Showing posts with label 30HariMenulisSuratCinta. Show all posts
Showing posts with label 30HariMenulisSuratCinta. Show all posts

Wednesday, January 25, 2012

lorong

Kamu tau apa yang terlintas dalam pikiranku ketika aku menelusuri lorong gelap itu tadi?

Sudah jam 9 lewat dan pagar yang seharusnya sudah terkunci itu ternyata belum terkunci. Aku teringat kamu yang pada suatu malam pernah kusaksikan menelusur lorong ini. Aku lupa apa malam itu sebegini banyak bintang, tapi kurasa waktu kita bersamaan. Iya, aku memaksa waktu menghubungkan kita. Menjadikan itu bukti bahwa kita terhubung walau dengan hal yang sebegitu sederhana. Ah, kita? Lucu, menyaksikan aku yang tiba-tiba saja menciptakan kita. Ini rekleks! kalau kamu mau tahu, atau juga... harapan.

Baiklah, begini saja. Mari sudahi ceracauan ini dengan mengurai kita yang fiksi itu kembali menjadi aku dan kamu saja.

Faktanya hanyalah aku yang melewati lorong gelap itu malam ini, memikirkan kamu. Membayangkan kamu melakukan sesuatu pada waktu-waktu sesaat tadi. Barangkali kamu belajar, atau mungkin malah sedang bahagia mengobrol via dunia maya dengan perempuan yang kamu suka, atau bisa juga sedang mengomentari threat ini itu pada sebuah situs yang di sana seseorang yang kukenal berjualan online jam dinding unik minimalis :P

Ada banyak yang bisa kamu lakukan, di sana: di sebalik tembok bisu lorong, pada kamar yang sekarang sedang kosong.

Selamat Tengah Malam :)

Thursday, January 19, 2012

setelah 9 bulan.

Halo kak, apa kabar?
akhir-akhir ini nama kakak sering disebut-sebut di kosan. Ini sudah 9 bulan sejak surat pertamaku. Rupa-rupanya waktu sudah berlari demikian jauh.

Aku cuma mau mengabarkan bahwa sekitar bulan kemarin, masa lalu itu kembali kuungkit. Rasanya masih kesal tapi sepertinya tidak lagi terlalu sakit. masih tidak habis pikir. masih tidak percaya bahwa kakak bisa sebegitu tega. masih bertanya-tanya.
Tapi yasudahlah, toh itu masa lalu.
Kata Azka, masa lalu bisa kita apain aja, bisa kita lipet, kita sobek, kita bakar, kita injek-injek, kita buang, atau kita simpan. Tapi aku masihlah melyn yang beranggapan bahwa sesakit apapun, masa lalu bukan seperti angin utara yang berhembus tanpa makna apa-apa. Rasa sakit tidak akan menguatkan jika berakhir dengan dilupakan. Barangkali iya, melupakan dapat menyembuhkan, tapi tidak menguatkan.

Dan setelah 9 bulan, aku bisa katakan bahwa aku sudah betul-betul sembuh. Ternyata sembuh tidak melulu harus dengan melupakan, kak. Waktu ternyata juga menyembuhkan.

Jadi sekarang, kita baik-baik saja ya. Apa yang kujanjikan dulu sekarang sudah nyata. Bahwa kelak akan ada saat ketika aku tidak lagi merespon sapaan kakak dengan sebelah mata. Menghormati kakak sehormat aku ingin dihormati juga.

Luka itu sudah sembuh, walau kadang-kadang masih nyeri kalau aku mengingat-ingatnya lagi. Tapi sudah tidak bengkak, dan Lubang yang dulu itu sudah ditutup waktu, kak.

Jadi sekarang, ayo kita main ke taman lampion. Kata Ifa kakak kepingin. Terserah mau naik motor atau naik mobil. atau mungkin kakak mau kita ke pantai? melihati ombak yang menjilat-jilat pesisir, hilang seperti luka yang telah disihir.




-masih di kamar yang sama. di sebelah kamar yang dengan penghuninya kakak membocorkan rahasia-

Monday, January 16, 2012

Be With You

pict from here

Hai, apakabar?
Ini suratku yang kedua, setelah surat fiksi pertama waktu itu yang kutulis saat liburan.
Ini sudah musim ujian. Iya, tahu-tahu sudah 6 bulan. Kamu bagaimana? Apa 6 bulan ini jahat atau ramah?
6 bulanku berjalan dengan berat. Ya, kamu tahu aku, semuanya memang rasanya selalu yang terberat. Tapi kamu tahu kan, itu tidak benar, kadang-kadang aku memang suka lebai. Yang sebenarnya terjadi ialah aku mengalami chaos 3 bulan terakhir ini, yang sebenarnya adalah efek lain dari patah hati. Tenang, ini bukan karena lelaki manapun. Alasan lelaki terlalu hina untuk chaos yang sudah hina itu. Ini semua gara-gara nilai jeblok di mid-semester. Hey, jangan coba-coba berani tertawa! Jangan pernah berani menertawaiku di belakang, kamu tahu aku tidak suka, kan? Karena aku tidak bisa lihat.

Tapi asal tahu saja, ini semua juga gara-gara kamu. Kalau saja kamu sudah ada aku rasa chaos itu mungkin tidak akan terlalu parah, atau mungkin bahkan tidak ada.
Aku membayangkan kamu akan menertawaiku (nah, kalau sekarang baru boleh tertawa) yang saat itu sudah mau menangis seperti anak SD yang habis dimarahi gurunya karena kebanyakan main dan tidak membuat PR, kemudian menepuk kepalaku dengan tawa yang akan selalu aku sukai itu sambil  bilang, "udah jangan dipikirin, sini aku beliin es krim"

Lalu kita akan duduk di bawah bayangan pohon pinggir lapangan basket dekat sekolah, menjilati es krim kita sambil menontoni anak-anak SD main bola.

Begitu kan?

Tapi waktu itu memang belum ada kamu. Aku bahkan belum tahu siapa kamu, bahkan sampai saat ini. Seperti  yang kubilang dalam suratku yang pertama kali:
kamu masih fiksi.


pagi yang dingin di tanggal 16
dengan wangi meises ceres cokelat





p.s: kamu tau kan betapa aku suka wangi meises ceres cokelat,
aku pikir suatu saat seseorang harus membuat pewangi dengan aroma ini
atau nanti aku akan memborong semua ceres di supermarket, menempatkannya dalam mangkok, bukan untuk dimakan, tapi agar wanginya mengitari kamar:)

Sunday, January 15, 2012

untuk tetangga sebelah kamar

Aku rasa sedikit-sedikit aku mulai paham rasanya menjadi kamu.
Lewat cerpen yang kamu buat itu, lewat Alaya
Tadinya aku anggap kamu salah satu perempuan bodoh di dunia. Ingat kan kata-kata yang pernah kubilang, yang pernah kutitipkan lewat sebuah postingan, itu kata-kata seorang teman yang juga aku iyakan, bahwa perempuan tidak boleh menjadi bodoh.

...karena perempuan sudah terlanjur bodoh tanpa harus menjadi bodoh.

Tapi sekarang aku sadar bahwa kamu bukannya bodoh. Kamu cuma... tenggelam. Sudah terlanjur jatuh dan sulit kembali ke permukaan. Barangkali tidak tahu caranya. Barangkali memang karena di dasar lebih menyenangakan.
Kamu terpikat, terikat, tidak bisa pulang.

Ini semua juga bukan hal yang gampang buat kamu, kan?
Maaf ya aku baru bisa paham sekarang. tapi kamu harus tahu bahwa aku cuma tidak tahan melihat kamu bertahan di posisi itu. Di titik menunggu.

Tapi aku bisa apa kalau ternyata bagi kamu bertahan itu sakit tapi melepaskan ternyata lebih sakit? Bahwa kesakitan dalam bertahan itu malah lebih dapat ditanggungkan daripada melepaskan?
Bahwa ternyata kamu sudah sedemikian jatuh untuk dia yang  tadinya memberi harapan tapi kemudian mencampakkan.

Bahwa kamu ternyata sudah terlanjur punya terlalu banyak kenangan yang terlampau manis untuk diperlakukan sama seperti dia mencampakan kamu.
Dan apa yang sudah dilakukannya itu membuatmu lemah dan sakit di waktu yang sama. Mencintai sekaligus membencinya. Membuatmu pecah.

Bahwa kamu sesungguhnya kehilangan tenaga,
Tidak berdaya.


bahkan sekarang aku melihat kamu seperti melihat ini.
Bukan menggantung, tapi bertahan.

Sincerely,
tetangga.

Saturday, January 14, 2012

Lelaki dalam Lingkaran

Jadi seperti ini rasanya harus terus menerus minum obat untuk sembuh dari sakit tapi dalam seminggu kemudian kita malah disuntik penyakit.

Malam tadi tanganku gatal untuk menulisi tentang kamu tapi aku memutuskan untuk langsung tidur saja. Berharap memendam kamu di dalam pikiran bisa membuat kamu hilang dari ingatan. Berharap tidak menyebut-nyebut kamu sebelum lelap dapat membuat apa yang membekas itu lenyap. Berharap semua yang terjadi dalam lingkaran tadi malam dapat terusir seperti gelap yang diusir terang.

Tapi berusaha tidur ketika ingatan tentang kamu mengetuk-ngetuk pikiran ternyata bukan sesuatu yang gampang. Lalu pagi ini, aku terbangun dengan ingatan tentang kamu yang tidak juga hilang.
Ini semua gara-gara kamu. Kenapa kamu bisa sebegitu menganggu ketika kamu bahkan tidak melakukan apa-apa. Kenapa kamu hanya duduk diam disitu dan bisa kelihatan sebegitu menariknya?

Kamu tahu kan betapa membosankannya lingkaran ini setiap malam. Kita duduk di atas lantai dingin, mengantuk dan diganggu nyamuk, juga mungkin ditontoni setan-setan hitam dari atas pohon-pohon besar menyeramkan dipekarangan,
dan hujan.
Tapi di lingkaran itu kamu seperti lampu, dan aku selalu suka lampu-lampu.

Maka, mulai hari ini aku memang harus minum obat lagi. Iya, minum obat lagi untuk kemudian disuntik penyakit lagi. Lalu minum obat lagi dan disuntik sakit lagi.
Kamu bisa bayangkan bagaimana melelahkannya? Obat itu pahit dan susah ditelan, dan aku tidak tahu sejauh apa bisa bertahan.

Tapi yang seperti ini bukan gara-gara kamu, untuk kali ini aku tidak menyalahkan kamu. Aku tahu aku punya pilihan untuk tidak minum obat, untuk hanya membiarkannya saja dan melihat apa yang terjadi selanjutnya. Tapi aku lebih memilih obat, melihat bagaimana lampu-lampu selalu bisa membuatku kecanduan sementara kamu tidak seperti lampu-lampu lainnya, adalah jenis lampu yang membahayakan; meracuni.

Jadi aku memilih obat yang pahit dan susah ditelan ini.
Biar harapan yang mematikan ini hilang. Biar aku tidak kehilangan kewarasan. Karena kamu, lelaki dalam lingkaran, adalah sesuatu yang tidak terjangkau.

Sincerely, Siluman Laron.
UA-111698304-1