Showing posts with label India. Show all posts
Showing posts with label India. Show all posts

Saturday, February 10, 2018

Makan Apa di India?

Mumpung baru abis makan siang, saya jadi kepikiran nulis tentang makanan apa aja yang saya makan selama di India.

Loh bukannya cuma kari sama biriyani doang mel?
Emm, yaiya sih, tapi sebenernya di India bukan cuma ada kari doang kok. Ada juga makanan lain  yang nggak kalah enak.

Breakfast

Sebagai orang Endonesiah yang nggak terlalu doyan nasi, bisa dibilang waktu makan favorit saya ya sarapan. Lauknya sih masih tetep kari lah ya, atau bisa juga diganti acara atau chutney, tapi pengganti karbonya ada macem-macem nggak bikin bosen.

1. Chappati & Poori

Pasti udah tau lah ya, chapati ini penampakkannya persis banget tortilla. Kalo menurut saya sih cuma sebutannya aja yang beda. Dibuatnya dari tepung gandum, air, minyak dan sejumput garam. Chappati yang enak saat dipanggang harus menggembung kayak digambar sebelah. Itulah bukti kesempurnaan adonan yang HQQ. Nggak kekurangan air atau kelebihan minyak, dijamin nanti hasil akhirnya bakal lembut dan matang luar dalam. Kalo saya sukanya makan chappati pake selai cokelat. Yumm!

Sunday, May 21, 2017

#INDIANSPOUSE: Perempuan Dalam Pernikahan


Love Marriage or Arranged Marriage?

Ini pertanyaan paling umum yang kerap dilontarkan kepada pasangan suami-istri. Umumnya pasangan suami-istri di India memang dijodohkan yang mana dari beberapa aspek nggak sepenuhnya merugikan. Pernikahan yang diatur (arranged marriage) pada dasarnya dilakukan akibat tradisi pacaran yang masih dipandang tabu bagi sebagian besar komunitas di India, khususnya komunitas muslim. Haram, kalo suami saya bilang, padahal mah dia sendiri juga pacaran :P

Dalam keluarga hindu, sistem perjodohan cenderung lebih saklek karena terkait dengan ilmu perbintangan dalam kepercayaan mereka. Jadi kalo ada perempuan sama laki-laki saling suka tapi ramalan bintang mereka buruk, ya bye-bye deh. Ada juga yang bisa disiasati dengan ritual buang sial, contoh: menikahi binatang atau tumbuhan agar kesialannya jatuh ke suami/istri pertama (si binatang/tumbuhan) baru kemudian si gadis bisa menikahi orang biasa.


Saya nggak tahu banyak kasus dalam keluarga hindu, cuma kayaknya kasus pemberontakan memang  lebih jarang. Buktinya lihat aja komunitas hindu-India yang bermigrasi ke Indonesia, rata-rata keturunannya masih dinikahkan dengan orang-orang sesama imigran tanah Hindustan. Berbeda dengan keluarga Islam atau Kristen yang beberapa telah memberi kebebasan memilih pasangan hidup ke anak-anak mereka, contoh terdekat ya keluarga suami saya. hehe..

Meskipun bukan berarti love marriage itu bisa didapat begitu saja, tentu ada dramanya masing-masing. Haha.. ibarat nonton film shahrukh khan tapi nggak ada adegan bergoyang kan kurang afdol, ye nggak?

Sesama orang Indonesia yang menikahi pria India pasti mengerti banget soal ini, Ada yang awalnya nggak disetujui sampe harus kawin lari. Nikah di negara ketiga dan baru direstui mertua sampe dah beranak tiga.

Adaaa cerita kayak gitu mah.

Belum lagi cewek-cewek Indo yang nangis bombay karena hubungan kandas akibat si cowok India takut nggak dapet warisan keluarga. Nah yang kayak gini sih biarin aja lepas, itu tandanya si cowok emang nggak bener-bener cinta kamu, sis.

Nggak usah jauh-jauh pernikahan Indian-Foreigner ya, kakak kedua suami saya aja yang nikah dengan sesama india muslim pake acara kawin lari hampir setahun karena keluarga si cowok nggak setuju. Aroma kawin lari juga mulai tercium pada salah satu sepupu Ka Salam yang baru 18 tahun, duh, dek! Belom juga dapet ijazah tapi ortunya udah gencar nyariin dia calon suami.

Nah masalahnya si adek ini udah punya cowok tapi si bapake kurang sreg. Alesannya rumahnya kecil lah, apa lah, ya di satu sisi dapat dipahami, mungkin si Om pengen anak perempuannya hidup enak, karena banyak juga kasus menantu perempuan yang malah di-abuse dan disuruh kerja banyak sementara mertua santai-santai. Tapi kan di sisi lain, kalau memang mau anaknya hidup nyaman kenapa nggak ortunya aja yang ngurusin? kenapa ngebet buru-buru mau dinikahin?

Nah, lho.

Lah, memangnya kalo udah nikah harus sama mertua ya, Mel? Nggak bisa tinggal mandiri?

Ini satu lagi pertanyaan yang sering saya dapetin, emang harus tinggal sama mertua?
Yah, umumnya sih gitu. Kalau cewek-cewek India sih udah mengerti betul tradisi itu, jadi ya bagi mereka tinggal sama mertua itu ya udah sewajarnya. Kecuali kalau suami mereka kerja di gulf country (negara-negara timur tengah) dan mereka bisa ikut suami, ya biasa mereka ngikut. Tapi banyak juga kasus daughter in-law yang tetep tinggal sama mertua sementara suaminya kerja di gulf.

Loh, kok gitu? Yaiyalah, kan katanya setelah menikah perempuan itu milik suaminya sementara si suami masih milik ibu yang melahirkannya, jadi semisal si kangmas kudu ke negara lain buat cari nafkah, si istri ya tetep sama mertuanya dong. Ye nggak?

Nggak sependapat? Saya juga enggak sih, hehe..

Tapi kan berbeda pendapat bukan berarti harus menyalahkan pendapat yang lain. Nyatanya cewek-cewek India sendiri kebanyakan terima-terima aja, walaupun saya tahu banget beberapa dari mereka menerima itu sebagai unconveniece circumstances yang harus mereka jalani dengan tabah karena memang sudah "kodrat"-nya. Nggak heran kan, rumah orang India itu besar-besar, ya namanya juga rumah untuk tiga generasi, hehehe..

Walaupun sebenarnya di kultur Indonesia ada juga tradisi yang hampir mirip. Misalnya saja dalam kultur masyarakat batak dimana anak perempuan harus mengikuti keluarga suami sebagai ganti sinamot (mahar) yang telah dibayarkan laki-laki ke keluarga perempuan.

Baca juga: Hari Kartini & Kebebasan Perempuan

Ya tapi kan kalo di India si cewek yang bayar dowry (mahar) ke cowok, kok kayaknya gitu banget, udahlah habis ratusan juga buat dowry eh masih harus pisah sama orang tua sendiri. Sedih ya. Ini sumpah saya sedih loh, serius, bukannya nyinyir. Saya mah ngapain nyinyir, orang saya nikah tapi menang banyak. Mau nyinyir pun nggak ada hak.

Kalau pun ada yang mau saya nyinyirin, saya cuma mau nyinyir keputusan mahkamah agung India yang akan mengabulkan tuntutan cerai seorang suami apabila istrinya memaksa tinggal berpisah dari orangtuanya yang lanjut usia. Silahkan cek beritanya di The Hindu: India grants divorce to man whose wife refused to live with in-laws.

dan keputusan mahkamah agung ini memang terbukti kontroversial kan
buktinya yang nyinyirin juga banyak

Eh tapi ada juga kok yang nggak bayar dowry dan nggak tinggal sama mertua, contohnya ya kakak ipar saya, padahal setelah dapet restu, mertuanya beberapa kali udah minta dia untuk tinggal sama mereka sementara suaminya kerja di Qatar, tapi si kakak ipar lebih milih ngontrak rumah dan mengabaikan nyinyir para tetangga.

Banyak ibu-ibu Indonesia yang menikah dengan sesama Indian pun begitu. Umumnya mereka memilih hidup terpisah dengan mertua, walaupun ada juga yang nggak masalah tinggal sama mertuanya. Lagi-lagi itu kembali ke pilihan masing-masing. Nggak semua mertua India itu segalak ibunya Baldev di serial Veera ya.

Baldev, Veera dan Bumer nyinyir



Tuesday, April 18, 2017

Fort Kochi Staycation Part I

Layaknya pekerja Jakarta yang haus hiburan kala weekend, ada kalanya saya juga butuh pelarian sementara semacam itu. 
Weekend Getaway, kalo orang bilang.
Short Escape.

Hah! Padahal saya mah apa, kerja juga enggak, punya anak juga belum, kerjaan cuma main hp sama ngurusin suami doang.

Haha.. Tapi justru itu yang malah jadi alasan kuat saya harus sering jalan-jalan, kan? Kalo nggak sering-sering jalan bisa-bisa saya stres di negeri orang saking kebosanan. Ye nggak? Iya-in aja lah udah biar cepet =D

Nah, untuk weekend gateaway ini, biasanya saya sama suami selalu pergi ke Fort Kochi.

Kenapa ke Kochi? Karena nggak terlalu jauh dari Tirur, cuma makan waktu 3-4 jam naik kereta, cocok banget untuk liburan 1-2 malam. Saya sih seneng-seneng aja di bawa ke mana pun, lagian Fort Kochi ini suasananya menyenangkan, relaxing, dan banyak tempat-tempat menarik.


How To Get There

Akses menuju Fort Kochi bisa dibilang sangat mudah. Hampir semua rute kendaraan umum sepertinya bakal berakhir di Fort Kochi (cmiiw). Kalau pake kereta api, dari stasiun ERS saya biasanya jalan ke M.G Road terus tinggal naik bus yang ada tulisan Fort Kochi di kacanya. Ongkosnya 15 rupee atau sekitar 3 ribu rupiah untuk perjalanan kira-kira 20 menit.

Kalau misalnya takut nyasar atau males jalan, dari stasiun ke M.G Road bisa banget naik auto (sebutan disini untuk autorickshaw alias bajai)

Pilih bajai dari auto prepaid counter aja biar nggak kena zonk harga tipu-tipu. Ciri-ciri counternya cari aja loket kecil yang banyak bajai berjejer antri. Nanti kita tinggal bilang tujuan kita ke petugas counter, terus mereka bakal kasih struk nominal tarif ke tujuan kita. Biaya servisnya 2 rupee dan bayar ongkos bajainya langsung ke abang bajai sesuai nominal di struk.

Menuju Fort Kochi dari Kochi Airport malah lebih gampang lagi. Lebih nyaman juga kayaknya karena bisnya itu tipe low floor dengan air conditioner. Gampang lah pokoknya. Ada banyak!

Where To Stay

Begitu memasuki wilayah Mattancherry dan Fort Kochi, mata kita akan dimanjakan dengan deretan rumah-rumah cantik bergaya indo-eropa dengan balkoni taman bunga.  Banyak penduduk setempat yang menyewakan kamar-kamar di rumah mereka untuk para pelancong. Terdapat 100 lebih homestay di area sekitar dengan tarif  antara 100-300 ribu idr per malam. Harga tersebut masih bisa lebih murah lagi 10%-20% kalau bukan lagi peak season.

Beberapa homestay bahkan menyediakan sepeda dan canoe untuk berkayak. Bagi yang punya budget berlebih dan ingin fasilitas lebih luxury, hotel-hotel high–end bertarif jutaan juga tak kalah banyak.

Be aware of mosquitoes, tho!
Seperti negara tropis lainnya, Kochi juga menghadapi permasalahan pelik soal nyamuk. Jadi jangan heran kalau lihat kawat nyamuk terpasang hampir di setiap lubang dan jendela.

mosquito net is essential

What To Do

Fort Kochi merupakan lingkungan bersejarah yang berada di pinggiran kota metropolitan Kochi. Begitu kota pelabuhan kuno Muziris tersapu tsunami, pelabuhan Kochi mengambil alih tugas menyambut kapal-kapal para pedagang dari Cina hingga Eropa dan menjadi pusat perdagangan rempah-rempah yang tengah berkembang saat itu. Hal ini mau tidak mau menarik perhatian berbagai kekuatan eropa seperti kumpulan semut mencari sumber gula.

Pada akhir abad ke 14, penjelajah terkenal Vasco de Gama berhasil menemukan jalur laut dari Eropa ke Asia, menembus perairan Hindia dan tiba di Pantai Malabar. Dua tahun setelah kedatangan pertamanya, Vasco de Gama akhirnya berhasil membuat kesepakatan dengan raja-raja Kochi dan membuat sebuah benteng kecil yang disebut Fort Kochi. 3 abad kemudian, Belanda berhasil mengambil alih Fort Kochi dan memerintah selama kurang lebih 100 tahun sebelum akhirnya menyerahkan sabuk kekuasaan pada Inggris hingga hari kemerdekaan.

Bertahun-tahun setelah kemerdekaan, Fort Kochi masih mempertahankan sisa-sisa kejayaan masa lampau. Meskipun bangunan benteng yang dibangun oleh Portugis telah hilang dirusak oleh Belanda, namun namanya masih menetap, bertransformasi menjadi nama wilayah tempat segala macam pengaruh budaya dari berbagai belahan dunia melebur.

1. HERITAGE VISIT

Dengan luas area tidak seberapa lebar dan cukup padat. Cara terbaik menjelajah Fort Kochi ialah dengan berjalan kaki. Tapi kalau kamu tipe turis sabtu-minggu yang tidak punya banyak waktu, menyewa auto selama 1-2 jam adalah pilihan yang tepat. Tarif sewa bajai selama satu jam kira-kira 100-150 rupee (20-30k idr).

Umumnya situs-situs sejarah dengan loket tiket tutup pada hari jum’at dan sabtu. Sebaiknya cek terlebih dahulu jam buka situs yang mau didatangi. Pastikan juga kalian mengenakan pakaian sopan (celana panjang serta baju berlengan) dan tidak membawa terlalu banyak barang.

Churches & Temples Hopping

Dalam kurun waktu 400 tahun masa kependudukannya, pemerintahan Portugis, Belanda dan Inggris banyak membangun gereja-gereja dan shrine sebagai hadiah kepada raja-raja Kochi saat itu. Rata-rata gereja yang ada di kawasan Fort Kochi dan Mattancherry merupakan peninggalan Belanda, kecuali gereja St. Francis dan Kathedral Santa Cruz Basilica.

St. Francis Church, merupakan gereja Eropa pertama di India yang dibangun oleh portugis pada abad ke 15. Setelah Fort Kochi jatuh ke Belanda, gereja ini kemudian berubah menjadi gereja Reformis dari awalnya gereja Katolik Roma dan berubah lagi menjadi gereja Anglikan pada masa kependudukan Inggris. 
Monumen Vasco de Gama berada di halaman depan gereja ini dimana Laksamana Muda Laut India itu pernah terbaring disini selama 14 tahun sebelum jasadnya dikembalikan ke Lisbon pada tahun 1568. 


Santa Cruz Cathedral Basilica, merupakan satu-satunya gereja bergaya gothic yang ada di area Fort Kochi sekaligus juga salah satu dari 8 basilika yang ada di Kerala. Pada masa pemerintahan Belanda, banyak bangunan katolik yang dihancurkan, Santa Cruz Basilika adalah salah satu yang bertahan.


Selanjutnya, katedral ini direnovasi dan disucikan kembali pada tahun 1905 pada masa pemerintahan Inggris. Letaknya yang berada di tengah kota serta penampakannya yang paling berbeda, gereja ini kerap menjadi penanda jalan. 


Pada malam-malam saat ada perayaan tertentu katedral ini bisa sangat ramai. Lampu-lampu berwarna biru berkelap-kelip dari ujung ke ujung. Halaman katedral penuh dengan manusia, jalanan di luar pagar pun dijejeri para penjual makanan. Persis pasar malam.



http://www.melynsalam.com/2017/04/fort-kochi-staycation-part-i.html
St. Francis.
photo credit:  makemytrip
http://www.melynsalam.com/2017/04/fort-kochi-staycation-part-i.html
Santa Cruz Basilica
photo credit: remotetraveler
Selain dua gereja ini masih banyak sebenarnya gereja-gereja peninggalan Belanda dan Inggris yang masih berdiri. Seperti gereja Our Lady of Life di Mattancherry, St. Peter and St. Paul’s Orthodox Syrian Church, The Lady of Hope Church,  banyaklah pokoknya. Gereja-gereja bersejarah bisa didatangi kapan saja hingga jam 5 sore terkecuali hari minggu. Bukan cuma gereja, kuil-kuil tua berusia ratusan tahun juga nggak kalah banyak, hanya saja kebanyakan kuil hindu tertutup untuk turis.

Yah, gak papa sih, yang namanya ibadah kan memang seharusnya jadi ritual sakral, bukan tontonan turis. Tapi di antara kuil-kuil tersebut, ada satu kuil yang sangat ramah turis. Namanya kuil Jain.

http://www.melynsalam.com/2017/04/fort-kochi-staycation-part-i.html
kuil di Mattancherry yang berusia 5 abad lebih
http://www.melynsalam.com/2017/04/fort-kochi-staycation-part-i.html 
gereja The Lady of Life
tampak dalam The Lady of Life

Jain Temple, sesuai namanya, kuil yang berada di Gujarati Road ini memang merupakan kuil ibadah penganut jainisme. Bagi orang-orang India asli, kuil ini mungkin tidak terlalu menarik dibandingkan kuil-kuil Jain lain yang ada di India khususnya di wilayah Rajashtan. Namun meskipun tidak terlalu besar, tapi kuil ini sungguh cantik dan tenang.


Di pintu masuk, semua barang harus dititipkan (with your own risk!). Pastikan juga kalian berpakaian sopan, karena orang bercelana pendek sudah pasti ditolak masuk.
"At 12 pm, the magic starts"
Para biarawan (atau pendeta? Idk) mulai membunyikan lonceng yang akan memanggil burung-burung dara di sekitar kuil berkumpul di halaman. Selanjutnya biarawan/rahib/pendeta itu akan menyanyikan doa-doa menurut kepercayaan Jain sembari memberi makan burung-burung tersebut dengan biji-bijian.
photo credit goes to tripadvisor

Dhobi Khana

http://www.melynsalam.com/2017/04/fort-kochi-staycation-part-i.htmlhttp://www.melynsalam.com/2017/04/fort-kochi-staycation-part-i.htmlDari semua tempat saya datangi pagi itu, bisa dibilang Dhobi Khana lah yang paling aneh. Deretan wanita dengan sari kusam dan para pria tanpa kaus tengah menyeterika baju menyambut saya saat memasuki sebuah bangunan semi terbuka. Rambut mereka sudah memutih banyak, usia mereka pasti lah telah lewat 70 tahunan. Bilik-bilik kecil seperti toilet tanpa pintu berjejer dengan tumpukan baju di depannya.

Saat melewati gerbang dengan tulisan Vannar Sangham, Dhobi Khana, sejujurnya saya tidak tahu tempat macam apa yang sedang saya datangi ini. Supir auto yang membawa kami menyuruh kami mengikutinya ke bagian belakang bangunan, dan di sana lah... terhampar jemuran skala besar di atas sebuah padang rumput hijau.

“Mungkinkah ini lokasi syuting film?” pikir saya seketika sambil sibuk mencari-cari sesosok makhluk menari-nari di sela kain-kain putih yang melambai-lambai dihembus angin.

http://www.melynsalam.com/2017/04/fort-kochi-staycation-part-i.html

But nope! Meskipun sekilas nama Dhobi Khana terdengar cukup kolosal untuk menjadi tempat syuting film bollywood, tapi sebenarnya tempat ini merupakan area laundry publik yang dibangun pada tahun 70an.
Vannar Community
Washermen Building
Sejarah awal lahirnya Dhobi Khana bahkan telah dimulai lebih jauh lagi yaitu sejak era kolonial saat pasukan Inggris (beberapa sumber menyebutkan pasukan Belanda) membawa banyak orang-orang tamil ke Fort Kochi untuk dijadikan tukang cuci pakaian seragam prajurit. Pada tahun 1920, komunitas orang tamil ini selanjutnya membentuk Vannar Sangham (komunitas Vannar).

Pasca kolonial, para dhoby (washermen) kemudian mendatangi rumah-rumah, hotel, rumah sakit, sekolah maupun instansi pemerintah untuk menawarkan jasa mereka.

Tata cara mencuci para dhobby ini benar-benar tradisional. Tak hanya mencuci baju dengan tangan dan pengeringan alami sinar matahari dengan teknik menjemur yang unik. Mereka juga menggunakan rendaman air beras sebagai pelembut, serta alat setrika traditional menggunakan arang dengan berat hampir 10 kilo. 


Apabila datang ke sini pada hari minggu, tak jarang kita akan menemukan muda mudi anak-cucu Vannar yang telah sukses masih datang ke sini untuk mencuci baju mereka menggunakan fasilitas di Khana. Beberapa dari mereka adalah enginer di perusahaan IT terkemuka India, kapten kapal, polisi, etc.

Whyyyy?? Entahlah. Mungkin mereka perfeksionis lebih suka mencuci baju pakai tangan? Mungkin ada semacam efek pelepas stres saat menghempaskan pakaian ke batu besar? Mungkin cuci baju sekalian work out? Mungkin sama seperti sosialita yang nongkrong di Mall, komunitas Vannar hang out-nya sembari cuci baju?
Mungkin alasan kenapa mereka masih repot-repot melakukan itu semata-mata agar Khana tidak mati. 
Yang jelas saya salut banget sama mereka-mereka ini yang masih menghidupi adat dan tradisi leluhur. Because no matter what are they now, their ancestor was once a washermen. 

Mattancherry Palace

via culturalindia
Mattanchery Place jelas-jelas salah satu destinasi yang ngak boleh dilewatkan saat kalian ke Fort Kochi. Tapi sayangnya, saat saya ke sana Mattancherry Palace ini tutup. Selain sejarahnya, hal paling menarik dari musium ini ialah lukisan mural besar yang melapisi area sebesar 300 meter persegi dari lantai hingga langit-langit.

Selain mural, terdapat juga foto-foto keluarga besar kerajaan serta artifak-artifak kuno koleksi kerajaan, Tentunya mural-mural tersebut menceritakan kisah-kisah purana, yakni cerita kuno dalam kesustraan Hindu, yang berisi mitologi dan legenda zaman dahulu (Friday closed, open 10-5).

Jews Synagogue

Pada abad ke 12 terdapat dua komunitas yahudi yang mula-mula datang ke Fort Kochi. Yang pertama, Malabar Yehudans yang mengaku sebagai keturunan King Solomon of Israel dan kedua, komunitas Yahudi Sephardi berkulit putih yang datang dari semenanjung Iberia dan kemudian disebut oleh penduduk lokal sebagai Paradesi yang artinya orang asing.

Jews Synagogue disebut juga Paradesi synagogue merupakan sinagog dari abad ke 15 yang masih aktif dari tujuh sinagog yang ada di Jews Town, Mattancherry. Ada peraturan tidak boleh mengambil foto di dalam sinagog, tapi tenang saja, keindahan lampu-lampu gantung Belgia dan keramik antik Cina yang melapisi seluruh lantai akan sulit untuk dilupakan. 

via keralatourism

Bagi penyuka musium, Fort Kochi menawarkan banyak sekali pilihan musium untuk dikunjungi. Sebut saja Indo-Portugues Museum yang terkenal dengan barang-barang antik peninggalan portugis, Maritime Museum, Fort Kochi Beach Museum, The Museum Company hingga Kerala Folklore Museum dengan 4000 artefak koleksinya. Kerala Folklore Museum bahkan pernah didatangi oleh Pangeran Charles dan Camilla pada tahun 2013.

Sayang, karena sudah merasa terlalu lelah, saya dan ka Salam memutuskan untuk skip museum visit dan lebih memilih balik ke hostel untuk tidur siang. =P

Beberapa supir auto mungkin akan menawarkan berkunjung ke beberapa heritage shop yang dikelola pemerintah. Modusnya sih nggak jauh ala-ala tukang becak malioboro, para supir auto ini juga akan mendapatkan voucher pembelian BBM setiap membawa pengunjung.

Nggak ada salahnya sebenernya itung-itung ngadem karena heritage shop milik pemerintah ini lucu-lucu banget memang. Meskipun harganya nggak lucu, tapi lumayan deh buat cuci mata.

Fort Kochi Staycation Part II


http://www.melynsalam.com/2017/04/fort-kochi-staycation-part-ii.html
foto saya sama suami waktu jadi figuran penari latar film terbarunya King Khan.
Muahahha.. nggak deng!
Kalau penasaran baca dulu ceritanya di part 1

Setelah sholat dan teler sebentar akibat kelelahan keluar masuk heritage shop (maksutnya lelah hati karena yang dijual mahal-mahal bet). Saya sama Ka Salam memutuskan ke luar buat cari makanan berat karena camilan di kamar tlah habis semua.

Pukul 3 sore waktu itu, matahari masih lumayan terik. Kami memutuskan makan di Hotel Lucky Star yang ada di Fosse Road, tak jauh dari hostel tempat kami menginap. Jangan salah sangka di Kerala istilah hotel memang biasa dipakai untuk rumah makan atau restaurant, bukan berarti itu restauran hotel atau semacamnya tapi memang disebutnya aja begitu.

Dan seperti biasa, pasangan kereromantis macam kami ini sudah pasti pesannya nasi biriyani. Murah, banyak, cukup seporsi bisa kenyang makan berdua. Harga sepiring biriyani biasanya dari 90-150 rupee, dapat nasi segepok, ayam dua potong, dua jenis acar dan kerupuk!

Perut kenyang, hati senang, saatnya kita lanjut jalan-jalan.

2. STROLL AROUND THE NEIGHBOURHOOD

Tak bisa dipungkiri, Fort Kochi memiliki jalan-jalan kecil yang sangat fotogenik. Rumah-rumah tingkat minimalis dirimbuni bunga-bunga dan tanaman rambat serta deretan kafe, gallery dan butik-butik artistik, jalanan di Fort Kochi betul-betul seindah namanya. Sebut saja Princess street, Lilly street, Napier street, Rose street.

Nggak percaya? Nih liat aja foto-fotonya. 
via cochinblogger.wordpress.com

photo credit goest to Madhu via www.madhugopalan.com

photo credit goest to Madhu via www.madhugopalan.com
photo credit goest to Madhu via www.madhugopalan.com
photo credit goest to Madhu via www.madhugopalan.com

Dari Fosse Road kami berjalan lurus menelusuri Bastian Street, berbelok kanan masuk ke Princess Street lalu melipir ke Gelato&More untuk makan es krim.

Bergandengan tangan menyusuri Rose street, hingga Parade Ground, lalu tiba di St. Francis Church Road untuk makan pizza vegetarian di kafe David Hall Gallery.  Setelah kenyang kami melangkahkan kaki ke Lilly street, membeli Kathi Roll di Dal Roti untuk camilan tengah malam lalu menghabiskan nyaris satu jam kembali ke pantai.

Di tengah perjalanan kami berhenti di Peter Celli street, demi segelas sarsaparilla lemonade di Kashi Art Cafe sebelum kembali kekenyangan dengan blueberry cheesecake dari Teapot Cafe.
Nggak percaya? Memang seharusnya enggak! =P Hehe..

Kan saya sama Ka Salam baru makan siang jam 3. Lagian mana adaaaaa, orang biriyani aja makan kongsi berdua, hahahaha.... Terus juga tuh Ka Salam nggak suka pizza (iya tau, my hubby is that weird) apalagi sayur! jadi gimana ceritanya makan pizza vegetarian.

Yang sebenarnya terjadi ialah kita berdua lagi ena-enaa terpukau sama ke-au then tic-an jalanan Fort Kochi sampe akhirnya nyasar nggak tau arah balik. Makanya langsung pada sibuk nyari jalan keluar tanpa GPS biar enggak ketinggalan sunset.

http://www.melynsalam.com/2017/04/fort-kochi-staycation-part-ii.html
Koder House

3. FORT KOCHI BEACH


http://www.melynsalam.com/2017/04/fort-kochi-staycation-part-ii.html
ramai di akhir pekan

Pantai Fort Kochi ramai luar biasa saat kami berhasil keluar dari jaring laba-laba jalanan bernama indah tapi menghanyutkan(?). Puluhan pedagang menjajakan barang dagangan mereka di trotoar jalan, dari mulai penjual ikan hingga penjual es krim, penjual asinan hingga penjual mainan anak kecil.

http://www.melynsalam.com/2017/04/fort-kochi-staycation-part-ii.html

Tua muda asyik bercengkerama di bangku-bangku panjang menghadap pantai. Beberapa remaja laki-laki bermain bola, ada juga yang bermain layangan. Momen senja di Fort Kochi memang punya banyak penggemar. Beberapa tur menawarkan paket menikmati senja dari perairan.

Ada sebuah atraksi yang cukup diminati turis di area sekitar pantai, dikenal dengan nama Chinese Fishing Net (CFN).
http://www.melynsalam.com/2017/04/fort-kochi-staycation-part-ii.html
Chinese Fishing Net

4. KATHAKALI PERFORMING ARTS

http://www.melynsalam.com/2017/04/fort-kochi-staycation-part-ii.html
Kathakali Dancers
Credit goes to Ellen Gade
Setelah lelah seharian mengunjungi setiap sudut bersejarah Fort Kochi, menonton pertunjukkan drama tari Kathakali dapat menjadi pilihan yang pas untuk menutup hari yang panjang. Kathakali sendiri merupakan seni drama tari kuno khas Kerala yang terkenal dengan riasan dan kostum yang rumit.

Kerala Kathakali Center berada di dekat hostel saya, tepatnya di KB Jacob Road. KKC menyelenggarakan pertunjukkan Kathakali sebanyak tiga kali setiap harinya dari pukul 4 sore hingga pukul 9 malam.

Selain itu Kerala Kathakali Center juga menyediakan kelas untuk belajar seni kathakali (musik, tari dan make up), martial arts, instrumen seperti violin, sithar, dan flute, serta tarian klasik semisal Bharathanatyam (saya pernah belajar ini diajarin anak tetangga, wkwkwk), Kutchipudi, dan Mhohiniyattam.

Jangan lupa, untuk pertunjukan akhir pekan, sebaiknya reservasi tiket terlebih dahulu terutama saat musim liburan.

5. BACKWATER TOUR

http://www.melynsalam.com/2017/04/fort-kochi-staycation-part-ii.html
via Holiday India
Kerala memililki aliran arus balik (backwater) sepanjang 900 kilometer yang terhubung paralel dari Allapuzha hingga ke pesisir Malabar. Backwater tour merupakan tur mengikuti aliran air (meliputi danau, kanal-kanal, laguna, dsb) dengan menggunakan sampan kayu. Percampuran air sungai yang segar dengan air asin dari laut Arab membuat aliran backwater memiliki ekosistem unik yang menjadi habitat berbagai macam flora dan fauna. Selain itu kita juga bisa memperhatikan kegiatan penduduk desa sepanjang aliran tersebut sembari menikmati pemandangan alam Kerala yang indah.

Hampir semua travel agent punya paket tur ini, dari yang durasinya setengah hari (5-6hours) hingga satu minggu. Harganya pun bervariasi dari yang 200an ribu untuk paket sehari hingga jutaan rupiah.

Saya juga tertarik banget nyobain, tapi belom dapet izin sama suami, secara Ka Salam itu, saya ajakin nyebrang nggak sampe 10 menit pake kapal ferry aja dia takut tenggelam nggak bisa berenang, apalagi sampan kayu. arrrrrhhhhhhhh
http://www.melynsalam.com/2017/04/fort-kochi-staycation-part-ii.html
ngileeeeerrrrr
via cochinculturalcentre.com

6. SHOP!

Karena nggak dapet izin ikutan backwater tour, berbelanja bisa jadi pelarian sementara sebelum Ka Salam faseh berenang. Hahahah... #ngarep
Untuk urusan belanja, tak diragukan lagi Jews Town lah juaranya. Mau cari apapun ada di sini, dari barang-barang kerajinan tangan sampe furniture antik. Dari rempah-rempah sampai pakaian etnik. Dari madu, kurma, embroidery stuff, cashmere scarf sampe keripik pisang pun ada.

photo credit goest to Madhu via www.madhugopalan.com
Barang-barnag disini dapat dipastikan jauh lebih murah dibandingkan barang-barang di heritage shop milik pemerintah. Selain di Jew Town, datang ke Vasco de Gama Square saat sudah gelap juga bisa menjadi alternatif berbelanja murah meriah.

via ww.photo.webindia123.com
Hari pertama saya heritage visit di Fort Kochi (baca part I) saya sempat di bawa ke All Spices Market yang berada di Bazaar Road. Saya cukup terkesan dengan bangunan tua dengan nuansa kuning dan merah itu. Authentique gimana gitcyuh lah intinya, tapi waktu akhirnya naik ke lantai 2 dan lihat harga-harga rempah yang dijual...

...gileeee chuyy, ni emak-emak (karena yg jualan semua bukibuk) mau jualan apa mau nipu orang. Semua barang yang dijual di sana TIGA KALI LIPAT dari harga sewajarnya. Mana mereka nawarin barang maksa bener dengan gaya seolah di situ udah paling murah, udah harga diskon. KZL.

http://www.melynsalam.com/2017/04/fort-kochi-staycation-part-ii.html

Eh, KZLnya belum selesai deng, soalnya mereka masih pake acara nyodorin buku menu yang isinya minuman herbal semacam teh jahe, chai masala, chai pepper, teh kapulaga, cengkeh, dsb, dst, yang mana sejujurnya sudah tamat saya coba satu-satu, kecuali varian chai (milk tea) karena saya nggak doyan susu.

Ka Salam pun udah jelas-jelas nolak dengan halus. Tapi entah gimana ceritanya, tiba-tiba dua cangkir teh masala telah disodorkan di hadapan kami. Teh masala dibuat dari daun teh yang direbus bersama kapulaga, kayu manis, cengkeh, jahe serta lada hitam. Rasanya ya kayak teh jahe dicampur merica aja, panas-panas pedes gimana gitu. Belum selesai saya sama Ka Salam cengo selembar kertas tahu-tahu udah disodorin lagi yang isinya tagihan kedua teh tersebut.

Woww! They’re really lack of attitude. 

Untung harga tehnya masih normal, kalo nggak udah saya ajak gelut.

So buat kalian yang ada di area Fort Kochi, atau ada rencana liburan ke Fort Kochi, hati-hati aja sama toko satu ini.

7. AYUVERDIC SPA

Sudah bukan rahasia bahwa Kerala terkenal dengan terapi pijat ayuverdanya yang telah mendunia. Well, sebenarnya nggak cuma di Fort Kochi sih, hampir setiap tempat di Kerala, bahkan India bahkan negara lain pun pasti punya klinik pijat ayuverdha, apalagi hotel-hotel besar. Tapi yaa, kenapa enggak?

Terapi pijat ini konon katanya dapat mengatasi berbagai permasalahan kesehatan dari sekedar otot kaku hingga obesitas karena pemijatannya bukan hanya sampai ke bagian otot saja tapi juga hingga merasuk ke sistem jaringan dan sel.

Howwww??? Bagaimana mungkin itu terjadi???



Jadi itu dia tujuh macam hal yang bisa kalian lakukan di Fort Kochi. Yang mana favorit kalian? Kalo saya sih teteuupp backwater tour. Hukss.

Keterangan foto kiri-kanan; [1] Mattanchery Temple, [2,
] gereja Our Lady of Hope, [3,4] Dhobbi Khana, [5] Spice Market.

Padahal jarang-jarang punya foto berdua di segala tempat kayak gini. Biasanya kemana-mana fotonya pasti cuma selfie-selfie sejangkauan tangan (ora nduwe tongsis cyiinn) yang otomatis gambarnya pasti muka semua. ahahah.. untunglah ada tour guide merangkap supir bajai yang nggak tahu kenapa semangat banget moto-motoin kami berdua.
Padahal mah kita ngga minta.
Cheers :D

Monday, April 10, 2017

Memasak Bagi Diaspora

Yang namanya tinggal di perantauan pasti ada kalanya kangen sama makanan spesial kampung halaman. Tapi resikonya ya nggak semua bahan-bahan yang ada di kampung halaman bisa ditemuin di sini. Beberapa bahan yang ada pun rasanya bisa beda banget, jadi kudu banyak-banyak riset sebelum beli. Wajib! Jangan kayak saya, sok-sokan masak masakan indonesia, tapi rasanya fail selalu. 

Pie Susu Kegemaran

Kegagalan pertama lumayan bikin trauma sih, waktu itu bulan pertama saya nyampe ke India dan ceritanya pengen sok bikin dessert gitu. Jadilah akhirnya belanja bahan-bahan buat bikin pie susu di supermarket di Tirur.

Karena biasanya orang India pakai ghee sebagai pengganti mentega dan margarin (tapi ghee warnanya agak putih, rasanya cenderung tawar dan saat dipanaskan pun bener-bener persis minyak makan. Tau kan minyak makan? Itu sebutan orang di kampung saya untuk minyak goreng, hehe) sementara kalo di Indonesia menteganya kuning dan rasanya lebih asin gurih, akhirnya saya beli lah salted butter di supermarket. Waktu itu saya beli merk lokal India namanya milma, karena juga butuh susu kental manis akhirnya saya juga beli condensed milk dari merk yang sama.

Nah, bodohpolosnya saya waktu itu, saya main cemplung-cemplung aja sesuai resep ala-ala Indonesia, nggak pake icip-icip bahan-bahannya dulu. Hasilnya? jadilah dessert aroma sapi yang terlampau gurih dan nggak ada manis-manisnya sama sekali. Eneg! Kulit pienya juga jadi rapuuuuh banget.

http://www.melynsalam.com/2017/04/memasak-bagi-diaspora.html
Pie susu, jadinya eneg banget,
warnanya juga pucet gitu, kurang canthique

Ternyata salted butternya nggak asin, dan susunya nggak manis. Semenjak itu saya jadi ogah nyoba resep-resep Indonesia. Beberapa kali beli keju-kejuan dari yang slice sampe yang balokan juga rasanya nggak ada yang bener. Keseringan malah keburu berjamur karena kelamaan di kulkas (yang sering idup mati gantian buat colokan blender, wkwk). Sedih, padahal di Indonesia dulu saya paling doyan ngegado keju pantesan badan melar kayak mozarella.

Demam Seblak!

Percobaan selanjutnya disponsori oleh feed-feed seblak yang bertebaran di socmed. Kebetulan ada stok kerupuk bawang sama bungkusan rempah kering modal ngemis ke Mbak Wiwin, salah satu orang Indonesia yang nikah sama orang Kerala juga. Jadi suami embaknya itu sering banget bolak balik India-Timur Tengah yang mana bahan-bahan berbau Indonesia lebih gampang ditemukan dibanding di India.

Cusss deh langsung beraksi.

Bahan-bahannya juga gampang, cuma modal;
-bawang putih,
-bawang merah,
- merica, garam 
-cabe yang banyak
-daun bawang, nggak pake karena nyarinya susah
-kencur, ini juga saya nggak pake karena nggak punya
-kemiri, yang akhirnya saya ganti pake jahe. KENAPA? yah, namanya juga diaspora. Kudu kreatip ye gak?

Lucunya suami saya malah heran "memangnya orang Indo makan kemiri?" Laahhh, si abang kira kemiri cuma buat minyak penumbuh rambut doang. Hasilnya? Bisa ditebak dong dari absennya ramuan-ramuan krusial. Hahahaaa... lagian mana adaaaaa orang ganti kemiri pake jahe. Jelas-jelas rasanya beda banget, jadi wajarlah kalo rasanya agak-agak unik campur ngaco.

Percobaan Selanjutnya...

Seterusnya, beberapa kali saya masih nekat lanjut bereksperimen, diantaranya bikin bakso ayam tanpa terigu (karena di rumah cuma ada tepung gandum ;P),bikin bihun pake semiya (sejenis mi putih yang disini buat bahan dessert), sampe eksperimen bikin cilok yang asli gagal total.

Yang pertama, jadinya bola-bola daging isi hati ayam, lembek-lembek nggak kenyal, ditelen juga seret, intinya teksturnya bener-bener nggak kayak bakso. Haha.. untungnya masih lumayan enak jadi bisa abis sampe kenyang tanpa bikin lidah sengsara.
http://www.melynsalam.com/2017/04/memasak-bagi-diaspora.html
bakso yang nggak kayak bakso
Yang kedua, ehm.. rasanya agak ancur sih. Bayangkan bihun yang harusnya pedas gurih malah jadi lengket dan manis. LAH? KOK BISA MANIS? Iya, jadi karena emang buat dessert, ternyata mi putihnya ini memang udah agak manis dari pabrik.

dan eksperimen terakhir bikin cilok ini yang akhirnya sukses bikin saya langsung pesen tiket pulang kampung. Hehe..

Tragedi Cilok

Jadi ceritanya udah berminggu-minggu saya nggak nafsu makan. Biasanya kalo udah nggak nafsu makan gitu saya tinggal beli cilok aja yang banyak bertebaran di tiap sudut jogja. Dari cilok kuah sampe cilok isi, itu lah andalan saya kalo udah laper tapi nggak nafsu makan apapun.

Berminggu-minggu ngidam cilok, eh tiba-tiba waktu saya lagi main ke tempat Teh Nur, nggak taunya si teteh lagi nyemil cilok. Karena di India nggak ada tepung sagu, jadi ciloknya dibikin dari terigu dan dimakan pake saus kacang. Yah walopun nggak sesempurna cilok normal, bolehlah itu cilok terigu buat penambal rindu sementara.

Nyampe ke rumah, bayang-bayang cilok bukannya memudar eh malah semakin menghantui. Jadi lah akhirnya minta suami beli tepung tapioka di pasar. Pulang-pulang pas dibuka eh kok warnanya kecokelatan bukannya putih, dan baunya menyengat bau ubi. Perasaan mulai nggak enak, tapi apa boleh buat?

Mungkin saat itu saya udah di titik desperate ngidam cilok. Nekatlah saya bikin cilok pake tepung (kayaknya) tapioka (tapi) bau ubi. Setelah jadi...

...jeng..jeng...

MANIS!!

Patah hati karena jadinya nggak enak? Udah biasa. Mau sedih? Harus gimana lagi? Tapi perasaan saya sama cilok yang saat itu saya bikin adalah marah, kesel, putus asa, mau pulaaaang. Haha...

http://www.melynsalam.com/2017/04/memasak-bagi-diaspora.html
cilok yang bikin saya pulang kampung

Saya merasa hina telah mencemarkan nama baik cilok. Saking marah dan keselnya itu cilok yang udah saya bikin akhirnya saya buang semua (mmm..jangan ditiru ya ini, pamali buang-buang makanan).

Padahal selama ini se-nggak enak-apapun makanan yang saya coba bikin, mau nggak mau pasti selalu saya abisin.

Waktu akhirnya curhat di grup yang isinya sesama ibu-ibu diaspora senior yang suaminya warga Kerala, ternyata... hampir semuanya pernah melakukan hal-hal serupa waktu mereka masih seamatir saya, hahaa..

Nggak heran, kalo pas waktunya pulang kampung, titipan semacam kecap manis dan tepung kanji langsung pada rame. Ibu-ibu yang punya bayi, teteup nitipnya minyak kayu putih. Apalagi kalo ada yang buka pre-order tempe, beuhhh..laris manis sampe waiting list segala.

Saturday, February 18, 2017

Yang Aneh-Aneh Menarik di India

"Plak!" sebuah tepukan mendarat di bahu saya. Di sebelah saya, berdiri Umma (ibu mertua) menggumamkan sesuatu dalam bahasa Malayalam. menyuruh saya mengenakan kerudung karena adhaan tengah berkumandang. Saya bergeming dan pura-pura tidak mengerti, duduk diam sambil mendengarkan adhaan yang masih belum selesai. Umma mulai mengomel dan semakin marah-marah, dengan enggan akhirnya saya memilih masuk ke kamar saja, dan tetap menolak pakai kerudung =P

Actually, it is completely an innovation that women should cover their hair during adhaan even at home, when there's no non-mahram around her. And because I'm basically a rebel, saya menolak patuh pada hal-hal nggak berdasar seperti itu. Waktu akhirnya Ka Salam masuk kamar untuk sholat maghrib dan bertanya kenapa muka saya berkerut-kerut, saya ngomel-ngomel dan minta dia mencarikan ayat atau hadis berisi perintah memakai kerudung saat adhaan. Setelah dicari-cari ternyata memang nggak ada dalil seperti itu, seketika itu pun saya merasa menang *evilsmirk*.

"It's even okay for you to not cover your hair when you recite Qur'an," kata Ka Salam menatap hp dengan pengetahuan baru, yang mana sebenarnya saya juga baru tahu. :D

Rupa-rupanya, dilema mengenai hukum memakai kerudung saat adhaan merupakan hal umum yang telah banyak di bahas dalam forum-forum keagamaan. Setidaknya, itu lah yang banyak terjadi di India.
In India, they frown when you don't cover your hair when you hear adhan (even if alone or with sisters) while they move around with their hair uncovered all day.They don't listen and answer the adhan but continue with their gossips but yes they think they are always right coz they hv pulled the dupatta over their head.

Saya tersenyum membaca salah satu komentar, it speaks what's in my mind this whole time, clear and loud. Nggak masalah, kalau perempuan kesana-kemari tanpa hijab, bahkan meski itu di depan non-mahram sekalipun, but once you hear adhaan, you really have to sprint inside house to grab your hijab, and instead of listen and answer the adhaan they freely continue their gossip and useless talks.

Gimana saya nggak gregetan kan? Yang jelas-jelas sunnah malah ditinggalin, yang nggak jelas juntrungannya malah dipegang teguh. Malah ada banyak kasus (yang mana saya juga mengalami) dimana ibu atau sanak saudara mereka jauh lebih marah saat mereka enggak menutup rambut ketika adhaan dibanding ketika di hadapan laki-laki bukan mahram. Singkatnya, pake kerudung waktu adhaan itu lebih wajib daripada lo pake kerudung di depan cowok bukan muhrim. What a truly, completely, dumbly, nonsense. In fact, itu lah yang dipraktekan oleh kedua kakak ipar saya *miris*

Tapi memang kalau soal yang aneh-aneh gitu, ada banyak banget di India. Setidaknya di tempat saya tinggal sekarang, kurang tahu sih kalau di India bagian lain karena meskipun udah tinggal di sini setengah tahun lebih tapi pergaulan saya bagaikan katak dalam tempurung. Kekekeke...
Nah supaya afdol, berikut saya bahas beberapa hal yang menurut saya aneh tapi menarik di India.

Tradisi pingit sepulang haji/umrah.

Selain aturan harus pake kerudung saat adhan, ada lagi nih aturan yang sampai saat ini saya masih nggak ngerti. Perempuan yang baru pulang dari haji atau umrah harus dipingit selama satu bulan. 
Kenapa? Ada apa dengan perempuan yang baru balik dari tanah haram? Kenapa harus dipingit? Mesti banget apa satu bulan nggak boleh keluar rumah? Yah, saya sih juga nggak terlalu ngerti, tapi pasalnya, perempuan yang baru balik dari haji atau umrah itu nggak boleh kelihatan sama orang lain setidaknya selama 30 hari. Tradisi yang lucu menurut saya, baru liat pertama kali ibu-ibu sama nenek-nenek dipingit, hehe.. ya, mungkin supaya terhindar dari acara ngegosip di rumah tetangga.

Selain harus dipingit, perempuan yang baru pulang dari haji/umrah juga harus menahan diri dari hal-hal berbau hiburan. Nggak boleh nonton tv, nggak boleh denger musik, sinetron apalagi acara gosip. Anehnya, aturan ini cuma berlaku untuk perempuan aja, sementara Moothappa (saudara laki-laki ayah mertua) yang menjalankan ibadah umrah bareng bumer bisa bebas pergi kemanapun, kapanpun dan bebas melakukan apapun. Nah, loh.

Perempuan jangan ke mesjid.

Saking banyaknya mesjid dan rombongan anak-anak yang pergi ke madrasa, kadang-kadang saya lupa kalau jumlah penduduk muslim di Kerala sebenarnya nggak lebih dari 27% (55% penganut hindu, 18% kristen, dan sangat sedikit yang memilih untuk tidak mengimani apapun). Tapi khusus di  Malappuram jumlah muslim memang masih jauh lebih banyak dibandingkan penganut agama hindu jadi nggak heran, kalau di sini jumlah mesjid sama banyaknya dengan jumlah kuil.

Sayangnya, rata-rata mesjid di Malappuram nggak women friendly. Saya kurang tahu sih gimana di daerah lain, tapi dari pengalaman, saya jaraaaangg banget ketemu mesjid yang menyediakan tempat sholat khusus wanita. Dan di sini, yang mana kalo kamu kondangan aja perempuan sama laki-laki makannya kudu beda ruangan, apalagi kalo sholat kan. Mau nekad numpang sholat campur sama jemaah cowok? siap-siap aja bakal diliatin dari ujung kepala sampai ujung kaki atau ditegur sama Imam.

Sekarang saya baru faham kenapa dulu waktu bumer dan kakak-kakak ipar berkunjung ke Makassar buat ngelamar, tiap kali diajakin ke mesjid buat sholat pasti tatapannya langsung berubah horor gitu. Saya selalu menangkap kesan berat hati dan pertanyaan yang mereka keluarin selalu sama, "disana ada mukena?"

Little did i know, kalau ternyata di sini perempuan tidak terbiasa sholat di mesjid. Bahkan di lingkungan tempat saya tinggal, sangat jarang perempuan yang ikut sholat hari raya. Duh, padahal kan yang bikin afdol lebaran itu sholat hari rayanya kan, selain ketupat dan opor tentunya, hehehe.

Yang jelas sejauh ini baru tiga mesjid women friendly yang saya temui. Di sini saya nggak ngomongin fasilitas dan kenyamanan ya, yang tempat sholat sama wudhunya di pisah cewek-cowok atau apalah itu, secara dibolehin numpang sholat aja udah syukur ;p

Pertama kali saya ngerasain sholat di luar rumah itu waktu ketemu mushalla di rooftop mall paling besar di Calicut dan ruangannya kayak dua bangunan terpisah gitu. Jadi otomatis, cewek-cewek nggak bisa ikut sholat jemaah bareng cowok, wong beda bangunan, imamnya nggak keliatan, hehe Kalau lagi beruntung, sebenarnya ada mesjid yang membolehkan traveller wanita untuk numpang sholat di sana (dan itu biasanya di tulis di luar bangunan mesjid). Tapi so far, saya baru ketemu mesjid kayak gitu satu biji doang.

Tanda hitam di wajah anak kecil.

Sebagai pelahap bayi, batita dan balita, tradisi ini bikin saya cukup kecewa. Gimana enggak, anak-anak yang harusnya lucu-lucu dan gemesin jadi kelihatan nyeremin gara-gara si tanda hitam ini ;'(. Hampir semua bayi-bayi di India, baik dari keluarga muslim maupun hindu pasti dibikinin tompel buatan ini di mukanya, entah itu di jidat, pipi, dagu dan area lain yang mudah terlihat orang. Tujuannya? tentu biar si anak keliatan jelek, nggak lucu, dan nggak menarik. Katanya sih, ini untuk menghindari 'evil eyes'
Sejujurnya saya lebih serem liat alisnya dari pada tanda hitam di pipi kiri si bayi.
Invasion of eyebrows in the whole other level. Pfftt..

Dari yang saya tahu, evil eyes dikenal dalam islam sebagai penyakit 'ain ('ayn al hasad) atau penyakit mata (cmiiw). Untuk menghindarinya kita dianjurkan mengucapkan Masha Allah atau Tabarakallah saat memberikan pujian pada orang lain. Selain itu, membaca surah al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas, juga dipercaya dapat menangkal penyakit 'ain ini.

Pada kenyataannya hampir setiap tempat punya kepercayaan (tentunya dengan versinya masing-masing) mengenai evil eyes ini, termasuk kebudayaan Roma dan Yunani. Masing-masing tempat dan budaya punya sebutan sendiri untuk evil eyes beserta macam-macam jimat penangkalnya. Selengkapnya soal evil eyes bisa lah dibaca-baca sendiri di wikipedia, tapi yang pasti India termasuk penganut keras fenomena evil eyes. Sampai-sampai segala macam ketidakberuntungan hampir pasti akan dikaitkan dengan evil eyes. Batuk dikit langsung curiga ada yang evil eyes, ayam ilang? siapa sih nih yang evil eyes, rambut rontok, kulit item, muka kusam, kaki kurapan? udah pasti semua gara-gara evil eyes.

Bukan apa-apa sih, tapi saya jadi merasa kok ya orang-orang sini (termasuk suami saya, haha) hobi banget kege-eran, seolah-olah tuh seisi dunia iri sama mereka. Padahal ya menurut saya, batuk itu karena virus, ayam ilang karena linglung, rambut rontok, kulit item, muka kusam dan kaki kurapan itu karena mandi yang kurang rajin =P

Nah, di Kerala, selain menggambar titik hitam di wajah untuk menangkal evil eyes biasanya anak kecil akan dipakaikan jimat berupa tali yang diikat di pinggang dan di dalamnya terdapat ayat-ayat tertentu. Jimat ini harus dipakai terus menerus (tidak boleh dilepas sama sekali bahkan untuk ke kamar mandi sekalipun) hingga si anak mencapai usia tertentu.

Duh, aslinya saya paling nggak demen sama jimat-jimatan kayak gini. Selain nggak enak dilihat, salah-salah jadi praktek syirik. Tapi susah sih ngerubah sesuatu yang udah jadi budaya. Biasanya, kalo tiba-tiba salah satu dari saya atau Ka Salam jatuh sakit, Umma pasti bakal nyiapin garam batu, cabe merah kering sama entah apa lagi yang kemudian dibungkus kain terus gumpalan itu bakal diputerin di kepala kita sambil mulutnya komat-kamit baca surat al-fatihah. Kalau udah gitu, saya sama Ka Salam bakal liat-liatan sambil nahan ketawa, terus Umma yang tahu kalau lagi kita ledekin bakal cengar-cengir sambil tetep komat-kamit, lalu pergi ke dapur buat bakar gumpalan tersebut. Padahal ya kalau mau baca surat al-fatihah ya baca aja nggak usah pake bungkusan aneh-aneh terus dibakar, tapi ya balik lagi ke budaya tadi. Susah untuk ngerubah sesuatu yang udah mengakar.

Kadang-kadang, Ka Salam juga sering ngasih tahu, kalau praktek kayak gitu tuh nggak ada dalilnya. Kalau kami tantangin beliau buat nanya dalilnya ke Imam, pasti Umma jawabnya, "I don't have any courage to do that, maybe Imam will kick me out," terus kabur sambil cengengesan. Yasudahlah.

Sebenernya masih banyak banget hal-hal yang aneh tapi menarik di sini. Tapi cuma bahas tiga biji beginian aja saya nulisnya makan waktu dua hari, haha.. Biar yang baca juga nggak puyeng, Insya Allah nanti bakal saya bikinin part dua nya ya.

Ciao!

Monday, December 12, 2016

Rabiul Awwal

Cuaca Kerala hari ini luar biasa maknyuss. Mendung asyik sepoi-sepoi gitu. Dari pagi rumah sebelah udah rame sama suara bocah-bocah yang libur maulid nabi, dan lagu-lagu shalawatan hingar bingar dimana-mana. Tadi malem waktu keluar bentar cari angin sama suami, jalan juga luar biasa rame sama pawai lelaki-lelaki berbaju kurung putih, sama anak-anak kecil juga sih. Bahkan adek ipar baru pulang jam 3 pagi, dia sih memang king of festival, kadang kalo pas lagi rame festival Hindu juga dia nongkrong di deket kuil dan baru pulang jam 3-4 pagi, beda banget sama suami saya yang anak baik-baik. :D

Tapi memang bulan ini Kerala lagi banyak yang seru. Minggu lalu baru aja ada festival agama Hindu juga, ada pawai gajah-gajah di sepanjang jalan raya. Jadi macet dan bau juga sih karena mereka pup di sepanjang jalan, tapi saya yang pengalamannya cuma liat gajah di kebun binatang mau nggak mau histeris juga. Gilaaaa saya nggak pernah seumur hidup ngeliat gajah sedekat itu sebelumnya, pas banget berdiri di sebelah saya yang lagi naik motor.

Saking terpesonanya sama itu gajah saya sampe hampir nangis karena nggak dibolehin foto.

Oiya, menyambut Rabiul Awwal masjid-mesjid jadi  meriah dipasangin lampu-lampu, tadi pagi juga ada pawai lagi cuma nggak tahu deh itu pawai apaan karena saya lagi sibuk bikin ayam kari jatah daging dari masjid. :D Ngomong-ngomong soal ayam kari, sejak ditinggal ibu mertua yang lagi umrah bersama Safiya Travels, saya resmi naik level dari yang tadinya cuma sekedar assisten kupas-kupas bahan dan nonton bumer nyemplung-nyemplungin bumbu sekarang saya udah jadi tokoh utama di dunia perdapuran dooonggg. Saya makin sadar kalo ternyata masak masakan India itu nggak seribet masak masakan Indonesia. Nggak seribet bukan berarti lebih gampang. Masakan India itu agak tricky, jadi mesti hati-hati cuman step by stepnya nggak sebanyak kalo masak masakan Indo. Mungkin karena di sini semua bumbunya udah pada jadi so cuma tinggal nyemplung-nyemplungin aja, hihihi..

Duh, gaya banget yak saya baru beberapa kali masak aja udah sok pinter gitu. Ini nih saya post aja foto ayam kari buatan saya ya biar nggak pada dikira hoax. 

Suwer loh ini saya bikinnya bukan pake bumbu-bumbu kare Instan Indofood =D

Resep menyusul yah :)

Selamat Maulid Nabi :D

UA-111698304-1