Showing posts with label #tulis. Show all posts
Showing posts with label #tulis. Show all posts

Saturday, December 10, 2016

Halo!

Saya nggak serius kok waktu bilang postingan selanjutnya bakal diupdate 22 bulan lagi. :D
Mengenai alasan kenapa selama ini saya ngilang mungkin jawabannya sesederhana saya enggak butuh menulis di blog ini sebanyak dulu. Pelarian saya setahun ke Finlandia bener-bener merupakan fase relaksasi dimana pikiran dan hati saya jauuhhh dari segala macam bentuk hal yang "poisoning". 24 jam berada di lingkungan anak-anak, akses buku melimpah ruah dari perpustakaan sepenjuru negeri (yang mana kita bisa pinjem buku apapun dari perpustakaan manapun hanya dengan modal internet+1 euro dan voila! buku tersebut tinggal kita jemput di perpustakaan terdekat), lalu persediaan pensil warna segala bentuk dan jenis. Belum termasuk jatah liburan yang buaaanyak dan seru-seru.

My daily life was just a stress healing itself. . Nggak heran postingan saya di 2014-2015 yang banyaknya bisa dihitung jari itu isinya tentang happy-happy semua. I could say it was the one and only time, when i truly felt my heart and mind in a calm state. Bahkan saya berani bilang masa kanak-kanak saya masih kalah bahagia karena dulu nggak pernah bebas mainan cat warna dan ngegambar pun cuma pake pensil di dinding rumah, yang ujung-ujungnya pasti diomelin karena bikin dinding kotor.

Saya tinggal di lingkungan orang-orang dewasa yang tahu bagaimana caranya menjadi peduli tanpa harus rese. Jadi selama itu hati saya baik-baik saja. Mungkin benar kalau katanya bagi sebagian orang kesedihan merupakan "muse" menulis mereka. Setidaknya, yang saya tahu itu lah muse saya. 

Tapi sebenernya selama masa itu saya tetep nulis sih tapi cerita fiksi. Malahan saya enggak pernah-pernah menulis selancar itu seumur hidup saya, sampai akhirnya laptop saya rusak di awal tahun 2015 saat cerita fiksi yang saya buat baru setengah jalan. Iya, Biam si sahabat paling setia dalam mendengarkan segala keluh kesah saya udah wafat. Tepatnya beberapa hari setelah ponsel baru yang saya beli online dari promo tahun baru gigantti nyampe rumah. Sedih, dan sejak itu kegiatan menulis saya berhenti total. Saya juga udah jarang banget nulis di notebook. Jadilah, saya cuma sering update instagram aja yg bisa langsung dari hape. Ya, sebenernya bisa juga sih update blog dari hape, cuma kan waktu itu hapenya sibuk dipake pacaran banyak aplikasi yang performanya jelek banget dipake di sistem operasi windows phone salah satunya ya aplikasi blogger, ngeles aja yang bener alesan yang pertama tuh yang dicoret.

Jadi ya gitu deh. Kemudian saat akhirnya saya beli laptop baru sepulang dari Finlandia, saya jadi canggung sendiri sama blog sendiri. I became rusty. Kata-kata mampet nggak bisa keluar, nggak tahu juga mau nulis apa. Itu writer's block terlama yang pernah terjadi sama saya.

Bahkan setelah diberi domain baru, butuh hampir setengah tahun untuk akhirnya saya berani colek-colek blog ini lagi. Kemudian saya kumpulin tekad buat permak tampilan blog dulu biar lebih semangat. Tapi bener-bener deh yang namanya ilmu itu memang harus diamalkan biar nggak lupa. Ilmu saya jadi tumpul, perasaan dulu kayaknya saya canggih banget sampe segala widget ditaroh di blog, sekarang mau bikin kolom perkenalan author di sidebar aja saya mabok gugling sana sini tetep nggak ketemu caranya. Ckckck, saking stress dan putus asa-nya saya sampe mau pake jasa mbak ninda buat permak blog saya. Kekeke.. Tapi setelah saya pikir-pikir, dari tahun 2008 saya selalu permak blog sendiri dan semuanya dipelajari sambil jalan, sedikit-sedikit walaupun masih jauh dari bagus, tapi kepuasan pribadi yang saya dapet ketika berhasil permak blog sendiri itu luar biasa. Lagian saya ini kan orangnya bosenan soal template blog, lah kalo misalnya saya pengen ganti tampilan lagi masa mau pesen template lagi, jadi mau nggak mau saya memang harus belajar ulang, toh nggak ada ruginya, waktu saya banyak jadi modalnya cuma harus sabar.
Akhirnya setelah jungkir balik dengan html dan javascript, jadilah tampilan blog seperti sekarang. Saya puas banget, walaupun masih banyak yang mau saya perbaiki dari tampilan yang sekarang, misalnya tombol read more, featured post dan feed instagram, udah saya cari-cari dan coba-cobain kode-kodenya kok nggak ada yang pas, malah curcol.

Duh, postingan saya jadi tambah nggak jelas dan kepanjangan. Niat kedepannya sih saya mau banyak nulis tentang pengalaman-pengalaman saya di Finlandia dulu, termasuk juga pengalaman saya hidup di India sekarang karena belakangan saya sering kangen sama kehidupan saya selama di sana.

Mudah-mudahan niat mulia itu nggak cuma sampe di niat doang, tapi juga bisa direalisasikan. Tolong doakan saya.

Ciaoo!

Tuesday, January 07, 2014

WIB, WITA, WIT dan WIM.

gambar dari sini
Saya tetiba ingat pada artikel menulis yang pernah saya baca. Bercerita tentang waktu ideal menulis (WIM) setiap orang. Ada yang prima menulis kala pagi-pagi buta sambil memandangi embun yang masih tersisa di kaca, dengan teman secangkir kopi mengepul asap di samping meja. Ada juga yang jam prima menulisnya dimulai bersamaan dengan turun lembar malam, ketika kamar-kamar mulai padam nyalanya dan orang-orang bergegas menarik selimut.

Tapi ada juga yang seperti seorang kenalan dari sastra Indonesia yang diceritakan Tika, tak lain merupakan juga salah satu cucu dari salah seorang sastrawan kenamaan Indonesia. Teman yang satu ini mengaku inspirasi justru banyak muncul ketika ia duduk berdiam sendirian di Bangku Cokelat, sebuah spot di FIB yang baru bisa sepi hanya jika jam menunjuk pukul sepuluh malam dan satpam-satpam kampus menggelandang mahasiswa-mahasiswa hengkang. Umumnya orang biasa -tak terkecuali saya- membutuhkan tempat sepi untuk menggali-gali inspirasi, tapi ia menikmati menulis di tengah riuh yang memekakakan telinga, di antara lalu lalang orang yang merisaukan mata.

Ya intinya semua orang punya jam menulis prima mereka sendiri-sendiri. Saya sendiri lebih suka menulis malam hari. Pagi buta membuat saya mengantuk dan selalu kelaparan, sementara ramai dan bising tidak pernah gagal membuat konsentrasi saya hilang, jadi saya lebih suka malam. Dengan air putih dan bukannya kopi.

Di film Stardust katanya bintang-bintang selalu melihat tindak-tanduk manusia. Mereka tidur di siang hari tapi bangun dan bersiap-siap bersinar begitu matahari terbenam. Dan mereka paling senang menontoni kita, segala polah manusia dari atas sana, menonton diam-diam saja sambil berkelap-kelip dengan tentram. Jadi menulis malam hari membuat saya merasa ditemani. Bintang-bintang memperhatikan saya sementara jari-jari saya mendongengi mereka tentang kisah-kisah anak manusia.


Tapi kembali lagi kepada artikel menulis yang saya baca.
Ketika kamu tidak memiliki waktu-waktu ideal itu. Maka menulis saja, 
menulislah dengan keras kepala.
Yang terpenting adalah naskahmu selesai,
maka bintang-bintang jadi punya satu kisah lagi untuk didongengkan.
UA-111698304-1