pernikahannya di media sosial sementara temanmu yang lain sedang menunggu SK CPNS-nya keluar. Kamu merasa tertampar.

Aneh memang ketika kita bisa terus menerus menipu diri kita, menipu wajah kita yang berubah menua di kaca, berpura-pura tidak perduli pada pertambahan usia akibat tahun-tahun yang berlalu sembari tetap memercayai bahwa kita tetap tidak setua yang orang-orang bilang. Kamu justru baru sadar setelah melihat orang-orang. Bahwa waktu sudah melesat sangat jauh.

Sunday, November 17, 2013

22

Saya percaya bahwa dua dua berarti saling melengkapi. Bahwa dua dua berarti kita tidak sendiri.

Jauh-jauh hari saya sudah berdoa untuk diri saya. Semoga saya selalu berbahagia dan mensyukuri hidup. Semoga saya tidak pernah sekalipun dibiarkan merasa sendirian.

Meskipun 16 November kali ini lewat dengan cara yang tidak saya rencanakan, tapi saya berbahagia. Dan bersyukur. Tadinya saya berniat keluar kosan dari pagi dan bersepeda dengan membawa peta. Mendatangi jalan ireda untuk mengagumi dinding-dinding yang dilukis mural. Menelusuri jalur-jalur alternatif sepeda yang ada di kawasan malioboro. Menjepret banyak foto. Membeli es krim gerobak murahan depan shopping lalu ke planetarium dan mencoba wahana baru zona cuaca, iklim dan gempa bumi. Itu cara saya merayakan, membahagiakan diri saya tepat di hari saya dilahirkan.

Tapi seharian tadi hujan, dan Tika menginap 3 hari berturut-turut di kosan. Hari ini juga saya bangun kesiangan. Lalu ada Alifa dan Zahra yang tadi siang menyebalkan, belakangan mereka sering meleluconkan hal-hal yang buat saya tidak lucu sama sekali. 

Mungkin hati saya sudah jadi semakin keras hingga gampang pecah. Mungkin jiwa saya juga semakin sempit. Tapi saya masih terus belajar jadi orang lurus. Belajar jadi manusia dengan jiwa yang luas dan hati yang kuat. Jiwa orang-orang yang bisa memaafkan dengan cepat. Jadi orang yang tidak pendendam. 

Karena kita berinteraksi. Sementara tabiat manusia adalah saling menyakiti manusia lainnya, bahkan dalam skala yang paling kecil. Saya percaya bahwa perjalanan hidup adalah perjalanan terluka dan belajar menyembuhkan diri.  Maka cuma orang-orang berjiwa luas dan hati kuatlah yang punya kemampuan menyembuhkan diri mereka sendiri.  A person who can heal.

Jadi, saya mulai hari ini dengan rasa syukur atas hidup yang saya jalani sekarang. Bersyukur atas orang-orang di sekitar saya yang betapapun bisa jadi sangat menyebalkan tapi itulah salah satu bentuk keberkahan hidup. Bersyukur atas keberadaan saya, atas mimpi-mimpi yang masih bisa saya lambungkan dan perjuangkan dengan kerja keras. Waktu hidup saya berkurang tapi berulang tahun selalu berarti terlahir kembali. Selalu berarti jadi orang yang lebih baik lagi.

Terakhir, saya cuma berharap mimpi-mimpi saya kembali diijabah.

Semoga tim tari saya memenangkan juara pertama dalam  porsenigama dan parade budaya nusantara.
Semoga bulan juni nanti kami bisa kembali membawa harum nama Indonesia ke tanah Eropa, mengikuti festival di Belgia, Perancis dan Belanda.
Saya kepingin Neng Ana dan teman-teman yang sudah berjuang tapi belum berkesempatan ikut festival kemarin bisa merasakan kebanggan saya.
Semoga saya diberikan kemudahan menulis cerita perjalanan ke Belgia sebagai hadiah untuk Halimah yang tidak bisa menari lagi.

Amiin. Amiin. Amiin.


Semoga umur saya tahun ini melimpah berkah.

Friday, February 01, 2013

Allah Ada

Jadi akhirnya, setelah menulis dengan brutal pada post sebelumnya, saya meninggalkan laptop dan meringkuk putus asa. Sedikit-sedikit memikirkan kemungkinan bagaimana jika airmata saya terlanjur membatu akibat tertahan terlalu lama?

Saya ingat suatu malam di kamar Zahra, sehabis tidak sengaja menyaksikannya membanting pintu garasi dengan marah, ketika kebetulan saya sedang berada di bawah dengan Angga. Saya buru-buru ke supermarket dulu sebelum akhirnya masuk ke kamarnya sambil membawa es krim dalam kantong plastik hitam. Saya bahkan masih ingat jelas kata-kata apa yang saat itu saya bilang, "daripada lo nangis meluk bantal mending lo nangis meluk gue", iya, saya bilang gitu sambil pegang bahunya lalu tiba-tiba tangannya sudah memeluk saya.

Kemudian menangis, begitu keras sampe bahu saya ikut juga bergetaran. Tangan kanan saya di antara rambutnya dan tangan kiri saya mengelus punggungnya. "Nggak papa, nangis aja. Udah, nggak papa. Nggak papa kok, nggak papa," bibir saya diam tapi hati saya merapal kata nggak papa berulang-ulang. Saya yakin itu sampai.

Bisa menangis lepas dengan bahu dan tangan yang menyangga dan memeluk kita. Maka, nikmat menangis mana yang kamu dustakan?

Kembali ke malam ini, kembali pada saya yang merana dan meringkuk di kasur. Berusaha nangis tapi enggak bisa karena ketidakberadaan bahu yang tidak saya punya. Lalu tiba-tiba saya ingat dan sadar betapa diri saya begitu bodoh. Saya lupa masih punya Allah. Saya selalu punya Allah. 

Malam itu saya membiarkan Zahra menangis panjang sampai akhirnya dia menganggukan kepala setelah beberapa kali mulut saya merapalkan 'sudah' dengan intonasi bertanya. Lalu saya menyalakan lampu dan bilang 'kamu jangan pernah lagi nangis untuk cowok itu', kemudian saya membuka kantong plastik hitam yang saya bawa dan kami makan eskrim bersama. Sudah agak mencair, tapi setidaknya manis. 

Jadi malam ini akhirnya saya bisa menangis panjang. Mata saya memejam, dan membayangkan Allah memeluk saya sekujur badan, kepala saya di bahunya, bibir saya diam, tapi hati saya berkali-kali bilang, Allah saya lagi sedih.

Lalu entah gimana caranya saya merasa tangan Allah mengelus-elus kepala saya. Dia bilang, "tidak apa-apa".

:)


setelah menghabiskan Lays rasa rumput laut dan
tiba-tiba saja saya merasa tidak akan menangis lagi untuk cowok itu,
ataupun cowok yg itu. :P




Tapi hikmah terpenting dari menangis kali ini adalah
Kamu, Mel, teruslah selalu berusaha ada untuk patah hati patah hati orang lain
jangan pernah takut tidak ada siapa-siapa saat patah hatimu tiba
karena sudah pasti Allah yang akan membalasnya
karena sudah pasti Allah yang akan selalu ada

Maka Nikmat Menangis Manakah yang Kamu Dustakan, Sayang?
:* 

Wednesday, October 03, 2012

di bawah lampu

Seharusnya  aku ada di sini dari awal: duduk di bawah lampu tanpa berpikir apapun sembari menahan mual.
Tepat begitu menyelesaikan urusan dengan indomi goreng telur yang seharusnya tidak boleh lagi aku telan.

Akhirnya bertemu setelah seharian merindu faktanya memang melegakan, tapi itu pun buat apa kalau pada akhirnya cuma mengantar kita kembali pada titik yang sama. Bukankah kita sudah sama-sama lelah? Tapi apa yang salah? Bagaimana bisa kita saling berteriak menginginkan hal yang sama tapi dengan bahasa berbeda? Atau mungkin ini cuma sesederhana masing-masing kita memiliki gagasan sendiri mengenai cara bagaimana mesti bersama?

Bahkan, mungkin jawabannya sesepele egoisme.

Maka, maaf.
untuk aku yang terlalu sulit, selalu senang membuat segalanya jadi rumit.
untuk aku yang sedikit-sedikit merengek minta lepas atau terkadang terlalu keras.

Terima kasih telah bersabar sejauh ini dan semoga kamu tetap sabar sampai nanti. Pada hari hari ketika hati milik aku mengeras lagi, semoga ketenangan yang kamu bilang aku berikan tetap setia berdiam di sana, di dalam hati milik kamu yang selalu terasa seperti rumah :)

bulan entah di mana, tapi langit dari bawah sini warnanya merah
pada oktober di tanggal 3
22:25

Monday, June 25, 2012

dan lalu,

uraikan pelan-pelan, mel.
dengan sabar.
selalu ada hal yang bisa diselesaikan baik-baik.
begitu juga hati. 
~

Thursday, April 05, 2012

JANGAN

sebab rasa sakit itu, rasa capek, remuk, atau bahkan gatal di luka bekas karangmu, cuma ada di kepala.

Plis jangan capek, Mel.

Thursday, October 27, 2011

Metodologi Penelitian Bahasa

Saya tahu bahwa selalu ada tahap-tahap frustasi yang tidak bisa dihindari.

Tetapi kalau saya bisa mendekam di kamar berhari-hari karena matakuliah komposisi dan pada akhirnya menemukan tema proposal penelitian yang selanjutnya malah dikategorikan sebagai salah satu yang layak dilanjutkan untuk skripsi, saya juga pasti bisa melewati ini.

Meski saya sudah mangkir hampir 3minggu dari deadline yang dijadwalkan.
Kenapa sampai bisa sejauh itu?
Yang saya tahu, tahap-tahap mencari ide memang sebegitu menyiksa sehingga -mungkin- secara tidak sengaja alam bawah sadar saya menolak memikirkannya. Terus-menerus.
Tapi sekarang tidak boleh mangkir lagi karena mau tidak mau, suka tidak suka, seseorang memang harus mulai menghadapi dan tidak boleh lari lagi.

Perlu saya tegaskan bahwa saya bukannya tidak melakukan apa-apa. Hanya saja apa yang ingin saya kerjakan sudah ada pada disertasi supra tebal milik seseorang yang dengan egoisnya menggarap fenomena neologisme itu dari segala aspek sampai-sampai saya kelimpungan mencari-cari perspektif lain untuk saya soroti.

Iya. Saya sudah terlanjur tidak bisa melepasnya.
Tapi saya tahu, di suatu sudut pasti ada celah yang bisa saya angkat tanpa harus dicela sebagai plagiat. Dan saya juga tahu, begitu saya menemukan sudutnya, semuanya akan menjadi mudah dan menyenangkan seperti masa-masa membuat bab awal proposal penelitian pada matakuliah komposisi di semester 2 itu. Klasik serupa itu.

Jadi kamu CUMA harus lekas menemukan, mel.
Sudah hampir 3 minggu.


tapi untuk menemukan itu, kamu perlu bersusah-payah mencari-cari dulu.

menunggu subuh
masih wangi sehabis mandi jam setengah 2 tadi
selamat kamis pagi!
hari ini saya tidak akan bolos kelas MPB lagi, apapun yang terjadi!

Thursday, October 13, 2011

mulai

Kamu harus benar-benar berhenti menjadi pencuri waktu seperti ini, mel. Ada banyak kewajiban yang mesti kita kerjakan, list-nya menumpuk kian panjang dan kamu tidak bisa untuk hanya mengerjakan apa yang kamu kepingin mengerjakannya saja, yang cocok dengan mood-mu saja. Atau baiklah, mencuri waktu pun bisa tak apa asal ada hasilnya.
Percayalah, ini merupakan hal menyenangkan untuk dilakukan.
Hanya saja,
kamu perlu memulai.

Sunday, July 17, 2011

03.10 di malam nisfu

akhirnya saya bisa nonton tangled sampai selesai tanpa harus merasa khawatir tentang keharusan beraktifitas begitu pagi esok hari. tanpa harus berlagak seperti pencuri waktu di tengah keriuhan dalam sekre yg mulai terasa seperti rumah itu.

yap! seminar internasional bahasa arab IMLA ketujuh selama tiga hari ini akhirnya selesai.

saya senang.

tapi,
entah bagaimana caranya melepas pembiasaan-pembiasaan tiga hari kemarin sementara saya sudah mulai menerima sempitnya masa yang mengacau rutinitas mandi pagi saya yang biasanya memakan waktu lama. bagaimana rasanya kelak kehilangan dorongan entah dari mana yang menegakkan tubuh saya setiap paginya, memaksa untuk memulai hari secepatnya. bagaimana melepas posisi asisten mas abe yang tiba-tiba melabel dengan sendirinya itu.

sejujurnya, saya memang belum mau kehilangan bermacam-macam hal seru dalam masa rusuh itu. segala keriuhan dalam petak 3 kali 3 meter yang menghadap convension hall dan sejajar dengan ruang operator. keriweuhan menghadapi orang-orang arab yang keras wataknya, bahkan meski hanya mendengar ceritanya saja, saya ingin menikmati itu lebih lama.

saya merasa belum cukup banyak belajar betapa juklak/juklis itu benar-benar diperlukan dalam setiap kegiatan. betapa instruksi yang jelas kepada panitia lapangan itu perannya sungguh-sungguh signifikan. dan yap! betapa mengingat jobdesc masing-masing itu sebegitu penting.

saya merasa belum banyak belajar dari kepanitiaan yang susunan acara penutupannya saja tidak jelas durasi waktu per-sesi nya ini. yang koordinatornya saja bisa salah memberikan instruksi. yang, data jumlah panitianya saja ternyata tidak lebih lengkap dari data peserta.

saya perlu merasakan rusuh itu lebih lama, menganalisa agar kelak dapat menghindari situasi kurangnya konsolidasi, koordinasi dan mis-intruksi semacam ini.

dan ahh.. saya juga belum banyak belajar tentang sabar dan merelakan. saya rasa saya memang perlu lebih banyak hal-hal seperti ini lagi.

bagaimana mengikhlaskan pekerjaan yang membuat pegal itu untuk tidak jadi dipakai. barangkali saya memang perlu untuk diminta membuat begitu banyak salinan kwitansi untuk menjadi mengerti bahwa tidak dipakai tidak berarti kerja keras kita kehilangan harga.

saya memang jadi belajar sabar dari tugas keroyokan membuat nomor meja itu. ketika kak fahmi yang membuat desainnya ternyata tidak makan waktu sampai berjam-jam, pakdhe yang buat bentuknya bahkan hanya memakan waktu sebentar, tapi kenapa saya yang begitu sial mendapat jatah mengetik tulisan yang mesti di revisi berkali-kali macam orang bikin skripsi, bahkan ketika nomor meja itu sudah benar-benar jadi.

barangkali saya memang perlu merasakan itu lagi hanya agar mampu melewati itu tanpa harus merasa kesal dan terganggu.

tapi setidaknya saya sudah merasakan rasa syukur atas setiap senyuman langka yang bisa ada dengan ajaibnya. saya jadi bisa tahu bahwa pak masruhi itu ternyata bisa lucu juga, dan mas abe ternyata bisa kehilangan senyumnya. saya belajar memperlakukan hati saya agar tahan terhadap bentakan, mengabaikan perlakuan-perlakuan tidak menyenangkan yang disebabkan emosi pada masa rusuh-rusuh itu.

saya memang merasa belum cukup menikmati eksotisnya orang-orang arab itu. menikmati sorban-sorban dan gamis putih membaluti tubuh besar tinggi yang kata mbak laila berkemampuan membikin ngeri novia kolopaking sampai ia turun panggung tepat begitu lagu selesai. saya memang belum puas mengagumi kecantikan perempuan bercadar dengan gamis warna langit pagi hari itu, yang dari dua matanya saja sudah memancar cantik yang luar biasa.
tapi setidaknya saya jadi tahu ada orang arab yang seunik kak hanan. setidak-tidaknya saya sudah berkenalan dengan rezvan dan menemukan sendiri bahwa ternyata ada orang-orang yang bisa tidak menyukai ahmadinejad di iran.

setidaknya saya sekarang sadar betapa ternyata agama saya sudah menyediakan pintu keramahan yang lebih hangat dari sekedar senyuman; salam. sesuatu yang pelan-pelan mulai membuat saya ketagihan dan semoga dapat dibiasakan. =)

dan masa-masa rusuh itu ternyata memang sudah berlalu, saya harap semua orang bisa menemukan pembelajaran mereka juga, meski hanya satu.
dan semoga, segala kerja keras yang pernah ada itu barakah dan jadi pahala.

sudah dekat jam 4.
semangat malam nisfu sya'ban.

Wednesday, November 03, 2010

antara pak jawat, percakapan arab dan hari jum'at

aku masih ingat cerita ini. meski rasa-rasanya sudah begitu lama, tapi di kepalaku cerita ini masih basah. barangkali ini macam cerita yang baru akan kulupa hanya jika aku terkena amnesia.

pagi itu sejuk.
aku di jembatan budaya merapalkan kata2 dengan khusyuk.
hari itu UTS perdana di semester pertama, ujian lisan pula.
jembatan budaya ramai oleh teman2 sekelasku yg juga melakukan hal sama meski motifnya beda2, ada yang karena semalam belum belajar, ada yg hanya untuk mengisi waktu menunggu giliran.

aku bahkan masih ingat di kursi yg mana dan sebelah mana waktu itu aku duduk.
matahari di belakangku mulai memanas dan aku masih saja khusyuk,
menghapal belasan kosa kata yg mulai memenuhkan kepala tanpa banyak terpengaruh oleh hp ku yg pagi ini hilang di bis kota.

kupikir waktu itu, barangkali aku memang kurang memberi, masalah diomelin papa bisa dipikirlah nanti-nanti, toh kalo aku sabar, barangkali ujianku hari ini bisa lebih lapang.

rasanya sudah beratus-ratus menit ketika menyiar kabar bahwa ruang ujian dipindah pak jawat ke ruang sidang.
maka, berbondong2 lah anak manusia yg belum dapat giliran melakukan transmigrasi besar2an menuju selasar jurusan. big grin

setelah entah berapa jam menunggu, tiba juga giliranku.
aku masuk ruang sidang bertiga dengan irul dan cinta sebagai arus peserta paling terakhir.
diantara mereka bertiga, aku yg dapat giliran paling terakhir.
dan hasilnya? kacau balau mengenaskan.
kosakata2 yg aku hapalkan dengan semena-mena menghilang.
kacau, kacau, kacau!
kalau gelas jatuh pecahnya berupa potongan, gelasku jatuh langsung menjadi serpihan. benar2 tidak tertolong lagi.
jangankan menjawab pertanyaan yg disodorkan ustadz jawat, mengerti maksutnya saja tidak. irul dan cinta saja iba melihatku dihabisi begitu rupa.

keluar dari ruang sidang saja aku sudah ingin menangis. tapi seorang melyn mana boleh menangis, di depan khalayak umum. ya, jadinya kutahan-tahan saja. sampai di luar, kulihat tika tersenyum2 mencurigakan.
yahaa.. ternyata seseorang yg iseng2 kami taksir berjama'ah menitipkan salamnya untuk tika.
sial! sial! sial! di titik itu, airmataku sudah hampir jatuh.

normalnya, dalam keadaan jiwa yg sedang tidak labil, yg aku lakukan adalah ngecie-cie in campur sesumbar2 gak penting. tapi situasi kali ini bener2 sedang tidak ramah. membuat segala prasangka baik yg berusaha kupercaya dengan susah payah seketika pecah.

kenapa hari ini sial sekali?
runtun beruntun.
seolah seisi bumi ini berkonspirasi, berlomba2 bikin aku kesal.
untuk satu hari di dalam hidupku, belum pernah aku merasa sesial itu.

gimana enggak?
pertama hp ku ilang.
kedua, UTS percakapan arab yg seharusnya ditanyai oleh sesama teman, tapi giliranku malah ditanya langsung sama dosen. dapat giliran paling terakhir pula. hapalan2 kata hilang semua. entah berapa kali aku berkata "khalas ustadz," pada pak jawat, mengemis2 belas kasihan. sebuah kalimat yg tidak hanya membikin malu, tapi diam2 juga menjatuhkan mentalku.
jangankan aku, irul dan cinta pun barangkali kepingin menangis melihat betapa sialnya aku waktu itu.
dan ketiga, soal salam-salam an. lihat kan, bahkan hal sepele macam begini pun tak mau kalah membikin aku kesal. benar2 minta ampun!

rasanya setelah itu aku cuma ingin cepat sampai di rumah, mematikan lampu kamar, cukup aku sendirian, menangis sampai puas, tertidur sampai pulas.

tapi barangkali, wajah menahan nangis ku waktu itu sudah terlalu aneh ditangkap oleh galuh dan tika, sampai2 mereka tidak mau melepasku begitu saja. mereka mendesak mati2an. aku mati2an melawan. tapi ternyata, selamanya dua akan selalu berarti lebih dari satu.
untuk kali pertama dan pertama kalinya aku menangis di kampus, menangis yg benar2 parah. sampai tersedak dengan hebohnya. kepergok mbak mexi pula.
sejak itu, aku bertekad untuk enggak lagi menangis di depan apapun yang bukan bayanganku.
tidak akan dan tidak akan. pasti sebisa mungkin ku tahan.
begitu sampai di kosan. lagu bad day daniel powter menguar dari kamar mbak (entah-siapa-yang-aku-lupa-namanya). seperti menemukan pelarian dan penghiburan, aku menyanyikannya keras-keras di dalam hati. menyindir diriku sendiri, menghibur diriku sendiri.

dan UTS percakapan arab semester ini, lagi2 aku sama ustadz jawat.
juga ujian lisan, aku menggigil ketika menyadari hari giliranku ternyata hari jum'at.
uts percakapan arab, ustadz jawat, hari jum'at, ditambah lagi ujian lisan dan semester ganjil. semuanya pas. iya, aku memang menghubung2kan semuanya, dan ini bikin firasatku gak enak.
aku tau sugesti ini dari diriku sendiri.
sugesti yang sudah terlanjur bertumbuh yang sedang berusaha kuabaikan dengan sungguh2.

satu kutipan yg sudah kuhapal diluar kepala membuatku tersadar, kemudian memberi efek menenangkan.

"Kekhawatiran tak menjadikan bahayanya membesar! Hanya dirimu lah yang mengerdil! TENANGLAH! Semata karena Allah bersamamu. Maka tugasmu hanya berikhtiar"

ps: untuk seorang teman yg selalu melarangku mengucap kata sial.
aku tau, bilang sial menjauhkan kita dari kesyukuran, dan sebanyak apa kata sial yg aku sebutkan sebanyak itu pula keinginan abang menjitakku, kan? big grin
cuma untuk hari ini aja. besok2 enggak bilang sial lagi. janji dah janji. peace sign


selesai ditulis hari kamis.
mahendra bayu 14 pukul 9.
lagu bad day-daniel powter.

Tuesday, November 02, 2010

november

tentang target2ku di bulan ini.
sebagian besar masih tentang membiasakan diri mengenai hal-hal sama di bulan lalu.
masih soal membumi hanguskan ritual mengerjakan tugas dalam semalam. masih soal membinasakan sistem belajar kebut sehari tiap ulangan, target postingan dan rajin merapikan catatan. masih soal bagaimana aku bisa mengoptimalkan waktu luang. masih soal konsistensi mandi dua kali sehari. masih soal membiasakan diri untuk tak lagi tidur sehabis subuh, se-ngantuk apapun itu.

dan beberapa tentang hal-hal baru.
tentang bagaimana aku bisa mengakhiri bulan ini dengan situasi lemari rapih aman terkendali big grin, juga tentang AAI.
ahyaa... dan soal TPA juga.

Soal AAI (Asistensi Agama Islam) sebenarnya itu targetku 2 tahun lagi. nanti, setelah umurku 20, ketika sudah dapat kupastikan aku sungguh2 berkompeten untuk itu.
tapi penawaran Mba Eci yang sedikit mendesak membuatku berpikir lagi. aku belum merasa siap, tapi terus menolak juga rasanya tidak enak. aku teringat kata-kata mba puspa, menerima penawaran ketika tenaga kita benar2 dibutuhkan bisa jadi lebih berarti dibanding menawarkan diri ketika tenaga kita tidak benar2 diperlukan.
Yasudahlah, atas dalil "siapa yang menolong agama Allah pasti Allah akan menolongnya" aku pun maju saja.

tentang TPA, bulan kemarin tak sekalipun aku datang kesana. yah, aku bisa saja menyalahkan watasaba, menyalahkan MTQ, menyalahkan saman. bermacam hal sama yang biasa kujadikan kambing hitam dalam list alasan-alasan yang menjawab pertanyaan 'kenapa cuma belajar sekedar untuk pretest telaah?'

tapi buat apa? tidak ada faedahnya, tidak membuat perbedaan apa2. memang manajemen waktuku saja yang belum optimal, padahal memang skala prioritasku lah yang masih belum benar. ini juga jadi targetku bulan ini: menentukan dengan benar prioritasku dan berlaku adil atas itu.

pagi ini, aku sudah cukup puas dengan berhasil melewatkan malam tanpa menerbitkan postingan demi memilih mempersiapkan materi untuk presentesi UTS percakapan arab nanti. sebuah pertanda bahwa aku telah lebih rasional menentukan apa yang mesti kuprioritaskan sekaligus menjadi tanda juga bahwa targetku untuk membumi hanguskan sistem kebut semalam sekali lagi gagal total.

barangkali, aku harus lebih keras pada diriku sendiri.

ps: aku tulis ini dengan kepala berat akibat tidur yang cuma 2.5 jam, menimbang-nimbang manfaat-mudharat untuk sedikit bertoleransi, kembali tidur pagi ini. not talkingnot talkingnot talking



Mahendra Bayu 14
pukul enam kurang delapan belas.

Monday, April 26, 2010

JADI JAHAT

Aku pikir tika benar.
Bahwa atas segala tingkah anehku sekarang terhadapnya. Dia bukannya tidak tau apa2.
Kurasa dia sadar, bahwa sekarang aku berbeda. Mungkin dia gak tau pasti alasannya.
Tapi dia, bisa melihat, bagaimana aku beranjak aneh akhir2 ini.

Dan aku mulai sadar.
Bahwa segalanya perlahan mulai tak benar. Ya. Aku lalai. Aku terbuai. Dan bagaimanapun ini bukan suatu hal yang boleh dibiarkan.
Aku harus mulai menata semuanya, lagi.

JADI JAHAT. Kayak kata abang kemaren. Mau gak mau memang harus JADI JAHAT.
JAga DIri JAga HATi. Jadi Jahat ke diri sendiri.
Tahan diri untuk gak lagi show up gak jelas.
Tahan diri untuk ga selalu nampilin sikap yang seolah teriak "heloooo... Aku disini loooh..".

Gak perlu lagi melakukan hal2 gak penting.
Gak perlu lagi mengada2kan apapun yang bisa membuatku menyentuhnya, menyebabkanku merecokinya.
Gak perlu lagi memanipulasi apapun.
Gak perlu memaksakan apapun.
Gak perlu lagi bertingkah konyol.
Gak perlu. Gak boleh.

Melyn sekarang harus merdeka.
Merdeka dari apapun yang membelenggunya. Dari apapun yang membuatnya tidak bebas bermanuver ria dalam batas yang diyakininya. Dalam batas yang telah disepakatinya.
Melyn sekarang gak perlu lagi berlaku bodoh. Gak boleh lagi menjadi bodoh.
Melyn sekarang harus merdeka.
Merdeka dalam melakukan apapun yang disukanya tanpa terecoki oleh keruh campur aduk rasa.
Merdeka dalam mempergunakan haknya atas hatinya. Menegaskan lagi otoritasnya. Terhadap sikapnya. Terhadap dirinya. Terhadap hidupnya.

Bagaimanapun juga aku harus merdeka.
Dan untuk merdeka itu aku perlu menahan diri. Aku harus jadi jahat ke diri sendiri.
JADI JAHAT, sebagaimana aku dulu berusaha JAgain HATi tika.
Aku harus jadi jahat. Harus tega. Mau gak mau harus maksa.
Meletakkan dia di garis batas seharusnya. Menekan tegas perasaan tak biasaku dibawah permukaan. Meredam riaknya dalam2. Agar yang muncul di permukaan kemudian adalah sikap yang sewajarnya. Jika sikap itu dalam bentuk perhatian, maka perhatian yang akan keluar adalah sewajarnya perhatian. Yang tulus, jernih, bening. Sewajarnya perhatian terhadap teman. Sewajarnya perhatian untuk saudara seiman.

Melyn sekarang harus merdeka. Dimulai dari merdeka untuk berkata:
"siapapun kau yang tlah merampas hakku atas hatiku. Secepatnya aku akan benar2 merdeka, dan aku gak akan kalah!"

Sekarang saatnya mandi.


Mahendra Bayu, 14
Senin, 26 April 2o1o : 22.44

rock  on!rock  on!rock  on!

Monday, April 19, 2010

pasca 18

paling gak, setelah malam itu aku jadi tau.
betapa selama tiga bulan ini kami begitu rapuh.
sebagian kerja setengah2 dengan hati setengah. sebagian kerja pontang-panting sampai lelah, tapi dengan hati jelantah.

paling gak, setelah malam ketika kami duduk di bawah langit mendung malam itu, aku jadi tau.
betapa dalam bekerja pemimpin itu penting. meskipun cuma nyuruh2, meskipun kerjanya ngatur2. tapi kalo ga diatur, kalo ga ad yg nyuruh, yang dipimpin pasti juga bakal bingung.
mau ngapain?? ini digimanain??

pemimpin harus bisa kasih keputusan. atau yang dipimpinnya bakal kesana kemari kayak anak ayam ilang.
entah kemana ga tau tujuan.

pemimpin harus punya inisiatif. bisa menggerakkan, panjang pikiran dan gak boleh panikan. atau yang dipimpinnya bakal tidur kepanjangan dan baru bakal heboh gak keruan ketika deket deadline.

dan pemimpin gak bisa semau2nya dia aja. kalo gak mau dilemparin bangke sama yang dipimpinnya.

paling gak, setelah malam tanggal 18 kemaren.
akhirnya aku benar2 ngerti gimana peliknya menyatukan 30 kepala.
ketika kami duduk melingkar diatas batako dingin, bebas disapa angin, sibuk berargumen memperjuangkan kepentingan masing2.
aku jadi ngerasain sendiri, gimana ribetnya 30 orang yang punya satu tujuan tapi gak bisa jalan sama2 diatas satu garis yang sama. masing2 punya cara, dan terkadang cara orang lain beda sama cara kita dan cara itu gak mudah kita terima.
dan lebih susahnya lagi karna kami ga satu komando. karna ga ad yg komando kami. karna orang yang seharusnya komando-in kami terlalu penat sama pikirannya sendiri.

tapi diluar segala keribetan itu. selalu ada jalan tengah untuk semuanya, asal kita bener2 beritikad baik buat cari solusi terbaik dan tetep mo usaha untuk nyelesainnya.

paling gak, setelah hari ini aku sadar. bahwa bagaimanapun, berkontribusi itu musti ikhlas maksimal. gak boleh setengah2. atau bisa2 jadinya kayak gini. kerja dua kali, capek dua kali, ngabisin pikiran, ngabisin tenaga dan waktu luang.
tapi gimanapun, inilah yang musti aku bayar. inilah yang musti kami bayar.
atas segala setengah2. atas segala ketakpedulian. atas tidur yg berkepanjangan. atas segala kesal yang dipendam dan gak segera dimuntahkan dan ketika meledak ujug2 malah salah sasaran.

dan akhirnya, kami terbagi dua. bukan berarti pecah.
kami tetap berjalan beriringan, hanya saja bukan disatu garis sama.
tak apa! yang penting uda sampi kata mufakat. toh garis itu mengerucut ke satu titik yang sama juga.
dan aku memilih salah satu garis.
memang iya kerja dua kali. memang iya capek dua kali. tapi aku pikir, cara ini yang paling tepat yang bisa aku pilih. biar berprosesnya dapet. efek jeranya juga dapet. biar lain kali aku ga setengah2 lagi. kontribusi yg ikhlas, biar yg didapet juga ga cuma sekedar capek.

yahh... bagaimanapun aku lega, acara ini terlaksana juga. meskipun masih banyak pr lainnya. dari dana yang defisit sampe konflik antar panitia. apapun itu, aku percaya, disini semuanya uda belajar. dan proses itu.. masih berjalan.

Wednesday, April 07, 2010

the little things -colbie-


saya hanya sedang suka lagu ini. *video klip asli liat disini.


saya mau jadi orang yang mandiri. tanpa perlu merepotkon siapapun atau apapun.
saya tidak ingin tergantung lagi, pada apapun atau siapapun.
saya ingin bisa mengerjakan banyak hal dengan tangan saya, dengan segenap kemampuan saya.
ada masa dimana saya memang akan butuh pertolongan. dan saya tau bahwa saya masih akan butuh tangan orang2.
tapi ketika keadaan mendesak itu datang.
paling tidak saya sudah paham, bahwa dia bukan pilihan.

dimulai hari ini, dimulai dari hal kecil pada detik ini.
apapun itu, bagaimana pun mendesaknya itu.
jika dia. saya tidak akan mau! sungguh!

saya mau belajar.
saya mau memulai.
saya mau berusaha.
saya akan terbiasa.
dan ini demi kebaikan saya.
dan kalian beserta hujan menjadi saksi saya.

Hamaasa!!
Bismillah.

Mahendra Bayu 14.
Rabu, 7 April 2o1o, 10.14.

Friday, March 26, 2010

percakapan arab

bagiku, mata kuliah ini adalah yang paling mengerikan.
seperti nama mata kuliahnya, biasanya kami memang melakukan percakapan, dan tentu saja, dengan bahasa arab. aku gak yakin bagian paling mengerikannya ada dimana, entah di percakapannya, entah di bahasa arabnya. tapi sepertinya di yang pertama.
yah, mau bagaimana lagi, aku memang lebih suka menulis daripada bicara.

setelah kupikir2, di semester dua ini.. rata2 mata kuliah yang khusus ke bahasa arab menuntutku untuk sprint, bukan lagi jogging.
umm.. bukan rata2, hanya beberapa aja, kayak morfologi arab sama percakapan arab.
untuk mata kuliah telaah teks arab, kebudayaan arab dan kaligrafi arab. aku masih bisa ngikutin.
kesalahanku dulu adalah karena aku jogging sambil bersantai2 di semester satu.
dan aku tau, pindah ke semester dua ini ibarat naik level. tapi bukan level dua, melainkan level tiga sekaligus.

apalagi, mata kuliah ini 6sks. benar2 ranjau. nailbitingworriedworriedworriednailbiting

yang aku sadar sekarang ialah aku mulai malas2an masuk kuliah. mata kuliah ini khususnya. entah knapa..
mungkin karena 6sks? pertemuan 3kali seminggu. bosen, bingung, ruwet, takut, susah, tugas. sighsighsigh
mulai putus asa?
umm.. thinking kurasa belum. aku masih suka disini. masih ingin bisa. masih mau belajar.
tapi jika menengok kedepan, rasa2nya ada begitu banyak yang tertinggal, dan optimisku memudar.

yah.. kurasa, semangat aja mulai gak cukup sekarang. sebab sekarang aku sprint, bukan lagi jogging. banyak yang harus dipikirkan, banyak yang musti dipersiapkan.
stamina, konsentrasi, kesungguhan, strategi dan tentu saja.. air putih. gak bisa kalau cuma semangat aja.

iya. aku harus bikin strategi. harus bikin komitmen lagi. harus punya tekad lagi.
aku bakal kurangi waktu fesbukan, menyediakan waktu untuk mengulang pelajaran.
aku gak mau lagi tidur di kelas kaligrafi, meskipun dosennya ngobrol entah apa, lebih baik di kelas latihan nulis aja.

aku bakal rajin2 mencatat, di tempat yang seharusnya tentu saja, bukan lagi di sembarang kertas seperti selama di semester dua ini. aku bakal membenahi kertas2 yang terserak, mengumpulkannya jadi satu. biar gak ruwet, biar gak ribet.
apalagi??

aku mau lebih rajin untuk morfologi. sering2 latihan mentasrif sendiri.

aku GAK MAU BOLOS LAGI di kelas percakapan arab. sejak awal semester ini aku uda bolos 4kali. harus rajin bikin tugas. gak boleh takut masuk kelas.

iya. sekarang aku punya strategi. uda punya komitmen lagi. uda punya tekad lagi.
ini adalah janji saya, untuk diri saya. dan kalian adalah saksi saya.

HAMAASA!!!
jogja, 26 Maret 2o1o : 5.55 : sesaat sebelum mandi untuk masuk kelas percakapan jam 7.

dan semangat ini, komitmen ini, tekad ini, harus diupgrade sering2. sebab letaknya di hati, naik turun, gak stabil, berubah2. sekali lagi, HAMAASA!!!
UA-111698304-1