Showing posts with label perempuan. Show all posts
Showing posts with label perempuan. Show all posts

Tuesday, January 02, 2018

Merencanakan Kehamilan Dengan KB Kalender.

Desclaimer: blogpost mengandung unsur semi-dewasa, untuk itu diharapkan kebijakan para pembaca, khusus untuk readers para mamak, pengantin baru dan anak gadis cukup umur yang telah dilamar. Uhuk!

Beberapa hari lalu saya sempat dapat pesan whatsapp dari salah satu member grup kesehatan wanita yang saya ikuti. Pertanyaan mengenai KB kalender.

KB kalender? Apa itu? Sebenarnya istilah KB kalender hanya penamaan dalam bahasa Indonesia untuk merujuk sistem kontrasepsi alami dengan menggunakan kalender sebagai acuannya. Karena pembuahan memang hanya dapat terjadi pada saat masa subur (kira-kira beberapa hari sebelum atau sesudah hari ke-14 dari haid yang akan datang) maka pasangan yang memakai metode ini harus menghindari hubungan badan pada waktu-waktu tersebut.

Sebelum menikah pada Juli 2016 lalu, saya sama Ka Salam memang berencana menunda momongan. Menyimak pengalaman beberapa sahabat yang baru menikah, entah kenapa kita berdua takut banget kebablasan. Ye gimana, tabungan kita belum cukup sih, selain itu saya sama Ka Salam juga masih galau mau settle di Indonesia atau India.

Sunday, May 21, 2017

#INDIANSPOUSE: Perempuan Dalam Pernikahan


Love Marriage or Arranged Marriage?

Ini pertanyaan paling umum yang kerap dilontarkan kepada pasangan suami-istri. Umumnya pasangan suami-istri di India memang dijodohkan yang mana dari beberapa aspek nggak sepenuhnya merugikan. Pernikahan yang diatur (arranged marriage) pada dasarnya dilakukan akibat tradisi pacaran yang masih dipandang tabu bagi sebagian besar komunitas di India, khususnya komunitas muslim. Haram, kalo suami saya bilang, padahal mah dia sendiri juga pacaran :P

Dalam keluarga hindu, sistem perjodohan cenderung lebih saklek karena terkait dengan ilmu perbintangan dalam kepercayaan mereka. Jadi kalo ada perempuan sama laki-laki saling suka tapi ramalan bintang mereka buruk, ya bye-bye deh. Ada juga yang bisa disiasati dengan ritual buang sial, contoh: menikahi binatang atau tumbuhan agar kesialannya jatuh ke suami/istri pertama (si binatang/tumbuhan) baru kemudian si gadis bisa menikahi orang biasa.


Saya nggak tahu banyak kasus dalam keluarga hindu, cuma kayaknya kasus pemberontakan memang  lebih jarang. Buktinya lihat aja komunitas hindu-India yang bermigrasi ke Indonesia, rata-rata keturunannya masih dinikahkan dengan orang-orang sesama imigran tanah Hindustan. Berbeda dengan keluarga Islam atau Kristen yang beberapa telah memberi kebebasan memilih pasangan hidup ke anak-anak mereka, contoh terdekat ya keluarga suami saya. hehe..

Meskipun bukan berarti love marriage itu bisa didapat begitu saja, tentu ada dramanya masing-masing. Haha.. ibarat nonton film shahrukh khan tapi nggak ada adegan bergoyang kan kurang afdol, ye nggak?

Sesama orang Indonesia yang menikahi pria India pasti mengerti banget soal ini, Ada yang awalnya nggak disetujui sampe harus kawin lari. Nikah di negara ketiga dan baru direstui mertua sampe dah beranak tiga.

Adaaa cerita kayak gitu mah.

Belum lagi cewek-cewek Indo yang nangis bombay karena hubungan kandas akibat si cowok India takut nggak dapet warisan keluarga. Nah yang kayak gini sih biarin aja lepas, itu tandanya si cowok emang nggak bener-bener cinta kamu, sis.

Nggak usah jauh-jauh pernikahan Indian-Foreigner ya, kakak kedua suami saya aja yang nikah dengan sesama india muslim pake acara kawin lari hampir setahun karena keluarga si cowok nggak setuju. Aroma kawin lari juga mulai tercium pada salah satu sepupu Ka Salam yang baru 18 tahun, duh, dek! Belom juga dapet ijazah tapi ortunya udah gencar nyariin dia calon suami.

Nah masalahnya si adek ini udah punya cowok tapi si bapake kurang sreg. Alesannya rumahnya kecil lah, apa lah, ya di satu sisi dapat dipahami, mungkin si Om pengen anak perempuannya hidup enak, karena banyak juga kasus menantu perempuan yang malah di-abuse dan disuruh kerja banyak sementara mertua santai-santai. Tapi kan di sisi lain, kalau memang mau anaknya hidup nyaman kenapa nggak ortunya aja yang ngurusin? kenapa ngebet buru-buru mau dinikahin?

Nah, lho.

Lah, memangnya kalo udah nikah harus sama mertua ya, Mel? Nggak bisa tinggal mandiri?

Ini satu lagi pertanyaan yang sering saya dapetin, emang harus tinggal sama mertua?
Yah, umumnya sih gitu. Kalau cewek-cewek India sih udah mengerti betul tradisi itu, jadi ya bagi mereka tinggal sama mertua itu ya udah sewajarnya. Kecuali kalau suami mereka kerja di gulf country (negara-negara timur tengah) dan mereka bisa ikut suami, ya biasa mereka ngikut. Tapi banyak juga kasus daughter in-law yang tetep tinggal sama mertua sementara suaminya kerja di gulf.

Loh, kok gitu? Yaiyalah, kan katanya setelah menikah perempuan itu milik suaminya sementara si suami masih milik ibu yang melahirkannya, jadi semisal si kangmas kudu ke negara lain buat cari nafkah, si istri ya tetep sama mertuanya dong. Ye nggak?

Nggak sependapat? Saya juga enggak sih, hehe..

Tapi kan berbeda pendapat bukan berarti harus menyalahkan pendapat yang lain. Nyatanya cewek-cewek India sendiri kebanyakan terima-terima aja, walaupun saya tahu banget beberapa dari mereka menerima itu sebagai unconveniece circumstances yang harus mereka jalani dengan tabah karena memang sudah "kodrat"-nya. Nggak heran kan, rumah orang India itu besar-besar, ya namanya juga rumah untuk tiga generasi, hehehe..

Walaupun sebenarnya di kultur Indonesia ada juga tradisi yang hampir mirip. Misalnya saja dalam kultur masyarakat batak dimana anak perempuan harus mengikuti keluarga suami sebagai ganti sinamot (mahar) yang telah dibayarkan laki-laki ke keluarga perempuan.

Baca juga: Hari Kartini & Kebebasan Perempuan

Ya tapi kan kalo di India si cewek yang bayar dowry (mahar) ke cowok, kok kayaknya gitu banget, udahlah habis ratusan juga buat dowry eh masih harus pisah sama orang tua sendiri. Sedih ya. Ini sumpah saya sedih loh, serius, bukannya nyinyir. Saya mah ngapain nyinyir, orang saya nikah tapi menang banyak. Mau nyinyir pun nggak ada hak.

Kalau pun ada yang mau saya nyinyirin, saya cuma mau nyinyir keputusan mahkamah agung India yang akan mengabulkan tuntutan cerai seorang suami apabila istrinya memaksa tinggal berpisah dari orangtuanya yang lanjut usia. Silahkan cek beritanya di The Hindu: India grants divorce to man whose wife refused to live with in-laws.

dan keputusan mahkamah agung ini memang terbukti kontroversial kan
buktinya yang nyinyirin juga banyak

Eh tapi ada juga kok yang nggak bayar dowry dan nggak tinggal sama mertua, contohnya ya kakak ipar saya, padahal setelah dapet restu, mertuanya beberapa kali udah minta dia untuk tinggal sama mereka sementara suaminya kerja di Qatar, tapi si kakak ipar lebih milih ngontrak rumah dan mengabaikan nyinyir para tetangga.

Banyak ibu-ibu Indonesia yang menikah dengan sesama Indian pun begitu. Umumnya mereka memilih hidup terpisah dengan mertua, walaupun ada juga yang nggak masalah tinggal sama mertuanya. Lagi-lagi itu kembali ke pilihan masing-masing. Nggak semua mertua India itu segalak ibunya Baldev di serial Veera ya.

Baldev, Veera dan Bumer nyinyir



Friday, April 21, 2017

Hari Kartini & Kebebasan Perempuan

Jujur saja, dulu saya juga sering ikut nyinyir dalam kontroversi Hari Kartini.
Kenapa Kartini? Apa hebatnya Kartini? Apa yang luar biasa dari berbalas surat dengan para penjajah sementara kita punya Cut Nyak Dhien yang bertempur melawan penjajah. Tidakkah perempuan dengan tombak sudah pasti lebih keren dibanding perempuan dengan pena?

Begitu pikir saya dulu.

Baru saat menonton film Kartini dua hari lalu rasanya pikiran saya terbuka. (Baca review lengkap film Kartini disini) Alasan kenapa hari Kartini perlu ada.

Sebab bukankah setiap pertempuran punya perangnya masing-masing. Cut Nyak Dhien lahir 31 tahun lebih dulu ketimbang Kartini tetapi Cut Nyak Dhien jelas-jelas telah memiliki kemewahan ikut bertempur di medan perang sementara Kartini masih terpasung dalam pakem perempuan lahir-pingit-menikah-mati.

Singkatnya Cut Nyak Dhien telah merdeka lebih dahulu. Cut Nyak Dhien bahkan punya pilihan menolak pinangan Teuku Umar sementara Kartini yang puteri bupati masih harus rela berjalan jongkok untuk menemui ayahnya. Lantas pertempuran macam apa yang harus diperjuangkan perempuan-perempuan jawa yang kastanya sudah otomatis jatuh di bawah laki-laki bahkan sebelum mereka dilahirkan?

Saat tinggal di Malappuram saya sering memperhatikan perempuan-perempuan yang saya temui. Apa rasanya hidup menjadi mereka? diajari cara mengurus rumah semenjak kecil, lalu dinikahkan saat berumur 18 tahun. Tak perlu sekolah tinggi-tinggi, perempuan cukup pandai mengurus rumah dan mengenyangkan perut suami. Kebanyakan bahkan nggak bisa memilih ingin menikahi siapa. Lalu setelah itu mereka diboyong ke tempat mertuanya, memasak, menyapu dan mengepel rumah.

Apa rasanya?

Sudah gitu masih pakai terlilit hutang bank untuk biaya dowry segala. Susah payah minta izin hanya untuk main ke rumah orang tua sendiri tapi saat mereka hamil, mereka dipulangkan ke orangtuanya untuk "beristirahat". Bahkan saat menulis ini aja saya kepingin nangis.

Seperti mesin pencuci baju yang di'istirahat'kan dulu saat lagi macet. Begitukah?

Mereka bilang itu tradisi.
Mungkin selamanya saya nggak akan bisa mengerti bagaimana mereka bisa hidup seperti itu. Apa artinya bernafas tiap hari dalam tradisi yang mengekang? Mungkin selamanya saya nggak akan bisa paham.

Masih terasa jelas juga tatapan iri mereka saat tahu pernikahan saya atas dasar cinta. Nggak banyak perempuan India di daerah saya yang memiliki kemewahan semacam itu. Salah satu tetangga yang sedang hamil 5 bulan mengelus perutnya sambil menatap saya sendu, "saya dulu juga punya pacar tapi orangtua saya nggak setuju,"

Entah kenapa tiba-tiba saya sangat bersyukur Indonesia punya Kartini.

Perjuangan Kartini adalah perjuangan membebaskan perempuan. Kebebasan baginya mungkin cuma nggak perlu capek jalan jongkok dan bisa menuntut ilmu. Kebebasan bagi perempuan Malappuram mungkin hanyalah hak membuat pilihan. Kelihatan sepele, but that's the luxury they can't afford.

Pada akhirnya perang melawan penjajah memang tidak bisa dibilang mudah, tapi bukankah perjuangan melawan akar tradisi kita sendiri juga termasuk perang?

Yang mungkin -mungkin loh ya- sedikit lebih sulit.

Karena membenci orang lain itu mudah, tapi apa yang lebih sulit dari harus membenci bagian dari diri kita?

Untuk itu lah saya rasa Hari Kartini perlu ada, untuk mengabadaikan sosok Kartini yang mati muda dan semoga inspirasi Kartini tetap hidup dalam diri kita.

Selamat ulang tahun, Kartini.




UA-111698304-1