Showing posts with label indian spouse. Show all posts
Showing posts with label indian spouse. Show all posts

Sunday, May 21, 2017

#INDIANSPOUSE: Perempuan Dalam Pernikahan


Love Marriage or Arranged Marriage?

Ini pertanyaan paling umum yang kerap dilontarkan kepada pasangan suami-istri. Umumnya pasangan suami-istri di India memang dijodohkan yang mana dari beberapa aspek nggak sepenuhnya merugikan. Pernikahan yang diatur (arranged marriage) pada dasarnya dilakukan akibat tradisi pacaran yang masih dipandang tabu bagi sebagian besar komunitas di India, khususnya komunitas muslim. Haram, kalo suami saya bilang, padahal mah dia sendiri juga pacaran :P

Dalam keluarga hindu, sistem perjodohan cenderung lebih saklek karena terkait dengan ilmu perbintangan dalam kepercayaan mereka. Jadi kalo ada perempuan sama laki-laki saling suka tapi ramalan bintang mereka buruk, ya bye-bye deh. Ada juga yang bisa disiasati dengan ritual buang sial, contoh: menikahi binatang atau tumbuhan agar kesialannya jatuh ke suami/istri pertama (si binatang/tumbuhan) baru kemudian si gadis bisa menikahi orang biasa.


Saya nggak tahu banyak kasus dalam keluarga hindu, cuma kayaknya kasus pemberontakan memang  lebih jarang. Buktinya lihat aja komunitas hindu-India yang bermigrasi ke Indonesia, rata-rata keturunannya masih dinikahkan dengan orang-orang sesama imigran tanah Hindustan. Berbeda dengan keluarga Islam atau Kristen yang beberapa telah memberi kebebasan memilih pasangan hidup ke anak-anak mereka, contoh terdekat ya keluarga suami saya. hehe..

Meskipun bukan berarti love marriage itu bisa didapat begitu saja, tentu ada dramanya masing-masing. Haha.. ibarat nonton film shahrukh khan tapi nggak ada adegan bergoyang kan kurang afdol, ye nggak?

Sesama orang Indonesia yang menikahi pria India pasti mengerti banget soal ini, Ada yang awalnya nggak disetujui sampe harus kawin lari. Nikah di negara ketiga dan baru direstui mertua sampe dah beranak tiga.

Adaaa cerita kayak gitu mah.

Belum lagi cewek-cewek Indo yang nangis bombay karena hubungan kandas akibat si cowok India takut nggak dapet warisan keluarga. Nah yang kayak gini sih biarin aja lepas, itu tandanya si cowok emang nggak bener-bener cinta kamu, sis.

Nggak usah jauh-jauh pernikahan Indian-Foreigner ya, kakak kedua suami saya aja yang nikah dengan sesama india muslim pake acara kawin lari hampir setahun karena keluarga si cowok nggak setuju. Aroma kawin lari juga mulai tercium pada salah satu sepupu Ka Salam yang baru 18 tahun, duh, dek! Belom juga dapet ijazah tapi ortunya udah gencar nyariin dia calon suami.

Nah masalahnya si adek ini udah punya cowok tapi si bapake kurang sreg. Alesannya rumahnya kecil lah, apa lah, ya di satu sisi dapat dipahami, mungkin si Om pengen anak perempuannya hidup enak, karena banyak juga kasus menantu perempuan yang malah di-abuse dan disuruh kerja banyak sementara mertua santai-santai. Tapi kan di sisi lain, kalau memang mau anaknya hidup nyaman kenapa nggak ortunya aja yang ngurusin? kenapa ngebet buru-buru mau dinikahin?

Nah, lho.

Lah, memangnya kalo udah nikah harus sama mertua ya, Mel? Nggak bisa tinggal mandiri?

Ini satu lagi pertanyaan yang sering saya dapetin, emang harus tinggal sama mertua?
Yah, umumnya sih gitu. Kalau cewek-cewek India sih udah mengerti betul tradisi itu, jadi ya bagi mereka tinggal sama mertua itu ya udah sewajarnya. Kecuali kalau suami mereka kerja di gulf country (negara-negara timur tengah) dan mereka bisa ikut suami, ya biasa mereka ngikut. Tapi banyak juga kasus daughter in-law yang tetep tinggal sama mertua sementara suaminya kerja di gulf.

Loh, kok gitu? Yaiyalah, kan katanya setelah menikah perempuan itu milik suaminya sementara si suami masih milik ibu yang melahirkannya, jadi semisal si kangmas kudu ke negara lain buat cari nafkah, si istri ya tetep sama mertuanya dong. Ye nggak?

Nggak sependapat? Saya juga enggak sih, hehe..

Tapi kan berbeda pendapat bukan berarti harus menyalahkan pendapat yang lain. Nyatanya cewek-cewek India sendiri kebanyakan terima-terima aja, walaupun saya tahu banget beberapa dari mereka menerima itu sebagai unconveniece circumstances yang harus mereka jalani dengan tabah karena memang sudah "kodrat"-nya. Nggak heran kan, rumah orang India itu besar-besar, ya namanya juga rumah untuk tiga generasi, hehehe..

Walaupun sebenarnya di kultur Indonesia ada juga tradisi yang hampir mirip. Misalnya saja dalam kultur masyarakat batak dimana anak perempuan harus mengikuti keluarga suami sebagai ganti sinamot (mahar) yang telah dibayarkan laki-laki ke keluarga perempuan.

Baca juga: Hari Kartini & Kebebasan Perempuan

Ya tapi kan kalo di India si cewek yang bayar dowry (mahar) ke cowok, kok kayaknya gitu banget, udahlah habis ratusan juga buat dowry eh masih harus pisah sama orang tua sendiri. Sedih ya. Ini sumpah saya sedih loh, serius, bukannya nyinyir. Saya mah ngapain nyinyir, orang saya nikah tapi menang banyak. Mau nyinyir pun nggak ada hak.

Kalau pun ada yang mau saya nyinyirin, saya cuma mau nyinyir keputusan mahkamah agung India yang akan mengabulkan tuntutan cerai seorang suami apabila istrinya memaksa tinggal berpisah dari orangtuanya yang lanjut usia. Silahkan cek beritanya di The Hindu: India grants divorce to man whose wife refused to live with in-laws.

dan keputusan mahkamah agung ini memang terbukti kontroversial kan
buktinya yang nyinyirin juga banyak

Eh tapi ada juga kok yang nggak bayar dowry dan nggak tinggal sama mertua, contohnya ya kakak ipar saya, padahal setelah dapet restu, mertuanya beberapa kali udah minta dia untuk tinggal sama mereka sementara suaminya kerja di Qatar, tapi si kakak ipar lebih milih ngontrak rumah dan mengabaikan nyinyir para tetangga.

Banyak ibu-ibu Indonesia yang menikah dengan sesama Indian pun begitu. Umumnya mereka memilih hidup terpisah dengan mertua, walaupun ada juga yang nggak masalah tinggal sama mertuanya. Lagi-lagi itu kembali ke pilihan masing-masing. Nggak semua mertua India itu segalak ibunya Baldev di serial Veera ya.

Baldev, Veera dan Bumer nyinyir



Tuesday, December 13, 2016

Balada Topan Vardah dan Cara Membuat Ayam Kari

Judul postingan ini memang nggak nyambung banget, tapi Topan Vardah memang lagi jadi hotline di India dan kemarin saya juga udah janji mau posting tentang Resep Membuat Ayam Kari.

Ternyata cuaca mendung gerimis syahdu yang melanda Kerala dua hari ini merupakan imbas dari Badai Topan Vardah yang tengah melanda wilayah Tamil Nadu sejak hari Senin kemarin. Saya cuman bisa melotot nggak percaya waktu Ka Salam bilang kecepatan Topan Vardah ini mencapai 140 kilometer per jamnya, nggak heran selain berhasil memporak-porandakan seisi kota, topan ini juga telah memakan 12 korban jiwa (HindustanTimes, Dec 13, 2016).

Alhamdulillah-nya, tempat saya cuma kebagian kena rintikan ujan doang sama hawa dingin seharian yang bikin males mandi padahal menurut prediksi, Kerala bakal hujan besar. Mungkin Kerala bagian lain yang lebih dekat pesisir tenggara merasakan dampak yang lebih besar.

Yah, tapi sebenernya secara nggak langsung saya kena dampak juga sih dari Topan Vardah ini karena tiket pulang kampung saya hari Jum'at nanti mau nggak mau terpaksa dibatalin. Tinggal 3 hari lagi, tapi yah mau gimana, cuaca memang lagi nggak bagus dan Ka Salam lebih milih bayar biaya reschedule tiket daripada ngizinin saya bepergian naik pesawat yang terbangnya melintas teluk benggala. Saya baca-baca juga ada ribuan turis yang terjebak di Andaman Nicobar karena cuaca buruk.

Uhh, padahal saya udah kangen banget sama lontong sayur di sebelah rumah, kangen jajan bakso, bubur ayam, cilok, siomay. Ngomong-ngomong soal makanan, saya jadi inget mau cerita pengalaman saya masak chicken curry yang akhirnya sukses dipuji suami dan ludes diabisin sama adik ipar. Malahan suami bilang chicken curry buatan saya lebih enak dari chicken curry buatan kakak ipar yang jago banget masaknya. Duh!

Langsung aja, berikut step by step cara membuat chicken curry yang enak ala Chef Melyn =D *baru sekali dipuji aja itu nama udah ada tambahan Chef-nya. Hahaaa

resep membuat chicken curry

Resep Cara Membuat Ayam Kari


Bahan-bahan:
  • 500 gr daging ayam
  • 1 siung bawang putih
  • 1 potong jahe (seukuran ibu jari)
  • 1 buah bawang bombay
  • 1 buah tomat.
  • 3 buah cabe hijau besar, (atau kalau pakai cabe rawit merah 5-6 buah, potong membujur/vertikal)
  • 2 helai daun kari
  • 2-3 helai daun ketumbar
  • 1 helai daun mint
  • 2 sdm bubuk cabe
  • 1 sdt chicken masala, (bisa diganti dengan bumbu kaldu ayam bubuk instan 1/2 sdt, walaupun tidak saya sarankan karena kaldu ayam bubuk instan yang dijual otomatis mengandung pengawet dan MSG. Atau kalian bisa coba membuat kaldu ayam bubuk sendiri di rumah,)
  • 1/4 sdt jahe bubuk
  • 1/2 sdt ketumbar bubuk
  • 2 sdm minyak kelapa (jangan terlalu banyak karena jaringan lemak daging ayam biasanya menghasilkan banyak minyak, kalian bisa juga mengganti minyak kelapa dengan palm oil, sunflower oil, atau vegetable oil, saya suka minyak kelapa karena lebih wangi dan  terasa gurih)
  • garam dan lada secukupnya sesuai selera

Cara membuat:
  1. Cuci bersih daging ayam, tiriskan. Blender bawang putih dan jahe.
  2. Iris tipis-tipis bawang bombay. Potong-potong tomat, daun ketumbar dan daun mint.
  3. Iris membujur cabai, jangan melintang karena nanti akan terlalu pedas.
  4. Setelah itu panaskan panci, tuang sedikit minyak, tumis bawang bombay hingga harum, masukkan daun kari, cabai, dan tomat. Aduk-aduk sebentar, tambahkan sedikit air, kira-kira 2-3 sendok makan hanya agar tidak gosong.
  5. Masukkan bubuk cabe, chicken masala, jahe bubuk, ketumbar bubuk, garam dan lada. Aduk-aduk hingga semua bumbu tercampur rata. Cicipi dan koreksi hingga rasa yang dihasilkan terasa pas. Perlu diingat, pada step ini, campuran bumbu yang kalian buat harus 2-3 level lebih intens karena nanti kita akan menambahkan air.
  6. Apabila bumbu telah dirasa pas, masukkan daging ayam sembari diaduk-aduk agar bumbu terbalur sempurna, tambahkan sedikit air untuk mempermudah, kecilkan api, biarkan masak selama 1-2 menit kemudian tambahkan 2-3 gelas air.
  7. Masak dengan api sedang hingga mendidih. Setelah daging ayam dirasa cukup matang, matikan api, dan kari ayam siap dihidangkan.
Selamat Mencoba. Semoga Sukses yah tapi tak perlu bersedih kalau belum sukses, karena suami akan tetap sayang kita. :DD

Cara Membuat Kaldu Ayam Bubuk

chicken masala

Konsekuensi menikah sama orang India itu ya salah satunya harus bisa menyesuaikan perbedaan-perbedaan yang buanyaaaakkk banget. Yah, yang nikah sama sesama orang Indonesia aja bedanya banyak, apalagi yang nikah sama orang beda negara yang jelas-jelas punya kultur dan cara hidup sendiri. Apalagi soal lidah. Waktu tinggal di Finlandia dulu, saya terbiasa makan makanan yang bener-bener low sodium. Pake garem cuma seiprit, dan terbiasa makan makanan as their natural taste. Kalo makan sup wortel-kentang ya rasanya wortel sama kentang, kalo yang dimakan ikan salmon panggang ya rasanya ikan salmon, belum lagi raw veggies buat salad yang prosesnya cuma cuci >> potong >> sajikan. Nyampe India apa-apa rasanya keasinan. Sayuran dimasak lamaaaa banget ampe pada kempes =DD

Tapi lama-lama terbiasa sih, dan makin kesini saya jadi makin ngerasa kalo bumbu-bumbuan India itu memang esensial banget, khususnya Chicken Masala, atau Chicken Powder. Apalagi kalau kebetulan suami lagi ke Indonesia. Untuk bumbu esensial lain kayak cabe, ketumbar sama jahe bubuk untungnya udah kecover dari supplier rempah dan bahan kue koepoe-koepoe, Cuma untuk chicken powder itu masih susah dicarinya, kalaupun ada ya paling bumbu kaldu ayam instan yang rasanya terlalu intens, nggak kayak chicken powder yang biasa dipake. Gimana, ya, rasanya terlalu ber-MSG dan agak aneh. Belum lagi kandungan bahan pengawet di dalamnya.

Untungnya akhirnya saya tahu kalau bumbu kaldu ayam bubuk ini ternyata bisa dibikin sendiri di rumah. Ternyata nggak sesusah yang dibayangin. Buat yang penasaran, berikut step by step membuat chicken masala dari rumah, selain lebih sehat juga dijamin aman dari MSG dan bahan pengawet.

Cara membuat Kaldu Ayam Bubuk (Chicken Powder)

Bahan-bahan:
350 gram daging ayam tanpa lemak dan kulit
25 siung bawang putih
2 buah wortel
1 buah bawang bombay
2 batang seledri (bisa juga diganti daun ketumbar)
1 batang daun bawang
2 sdm garam

Cara Membuat:
  1. Masukkan semua bahan diatas ke dalam food processor. Atau kalau tidak punya food processor, bisa juga menggunakan blender dengan ditambahkan sedikit air.
  2. Panaskan wajan anti lengket, lalu sangrai bahan-bahan yang telah dihaluskan tadi hingga kandungan airnya hilang.
  3. Untuk proses pengeringan lebih lanjut, ratakan bahan yang telah disangrai tersebut di atas loyang kue lalu panggang menggunakan oven dengan api paling kecil, Jangan lupa untuk diaduk sebentar-sebentar agar tidak gosong.
  4. Angkat dan dinginkan apabila telah kering dan garing, kemudian blender kembali dengan menggunakan blender bumbu yang kecil. Apabila dirasa masih kurang halus, silahkan ulangi proses memanggang dan haluskan lagi dengan blender.
  5. Tempatkan dalam toples atau wadah kedap udara.
Gimana? Nggak susah-susah amat kan ternyata. Keliatannya memang lebih ribet, tapi saya lebih seneng yang kayak gini, karena pas masak sehari-hari udah tinggal masuk-masukin bumbu, dan voila! masakan kita jadi sedap tanpa makan waktu. Di rumah juga biasanya ibu mertua rutin ke penggilingan sambil bawa-bawa cabe, ketumbar dan jahe yang udah dikeringin di atap rumah buat digiling jadi bubukan. Dijamin aman dari MSG dan bahan pengawet daripada beli-beli yang instan.

Oiya, karena bebas pengawet, kaldu ayam bubuk ini tidak dapat disimpan lama. Semakin kering proses pembuatannya (dioven dan diblender 2-3 kali) tentu akan semakin tahan lama. Tetapi umumnya akan bertahan sampai 1 bulan, atau bisa juga disimpan sebagian dalam lemari es agar lebih tahan lama. Hanya saja jika diperhatikan sudah berubah bau, warna dan bentuknya (menjadi lengket dan menggumpal) berarti sudah harus dibuang ya.

Semoga postingan ini bermanfaat. Selamat mencoba. :D
UA-111698304-1