Showing posts with label makassar. Show all posts
Showing posts with label makassar. Show all posts

Sunday, July 03, 2011

pilihan

saya sedang berpikir apa jadinya jika saya memilih pulang?
barangkali sejak beberapa hari lalu, saya sudah asik menjelajah makassar. menikmati detik-detik matahari tenggelam di loteng rumah yang selalu memberikan view sunset spektakulernya yg biasa. merengek minta diajak ke tempat makan pemancingan seperti yang mereka pamerkan di poto. bermain seharian di trans studio yg letaknya di belakang rumah itu, untuk kali terakhir.

dan mungkin saya tidak akan punya potongan rambut baru seperti sekarang. tidak akan punya buku spiral baru dari kertas bekas dengan cover warna merah dan hijau. tidak menemukan spot menyenangkan di sebelah pintu bersandar lemari yang dulu pernah jamuran. tidak akan pernah tahu bahwa memberdirikan kasur untuk melakukan hal-hal menyenangkan dapat membuat kamar lebih lapang. juga tidak akan seharian menonton drama asia dengan penampilan rambut yang diikat seperti ninja.

saya tidak sedang menyesal, hanya memikirkan kemungkinan-kemungkinan dari pilihan yang sudah saya relakan.

peluang itu sudah membuat saya merasa silau dan memutuskan pilihan.
baiklah,

28 hari sebelum ramadhan
tanggal 2 sya'ban
3 juli 2011, dua menit lewat pukul 11
hari ini, keluarga saya pindah ke manado
ceracauan setelah melihat status facebook mama
semoga ini tidak terlalu bodoh untuk melepaskan bunaken demi trip sumatera =)

Tuesday, June 14, 2011

gambar



entah ini rindu atau mungkin cemburu
aku cuma tau SEHARUSNYA aku juga ada disitu

ah, bagaimana jarak bisa menjadi sebegini keterlaluan?

aku kangen rumah, kangen mereka x'(


hari selasa di kamar yg biasa
jarak, kamu tau aku marah sama kamu! not talking

Saturday, February 05, 2011

aku suka sekali

Suasana gerimis di pagi hari.
Sejuknya,
aromanya,
butirannya yg menempel di kaca,
Suaranya yg menimpa atap seng rumah tetangga.

Tanah becek mengotori celana,
Pengendara motor memakai jas hujan dgn terpaksa,
Anak kecil yg tak bisa pergi sekolah
Sebagian org mngutukinya

Tapi aku mencintainya
Hanya karena ia setia menemaniku mendiami rumah ini sepanjang pagi yg lengang
Menunggu orang2 pulang

10.14 waktu makassar
Duduk bersandar di lantai atas dekat tangga
Beralas selimut motif lumba2

*)repost tulisan kemarin. hari ini hujan lagi.

hari libur

Berada di rumah pada hari libur hampir selalu jadi hari yang tidak menenangkan sama sekali.
Entah kenapa papaku itu selalu saja punya sesuatu untuk di kerjakan di setiap hari libur kerja. Sewaktu liburan panjang semester yang lalu, papa sukses membocorkan selang pemanas air di kamar mandi utama saat membongkar salah satu temboknya dengan tujuan entah apa yang menyebabkan pemanas air otomatis di kamar mandi tersebut tidak dapat dipakai selama beberapa bulan. Maka jadilah, selama hari libur hari libur selanjutnya papa habiskan untuk membereskan kekacauan yg yah.. (mau bagaimana lagi?) terjadi karena ulah papa sendiri.

Hari libur pertama aku di rumah, papa membongkar sebuah kalkulator yg beliau temukan di dalam laci hanya dalam beberapa menit dan kemudian menghabiskan sepanjang sore untuk merakitnya lagi yg kemudian menjadikan informasi yg diberikan kalkulator tersebut mjd tdk valid.
Yah, kami sekeluarga rata-rata sudah paham bahwa barangkali mengacaukan sesuatu kemudian membereskannya kembali sudah menjadi semacam stress healing bagi papa setelah lima hari menghadapi sumpeknya pekerjaan. Sebuah kegiatan yang untukku memiliki efek sama dengan jalan2, menggambar, mengacaukan dapur ataupun tidur.

Sewaktu dinas di aceh dulu, ketika kami di fasilitasi rumah yg cukup besar dengan banyak kamar. Papa bahkan punya sebuah ruang khusus untuk menyimpan segala perkakas serta balok-balok kayu yg entah papa dapat darimana. Dan jadilah, karena situasi konflik yg tidak memungkinkan kami untuk menghabiskan hari minggu dgn menelusur jauh smpai ke pelosok desa, papa lebih sering menghabiskan waktu di dalam ruangan yg kami sebut gudang itu dan berhasil menciptakan 1 set kursi yng meskipun lebih mirip kursi pantai, tapi kami jadikan kursi untuk meja makan (bisa juga dipakai untuk tiduran karena posisi sandaran yg dapat disesuaikan batting eyelashes)

Selanjutnya, ketika aceh sudah mulai aman dan balok-balok kayu itu sudah bertransformasi menjadi bentuk2 yg berbeda kami memutuskan untuk memindahkan perkakas papa ke kamar yg lebih kecil agar kamar bekas gudang yg faktanya merupakan kamar paling luas di rumah bisa menjadi kamarku dan fitri. Dan selama beberapa waktu, hari libur menjadi hari yg damai dimana kami menghabiskannya dengan berjalan2 dan bermain di pantai.

Ketika kami pindah ke banjarmasin. Rumah dinas yg kami tempati tidak terlalu luas yg bahkan rasanya begitu ngepas untuk ditinggali 6 orang. Dan dikarenakan banjarmasin merupakan kota yg minim tempat wisata dimana mall yg hanya satu biji itu yg mnjadi hiburan biasa dicari bagi masyarakatnya dan karena keluargaku bukanlah keluarga yg sangat hobi berjalan2 di mall selain untuk belanja bulanan ataupun belanja hari raya, jadilah hari libur menjadi hari yg cukup memenderitakan dimana suara mesin2 perkakas papa berdengungan dgn nyaring di seantero rumah.
Itulah kenapa kami paling suka menyambut ajakan papa berkendara sampai ke banjarbaru, martapura, pelaihari bahkan pernah sampai ke batas provinsi dgn tanpa tendensi.

Untunglah di makassar ini ada banyak tempat wisata tempat wisata yang tidak habis2 untuk di kunjungi. Dari yg tidak sampai 2 jam perjalanan macam bantimurung, yg 6 jam lebih macam bira smpai yg memakan waktu hampir seharian perjalanan. Maka jadilah, hari libur menjadi hari yang menyenangkan dimana kami sekeluarga mengemas beberapa barang (termasuk makanan) dan pergi piknik ke suatu tempat. Tapi ada juga hari libur seperti minggu lalu ketika papa memutuskan untuk main badminton bersama teman-temannya sampai siang, lalu kemudian membongkar sebuah barang yg sedang sial baru sorenya memenuhi rengekan aditya berkeliling kota, melewati losari dan tanjung bunga dan menikmati pantainya dari jalan raya.

Dan di hari libur imlek kemarin, kami tidak kemana-mana. Ternyata papa memutuskan untuk membongkar kursi mobil bagian depan dan belum dipasang kembali hingga sekarang. Mobil yang malang.
Rencananya, hari sabtu dan minggu ini kami mau ke toraja atas ajakan papa. Toraja. Aku melihatnya sebagai kota yg jauh yg kaya akan ritual-ritual. Yang katanya upacara kematian jauh lebih megah dibanding kawinan. Tempat kerbau2 merah muda berbercak hitam diperlakukan macam raja, yang pamongnya saja diupah sampai 600ribu per bulannya.

Bermacam jajanan sudah dibeli untuk teman perjalanan yg panjang, dari permen smpai kacang, biskuit juga beberapa roti-rotian. Bahkan aku dan mama sudah bersemangat mau bikin brownis segala juga mempersiapkan untuk makan beratnya karena menurut kabar yg beredar di toraja agak susah menemukan tempat makan yg terjamin kehalal-annya. Kami akan berangkat hari sabtu pukul lima pagi.

Tapi ternyata, dua hari sebelum hari H, kami menyadari fakta bahwa hari sabtu adalah hari dimana seluruh pelajar di wilayah indonesia harus masuk sekolah. Begitu juga dengan fitri dan tio. Dan karena sangat tidak mungkin menyuruh mereka izin dengan alasan piknik terlebih karena fitri ada ujian hari sabtu itu, maka diputuskanlah piknik ke toraja TIDAK JADI! Huaa...huaa.. *nangis darah.
Alasannya, ini piknik keluarga jadi percuma saja jika jadi pergi tapi tidak ikut semua. Yah alasan yang dapat diterima.

Hahaa.. Kalau dipikir2 bodoh juga.
Terlalu bersemangat terkadang membuat lupa pada hal-hal sederhana.

Monday, January 31, 2011

hujan seharian

Hari ini makassar hujan seharian.
Hujan angin kencang tadi siang, dengan petir yang bersahut-sahutan.

Aku teringat satu hari sebelum aku berangkat kesini. Saat itu juga hujan, tak henti2 mengguyur jogja sejak pagi, angin kencang menerbangkan apa yang ada di jemuran, bahkan juga boneka berat dame yang dijemur pada tembok dekat beranda.

Aku yang saat itu terjebak di kosan. Seharian. Tak bisa kemana-mana. Cuma online saja.
Kesepian, kedinginan, dan lapar.

Cuma suara angin yg menampari sunyi. Kos-kos an sepi. Terasa kosong macam tak berpenghuni. Sebagian besar sudah pulang ke kampung halaman, sebagian kecil menetap di kamar, mungkin tidur siang, dan beberapa sisanya berkeliaran.

Sampai akhirnya rasa lapar menjadi semakin liar dan tidak tertahan.
kuputuskan untuk menyusuri lorong gelap di depan kamar azka. Menuju rak tempat makanan bersama. Maghrib hampir tiba. Sebungkus macaroni instan la fonte itu akhirnya kuambil juga.
Kembali ke kamar, kemudian merendamnya dengan air panas dari dispenser yg kuletak di dekat jendela. Menelannya separuh mentah.

Tapi sekarang aku di rumah. Tidak merasa sepi sama sekali. tidak merasa sepi lagi. Hanya sekedar mengutuki fitri yg ngotot menghidupkan AC pada cuaca sedingin ini.
Sangat-sangat bersyukur atas bedcover-putih-tebal yang saat ini menyelimutiku, bahkan untuk kasur yang terseprai rapi -yang bahkan tidak kupunyai di jogja sebab dua sepraiku kotor semua dan dua sisanya hilang entah kemana-
untuk televisi yg menyusutkan masa, juga untuk makanan yang cukup serta air putih yang tidak lagi sebagai pengganjal perut.

Dan terlebih lagi aku bersyukur untuk mereka yang memenuhkan rumah. Untuk aditya yg bisa kudengar tawanya maupun kupecahkan tangisnya.
hari ini memang hujan seharian,
Tapi aku bersyukur sekarang aku di rumah. Dan masih di rumah.
Home sweet home.

pada terakhir januari
Taman dahlia pukul 21:32
Menyaksikan air hujan yang abadi di jendela
Goresan di jari sudah tak nyeri lagi

Saturday, January 29, 2011

i'm home, finally...

Masih butuh waktu untuk mencerna ini semua. Aku disini, di bagian atas tempat tidur tingkat dengan pilar2nya yang berwarna cokelat tua, mengetik, diam, tenang, menghadap dinding berwarna krem keemasan. Menoleh ke kanan, mendapati jam dinding, malam mulai menua. menoleh ke kiri menemukan AC yg jaraknya hanya beberapa jengkal dari ujung kepala.

Sekarang aku di kamar. Di kamarku yang nyaman.

rasanya tidak terkata sewaktu tau seluruh keluarga, dalam formasi utuh ramai2 ikut menjemputku. Aditya bahkan sudah tertidur di pangkuan mama sewaktu aku memasuki mitsubishi kuda keluarga kami yg tidak terganti. Benar2 mirip aku jaman dulu. Begitu jam 9 berdentang, ngantuk pun segera datang. Tidak bisa ditawar2. persis kakaknya.

Sepanjang perjalanan waktu itu rasanya aneh sekali. Baru beberapa hari lalu aku merasa begitu rindu pada orang-orang ini. Merindu dgn kerinduan yg tak tertahan. Yang bahkan membuatku menangis nyaris setiap malam. Mengutuki jarak yang jauh memisahkan kami. Tapi sekarang?
Aku baru saja menahan iri melihat tio yg telah diizinkan papa mengemudikan mitsubishi kuda kami. Ah, aku ingin bisa nyetir mobil juga.
Well, sekarang dia jadi supir keluarga. Yah, aku paham, begitulah anak lelaki tertua seharusnya.

Dan papa disebelahnya. Semakin tua, semakin lelah, tapi semakin berwibawa juga. Semakin arif tampaknya. Yah, semoga..

Di mobil waktu itu ramai celotehan kami. tentu saja selain suaraku sendiri menceritakan kehebohan adegan 'dewi motik dan tatty elmir keluar studio' sewaktu taping kick andy tempo hari.
Dari mulai harga durian yg mulai musim sekarang, pisang dirumah yang telah berhari2 di peram tapi tak matang2 hingga cerita bangkrutnya papa beberapa hari lalu di rumah makan padang.
Tapi yg pasti aditya mendominasi topiknya. Tentang dia yang telah bisa mengetik password di laptop papa. Yang katanya sekarang lebih pintar main laptop dibanding mama. Tentang ocehan-ocehannya kala memainkan game yang susah. Tentang suatu malam ketika semua orang mulai beranjak tidur tapi dia malah menyeret selimut ke ruang tv dan menonton tv sendiri dengan berani, kemudian malam itu papa pergi ke ruang tamu dan mematikan aliran listrik, lalu dia pun menjerit.
Tentang dia, yang merindukanku. Tentang dia yang mirip aku.

Dan kericuhan di mitsubishi kuda ini selalu berdampak aneh terhadapku. Di satu sisi rasanya ikut senang juga, mendengar segala keseruan hang out mereka. tapi sedetik kemudian berkaca-kaca begitu mengalihkan muka.

Yah, tidak perlu usaha keras untuk bisa mengidentifikasi sebabnya. Aku hanya iri saja. Benar2 berharap, andai saja disana ada aku juga!

Dan semuanya tidak berhenti sampai disitu. Aku masih harus terkaget-kaget ketika menemukan inova hitam cemerlang terparkir di tempat biasa si mitsubish damai diparkirkan.
Dan ternyata itu mobil baru papa. Fresh from oven, haha.. Terkadang kupikir keluarga ini keterlaluan juga. Beli mobil baru macam tak ada intronya. Ngobrol2 dulu kek, minta pertimbangan atau paling nggak ada announcement nya lah.

Liburan kemarin aku sudah cukup terkejut dengan sepeda gunung polygon heist 4.0 yg tiba-tiba tergeletak di ruang tamu. Dan kali ini ada lebih banyak yang berubah. Banyak yang bertambah. Selain fakta bahwa aditya semakin tinggi dan fitri mendadak jago menyusun seluruh warna rubiks dalam hitungan kurang dari 30 detik atau bahkan sekedar keberadaan lampu malam baru di kamarku. Segala hal itu mengejutkan. Membuatku mau tak mau merasa tertinggal.

Tapi yang jelas. Satu hal yang masih tetap bertahan. Yang kuharap akan terus bertahan. Ritual hampir setiap malam yang kami lakukan beberapa jam setelah makan malam, segera setelah papa mandi bebersih diri sepulang dari tempat kerjanya. Lalu kami berkeliling kota, sambil menidurkan aditya.

Tidak apa meski yang kami naiki bukan lagi mobil kuda, aku bersyukur benar mendapati tradisi ini tetap tidak berubah.

Ah, aku pasti akan kangen pada wangi sabun mandi yang nyaris tiap malam aku baui.

Thursday, October 14, 2010

b i r a *session kedua

gerimis turun ketika kami sampai di bira waktu itu. orang-orang ramai menyesaki pantai. hari itu hari sabtu, penginapan dan cottage sekitar pantai banyak yang penuh. banyak bule-bule berseliweran. sungguh-sungguh mengingatkanku pada sabang.
badan yang kelelahan, ditambah perut yang kelaparan membuat kami idem saja mengikuti papa yang langsung melajukan mobilnya mencari penginapan.

harga penginapan di sana bervariasi, berkisar antara 200ribu hingga 500ribuan. semua bergantung posisi dan kondisi. tapi ada satu penginapan yang paling dekat pantai dengan kondisi tidak mengecewakan dan dengan harga yang bagiku menakjupkan. menakjupkan karena kurasa terlalu murah mengingat segala keunggulannya. dan tentu saja, penginapan macam ini yang selalu dicari. kurasa, karena hampir selalu penuh, orang-orang akan merasa sangat beruntung bisa menginap di penginapan ini. yang kuingat namanya seperti nama sebuah perusahaan finance, adira atau aldira, aku lupa. 1 cottage yang bisa dihuni maksimal 6 orang dihargai 250ribu. sayang, waktu kami kesana, semuanya sudah dipesan.

setelah beberapa kali menyatroni penginapan demi penginapan, dibantai hujan besar sampai kebasahan.
akhirnya dengan terpaksa kami memilih satu penginapan yang sejak awal kami hindari. masih berada satu wilayah dengan penginapan adira aldira yang kubilang itu. namun tentu berbeda kualitas. cottage yang kami dapat kondisinya kurang terawat, banyak kambing dengan gerombolannya berwara-wiri, namun pengolahnya ramah dan baik hati, cottage-cottage pink itu dihargai 350ribu. jika membandingkannya dengan adira *atau aldira* tentu harga ini menjadi tidak masuk akal.

selesai menuntaskan urusan perut dan mencuci perangkat makan, kami pun menuju pantai dengan wajah cerah. aditya sudah gaya dengan celana renang dan pelampung kuning kebanggaannya. padahal hari waktu itu sudah sangat sore, tapi siapa pula yang dapat menahan keinginan anak bungsu laki-laki berusia 4,5 tahun macam dia?
maka jadilah, kami sekeluarga berjalan beriringan bersama aditya yang mencolok dengan pelampung terangnya. B-)

tapi.. ketika sampai disana.
jrengg-jreeenggg...
air laut sudah surut jauh.
sudah surut sangat jauh!


awalnya kami mengira pantai bira memang surut seperti ini keadaannya.
daripada kecewa, yasudah, kami memutuskan untuk poto-poto narsis saja. Evil GrinEvil GrinEvil Grin

sore hari, banyak penduduk sekitar yang mengeksplorasi pantai. bocah-bocah pengumpul kerang atau para ayah yang mencari cacing pantai untuk umpan. ketika air laut sedang surut seperti ini, kita dapat melihat dengan jelas para penghuni laut pinggir pantai dari mulai ikan-ikan kecil, rerumputan hingga karang-karang yang berhamburan.







kami menghabiskan waktu di pantai sampai hilang warna kunyit di langit. senja di pantai itu benar-benar subhanallah. mungkin memang bukan tanpa tandingan, tapi kerennya ampun-ampunan.




setelah beberapa menit selesai adzan maghrip, kami memutuskan untuk kembali ke penginapan. menyiapkan amunisi untuk hari yang akan datang dengan perasaan senang.

Heart BeatHeart BeatHeart Beat
*to be continued

ditulis sambil mengerjakan PR Bahasa 'Ammiyah di kamar 14 Mahendra Bayu
pukul tujuh lewat satu.

Monday, October 11, 2010

b i r a *session pertama

perjalanan ke bira lumayan melelahkan. menempuh jarak ratusan kilometer dengan kondisi jalan yang tidak bisa dibilang nyaman. belum lagi cara menyetir papa yang tidak seperti dulu, kali ini membuat perutku seperti diaduk dan diplintir dari segala arah.
mual luar biasa. sicksicksick
tapi tenang saudara-saudara, untungnya saya tidak sampai muntah.

kami memerlukan waktu nyaris 6jam untuk akhirnya bisa sampai ke pantainya.
Iya, hampir sama dengan waktu tempuh Medan menuju Lhoksemawe.

Tanjung bira terletak di kabupaten bulukumba. dari rumahku yang terletak di pusat kota, untuk menuju kesana kami harus melewati cukup banyak wilayah, diantaranya malingkeri, goa, bantaeng, dan segudang nama-nama aneh lain yang susah dihapal. ahya, juga jeneponto yang banyak kudanya. tempat dimana kita bisa melihat sekawanan kambing, sapi dan kuda merumput bersama.

Di separuh akhir perjalanan aku dan keluargaku terheran-heran melihat banyak orang berdiri di jalan-jalan sambil melambaikan botol-botol air mineral kosong. Awalnya kupikir mereka sedang mencari mobil angkutan, mengingat di sepanjang perjalanan banyak mobil-mobil pribadi berplat kuning yang difungsikan sebagai mobil penumpang, dari mulai avanza sampai inova, dari mobil carry hingga ferrari. tonguetonguetongue .

Hal yang paling ku suka ketika melewati sebuah tempat asing ialah mengamati rumah-rumah. sama seperti yang tak bosan-bosannya kulakukan setiap kali ke batakan. mengamati rumah-rumah. aku selalu takjup dengan rumah-rumah penduduk daerah pantai. rasanya seperti berada di sebuah kompleks perumahan dengan rumah-rumah yang berderetan dan bertipe seragam. padahal aku yakin, tidak ada peraturan yang mengharuskan setiap rumah bermodel seperti itu. yah, sebuah paham yang dituruti secara alami.

tidak seperti rumah-rumah penduduk di sepanjang jalan menuju batakan yang umumnya berjendela nyaris sepanjang pintu dengan kain gorden lucu-lucu yang tampak jelas dari luar. rumah-rumah penduduk di kabupaten bulukumba berbeda. masih berbentuk rumah panggung memang. tapi tentu jendelanya tidak berkaca transparan dan berukuran panjang. rumah-rumah kabupaten bulukumba malah bisa dibilang miskin jendela. yang paling unik ialah bagian bawah rumah panggungnya, dibuat semacam tempat penyimpanan yang kemudian dikelilingi oleh potongan-potongan bambu beberapa centi yang disusun berderet-deret menyerupai pagar. mungkin juga bisa dijadikan kandang ternak atau anjing-anjing yang mereka pelihara.

selain itu, tidak seperti masyarakat pantai lain yang umumnya berprofesi sebagai nelayan. masyarakat bulukumba malah bertani. bertani rumput laut. ahaa..
itu terlihat dari rumput-rumput laut yang dijemur di pinggir-pinggir jalan raya. dari badan jalan pun masih dapat terlihat kumpulan berbagai macam botol yang mengapung-ngapung di lautan. menandakan rumput-rumput laut yang ditangkarkan.


Baru aku tau bahwa ternyata sekumpulan orang yang melambai-lambaikan botol mineral di jalan tadi bukan penumpang. mereka meminta hibahan botol air mineral dari pengguna jalan untuk mereka pakai beternak rumput laut. *ternak?
aku sendiri kurang mengerti apa fungsinya. hege, confused

ahya, dijalan menuju bira juga ada satu kampung tempat pembuatan kapal phinising.


huaahh.. baru sekali ini aku lihat pembuatan kapal sebesar itu.
ah, sudah jam 10. Berangkat kuliah dulu. big grin smug big grin

To be continued... cool

Friday, July 09, 2010

welcome home

terkadang rasanya masih belum nyata. seperti masih fatamorgana. yeahh.. sekarang aku di rumah.
nyaris setahun. huaahh.. setahun! dan banyak yang telah berubah.
yang jelas rambut papa semakin banyak putihnya, si fitri itu sekarang sudah remaja, mama makin lama makin berisi dan aditya.. makin banyak saja yang dia mengerti. sekarang adit sudah mengerti warna, sudah bisa menyebutnya dalam bahasa inggris, sudah hapal banyak doa-doa, baru-baru ini dia menang lomba membaca surat al fatihah di sekolahnya. sungguh aku terperangah melihat betapa pesat perkembangannya sekarang. aku benar-benar telah melewatkan banyak hal.

sedikit kesal. juga sedikit menyesal. apalagi jika bicara aditya, bocah lima tahun kesayanganku itu, ingin rasanya aku ikut menjadi saksi ketika dia terbata menghapal surah an-nas dan al-ikhlas, ketika dia mengeja warna-warna, ketika dia belajar wudhu dan praktek sholat. aku juga ingin ikut mendengar dia mengoceh tentang cita-citanya. tentang dia yang mau jadi dokter, mau jadi tentara, mau jadi orang kaya yang tiap hari keluar negeri.
sayang.. akhirnya aku hanya bisa jadi pendengar sementara mama dan yang lainnya begitu bahagia membeberkan segala polah aditya sambil tertawa-tawa.
yahyah.. sudahlah.. tak apa..

well, jadi, bisa dibilang cuma tio saja yang tampak sama. badannya tetap bagus, tetap tinggi, tetap kekar, dan tentu saja tetap hitam. =p

selama di makassar ini, aku juga mengalami kekacauan rutinitas. mandi jadi sekali sehari, makan yang biasanya cuma dua kali jadi tiga kali. waktu internetan jadi untuk main game atau nonton serial BBF di indosiar. waktu kardio-an jadi buat kumpul-kumpul di ruang tengah sambil nunggu papa pulang. jam tidur dan bangunku juga jadi kacau. keberadaan makanan yang selalu tersedia dan melimpah ruah di dapur membuatku memamah biak sepanjang masa. belum lagi papa yang tiap pulang kantor selalu menggodaku untuk beli jajanan khas makassar tiap malam.
huahh.. kalau begini terus, bisa jadi benar kata kak fahmi, liburanku kali ini bisa-bisa jadi program penambahan berat badan. oh.. no..!!! kayak aku ini masih kurang berat saja. =p ahhaa..
so, untuk mengantisipasinya, aku berniat mendayagunakan sepeda baru papa yang ada di rumah. tapi entahlah.. aku belum ketemu waktu yang pas. jangankan sepedaan, mandi saja malas. wkwkwk... ;p

yang jelas sekarang aku sudah mulai bisa bahasa makassar. dua kata pertama yang kutau adalah bombek dan sekek. bombek artinya benci dan sekek artinya pelit.
gak seperti bahasa banjar, lidahku cukup mudah membiasakan diri dengan logat makassar yang naik-naik, cuma agak berbeda sedikit sama logat medan yang nadanya kayak orang mau ngajak perang. =p
anehnya untuk kata ganti orang dalam bahasa makassar agak aneh padanannya. paling tidak menurutku. lihat saja, untuk kata ganti orang pertama tunggal atau aku, biasanya dipergunakan kata saya. kata itu biasa digunakan dalam percakapan antar teman atau ke orang yang lebih tua. sedangkan untuk kata ganti orang kedua atau kamu, malah menggunakan kata kau atau ko.

yah.. menurutku saya dan ko itu sangat tidak sepadan, sebab di dalam bahasa aceh, ko untuk kamu merupakan panggilan yang paling kasar dan sangat jarang dipakai. bahkan lebih kasar dari ke, kata ganti orang kedua yang ditelingaku saja sudah terdengar cukup kasar.
ahhaa.. aneh kan??
tapi justru inilah yang kusuka, betapa beragamnya bahasa di indonesia. ;DD

sementara itu, orang rumah lagi pada berbunga-bunga. yah.. khususnya aku dan aditya. penyebabnya gak lain karena rencana papa yang besok mau ngajakin ke pantai bira. rencananya kami akan berangkat sabtu pagi dan berniat menginap semalam disana. berdasarkan pengakuan seorang korensponden yang kebetulan merupakan saudara kandungku, aku tau bahwa pantai bira itu berpasir putih, berlaut biruhijau dan yang pasti benar-benar indah.. tapi mengingat kelebayannya yang telah melegenda diantara segenap anggota keluarga, tentu aku tak mau begitu saja percaya. akhirnya, aku memutuskan untuk mencarinya di google dan dari hasil penelusuran tersebut, ternyata pantai bira itu seperti ini



wohooo.. terbayang di kepalaku pengalaman menginap di pulau Weh waktu dulu semasa masih tinggal di Banda Aceh. ahhaa.. tak sabar rasanya menanti esok tiba. dan yang paling penting, haram hukumnya lupa bawa kamera. =D

uhuuyyy..cihuuuyyy...!!!

ah, hampir lupa, gambar dari sini =p
UA-111698304-1