Showing posts with label ayams:*. Show all posts
Showing posts with label ayams:*. Show all posts

Friday, November 23, 2012

bukan, tapi hujan itu bikin orang jadi jujur.

kenapa yaa hujan itu gampang bgt manggil rasa kangen :|
bukan, tapi hujan itu bikin orang jadi jujur :|


Jadi inilah kejujuran.

Bahwa ternyata saya masih bisa merindukan kamu.

Kadang-kadang ingin rasanya mengenang kamu sebagai orang jahat, tapi tetap tidak bisa sebab hati saya terlanjur pekat dengan kamu yang pernah semanis cokelat.

Maka, biarkan tetap begitu. Biarkan saya cuma mengenang hal-hal baik tentang kamu.

Lalu apa yang terjadi tidak lebih dari saya yang ingin melindungi hati saya sendiri. Kadang-kadang terkesan masokis memang, tapi bukankah orang-orang memilih keadaan yang mereka paling tahan?


Jadi saya cuma tidak tahan membayangkan kemungkinan berakhir dengan membenci kamu.
Saya tidak mau hati saya pekat dengan kemarahan-kemarahan yang kamu layangkan sampai akhirnya hati kamu pun ikut menghitam. Lalu kamu akan dengan tanpa sadar menghancurkan sendiri hati tambal sulam yang sedang kamu genggam. Hati saya yang lebam-lusuh itu, saya tidak mau ia mati di tangan kamu. 

Sebab yang namanya hati gampang pecah dan bagaimana belakangan, kamu tidak lagi cukup mampu menjaganya. Sementara apa yang ada di tangan kamu itu sejatinya adalah sepotong kaca lapis tembaga yang bahkan sudah bocor dimana-mana. Kelihatan kuat dari luar padahal luluh lantak di dalam. Kamu toh pernah mengintipnya. Kamu yang membuat saya terkaget-kaget sewaktu bilang betapa rapuhnya saya hingga tinggal menunggu tiang kuatnya hancur. Atau bahkan malah sudah hancur.


Maka, biarkan tetap begitu. Biarkan saya mengenang kamu yang manis dan baik. Yang menjaga saya tidur dari seberang sofa. Yang menyuapi saya makan dengan sabar. Yang mendekap saya dari belakang dengan kerinduan. Menyeka pipi saya dengan sayang seolah memastikan ia baik-baik saja dan tidak basah oleh airmata.

Yang segenap perasaannya memancar hangat melalui mata maka saya jadi tidak perlu banyak bertanya.


Lalu Selamat Malam. Semoga kamu di sana baik-baik saja dan selalu dijaga Tuhan.

Thursday, November 01, 2012

ironic and pathetic

Adalah ketika kamu seharian mengharapkan seseorang tapi yang ada hanyalah oranglain dengan nama yang sama, tapi tetap bukan orang yang sama.
Adalah ketika kamu berusaha melupakan dengan cara mencari pelarian.
Adalah ketika kamu merasa nothing, sementara yang lain menganggap kamu so mean to him.
Adalah ketika kamu merasa tidak diinginkan padahal jelas-jelas ada yang menginginkan kamu.

Bukan kamu maupun perlakuan kamu. Tapi pathetic dan ironis inilah yang membuat saya malam ini menahan tangis.

Tapi kamu kenapa segitu bodohnya, Mel?

berharap setelah menulis ini saya bisa belajar dengan nyaman.
materi untuk ujian ibrani ini banyak sekali :'(

Wednesday, October 03, 2012

di bawah lampu

Seharusnya  aku ada di sini dari awal: duduk di bawah lampu tanpa berpikir apapun sembari menahan mual.
Tepat begitu menyelesaikan urusan dengan indomi goreng telur yang seharusnya tidak boleh lagi aku telan.

Akhirnya bertemu setelah seharian merindu faktanya memang melegakan, tapi itu pun buat apa kalau pada akhirnya cuma mengantar kita kembali pada titik yang sama. Bukankah kita sudah sama-sama lelah? Tapi apa yang salah? Bagaimana bisa kita saling berteriak menginginkan hal yang sama tapi dengan bahasa berbeda? Atau mungkin ini cuma sesederhana masing-masing kita memiliki gagasan sendiri mengenai cara bagaimana mesti bersama?

Bahkan, mungkin jawabannya sesepele egoisme.

Maka, maaf.
untuk aku yang terlalu sulit, selalu senang membuat segalanya jadi rumit.
untuk aku yang sedikit-sedikit merengek minta lepas atau terkadang terlalu keras.

Terima kasih telah bersabar sejauh ini dan semoga kamu tetap sabar sampai nanti. Pada hari hari ketika hati milik aku mengeras lagi, semoga ketenangan yang kamu bilang aku berikan tetap setia berdiam di sana, di dalam hati milik kamu yang selalu terasa seperti rumah :)

bulan entah di mana, tapi langit dari bawah sini warnanya merah
pada oktober di tanggal 3
22:25

Tuesday, August 28, 2012

All Those Love Letters

Saya membacai lagi postingan-postingan saya dulu bi. Semua catatan-catatan dari kompensasi rindu yang selalu dan memang selalu hanya mampu saya tulisi untuk sekedar berakhir di sini. Lalu saya ingat bahwa saat ini, belakangan-belakangan ini saya juga sering menulisi tentang rasa rindu yang sama. Menulisi mabuknya saya. Iya, perasaan jatuh tapi terbang itu.

Kemarin malam, Ayam memberikan saya sebuah pernyataan yang membuat saya merasa perlu mencari jawaban. Mencari alasan. Sebuah latar belakang.

Bahwa saya belum pernah sesayang ini pada seseorang.

Benar.
Yang dilontarkannya itu pernyataan tapi entah kenapa lidah saya tahu-tahu menyahut benar. Lantas hati saya meminta jawaban. Kenapa?

Malam ini, pada pukul satu di dini hari, jawaban itu ketemu, bi.

Sebab selama ini, kerinduan saya hanya bisa terpendam. Catatan-catatan cinta saya itu cuma sekedar diketik untuk kemudian terlupakan lalu dibaca lagi kapan-kapan, dan itu pun oleh saya. Namanya kompensasi.

Tapi pada dia bi, segalanya tersampaikan.

Dan terbalaskan.
Entah mungkin setara atau juga berat sebelah, tapi setidak-tidaknya terbalas. Tidak ada kan takaran untuk rasa sayang?  Seperti halnya pernyataan hati tidak memilih dalam perahu kertas, hati saya yang jatuh di atas hatinya itu pun bertahan karena terbalas.

Lantas tidak mampu lepas.



Maka, semoga kita bisa saling menjaga, ya.
Sama-sama belajar caranya menjaga.
Tapi kalau pun akhirnya terlepas, semuanya hanya akan kacau sejenak,
then everything gonna be alright :)).
kan?
UA-111698304-1